Jangan Dekati Zina
Oleh : Imam Ibnu Qayyim Al-jauziyah
Setiap kejadian musibah (praktek zina) itu bermula dari pandangan, seperti kobaran api berasal dari percikan api yang kecil.
Betapa banyak pandangan yang berhasil menembus ke dalam hati pemiliknya,
seperti tembusnya anak panah yang di lepaskan dari busur dan talinya.
Seorang hamba, selama dia masih mempunyai kelopak mata yang dia gunakan
untuk memandang orang lain, maka dia berada pada posisi yang
membahayakan.
(Dia memandang hal-hal yang) menyenangkan matanya tapi membahayakan
jiwanya, maka janganlah kamu sambut kesenangan yang akan membawa
malapetaka.
Bila -suatu hari- engkau lepaskan
pandangan matamu mencari (mangsa) untuk hatimu, niscaya apa-apa yang
dipandangnya akan melelahkan (menyiksa) diri kamu sendiri.
Engkau melihat sesuatu yang engkau tidak mampu untuk melihatnya secara
keseluruhan dan engkau juga tidak bisa bersabar untuk tidak melihat
(walau hanya) sebagian dari sesuatu itu.
Wahai orang yang memandang, tidaklah dia
sampai tuntas menyelesaikan pandangannya, sehingga dia sendiri akan
menjauh dan jatuh binasa karena pandangan-pandangannya sendiri.
(Mungkin) dia sudah bosan selamat, hingga dia biarkan pandangannya menyaksikan apa yang menurutnya indah.
Begitulah; dia terus melanjutkan satu pandangan de- ngan pandangan yang
lain, sehingga akhirnya dia menjauh dan jatuh binasa karena
pandangan-pandangannya sendiri.
Wahai orang yang dengan sungguh-sungguh
melempar anak panah pandangannya; Engkaulah sebenarnya yang menjadi
korban dari apa yang kamu lempar itu dan engkau tidak berhasil membidik
orang yang engkau pandang.
Dan orang selalu melepas pandangannya, dia akan kehilangan kesehatannya.
(Oleh karena itu) kurunglah pandanganmu itu, jangan sampai dia
mendatangkan musibah kepadamu.
Kau senantiasa mengikutkan satu pandangan dengan pandangan lainnya untuk menyaksikan (wanita) cantik dan (pria) tampan.
Dan kau mengira bahwa itu dapat mengobati luka (syahwat)mu, padahal, dengan itu berarti kau menoreh luka di atas luka.
Kau korbankan matamu dengan pandangan dan tangisan, sementara hatimu juga (menjerit seperti) disembelih habis-habisan.
“Sesungguhnya menahan pandangan hatimu itu lebih mudah daripada menahan langgengnya penyesalan”.
Bahaya Zina
Melihat bahwa bahaya yang ditimbulkan oleh praktek zina merupakan
bahaya yang tergolong besar, dan praktek tersebut juga bertentangan
dengan aturan universal yang diberlakukan untuk menjaga kejelasan nasab
keturunan, menjaga kesucian dan kehormatan diri, juga mewaspadai hal-hal
yang menimbulkan permusuhan serta perasaan benci di antara manusia
disebabkan pengrusakan terhadap kehormatan isteri, putri, saudara
perempuan dan ibu mereka. Dan ini jelas akan merusak tatanan kehidupan.
Melihat hal itu semua, pantaslah bahaya praktek zina itu -bobotnya-
setingkat di bawah praktek pembunuhan. Oleh karena itu, Allah I
menggandeng keduanya di dalam Al-Qur’an dan juga Rasulullah dalam
keterangan hadits beliau.
Al-Imam Ahmad berkata: “Aku tidak mengetahui sebuah dosa -setelah
dosa membunuh jiwa- yang lebih besar dari dosa zina.” Dan Allah
menegaskan pengharamannya dalam firmanNya:
“Dan orang-orang yang
tidak menyembah tuhan lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang
diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan
tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia
mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan adzab
untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam
keadaan terhina kecuali orang-orang yang bertaubat …” (Al-Furqan: 68-70).
Dalam ayat tersebut, Allah menggandengkan zina dengan syirik dan
membunuh jiwa, dan vonis hukumannya adalah kekal dalam adzab berat yang
berlipat ganda, selama pelakunya tidak menetralisir hal tersebut dengan
cara bertaubat, beriman dan beramal shalih. Allah I berfirman:
“Dan
janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu
perbuatan yang keji (fahisyah) dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra’: 32).
Di sini Allah menjelaskan tentang kejinya praktek zina dan kata
“fahisyah” maknanya adalah perbuatan keji atau kotor yang sudah mencapai
tingkat yang tinggi dan dapat diakui kekejiannya oleh setiap orang
berakal bahkan oleh sebagian banyak binatang, sebagaimana disebutkan
oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Amr bin Maimun Al-Audi, dia
berkata: “Aku pernah melihat -pada masa jahiliyah- seekor kera jantan
yang berzina dengan seekor kera betina. Lalu datanglah kawanan kera
mengerumuni mereka berdua dan melempari keduanya sampai mati.”()
Kemudian Allah juga memberitahukan bahwa praktek zina adalah
seburuk-buruk jalan; karena merupakan jalan kebinasaan, kehancuran dan
kehinaan di dunia, siksaan dan azab di akhirat nanti. Dan karena
menikahi mantan isteri-isteri ayah itu termasuk perbuatan yang sangat
jelek sekali, Allah I secara khusus memberikan “cela” tambahan bagi
praktek menikahi isteri orang tua. Allah berfirman (setelah secara tegas
melarang kaum muslimin untuk menikahi isteri-isteri ayah mereka, pent):
“Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).” (An-Nisa’: 22).
Allah I juga menggantungkan keberuntungan seorang hamba pada
kemampuannya dalam menjaga “kehormatan”nya. Tak ada jalan menuju
keberuntungan tanpa menjaga “kehormatan”. Allah berfirman:
“Sesungguhnya
beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyu’
dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan
dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang me- nunaikan
zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya kecuali terhadap
isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya
mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik
itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Mukminun: 1-7).
Dalam ayat-ayat ini ada tiga hal yang diungkapkan, yaitu,
pertama, bahwa orang yang tidak menjaga kemaluannya, tidak akan termasuk
orang yang beruntung, kedua , dia akan termasuk orang yang tercela, dan
ketiga, dia termasuk orang yang melampaui batas. Jadi, dia tidak akan
mendapat keberuntungan, serta berhak mendapat predikat “melampaui batas’
dan jatuh pada tindakan yang membuatnya tercela, padahal beratnya beban
dalam menahan syahwat itu, lebih ringan ketimbang menanggung sebagian
akibat yang disebutkan tadi.
Selain itu pula, Allah telah menyindir manusia yang selalu berkeluh
kesah, tidak sabar dan tidak mampu me- ngendalikan diri saat mendapatkan
kebahagiaan, demikian pula kesusahan. Bila mendapat kebahagiaan, dia
menjadi kikir, tak mau memberi, dan bila mendapat kesusahan, dia banyak
mengeluh. Begitulah sifat umum manusia, kecuali orang-orang yang memang
dikecualikan dari hambaNya, yang diantaranya adalah mereka yang disebut
di dalam firmanNya :
“Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya,
kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka
miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.
Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang
yang melampaui batas.” (Al-Ma’arij: 29-31).
Oleh karenanya, Allah ymemerintahkan Rasulullah r untuk memerintahkan
orang-orang mukmin agar menjaga pandangan dan kemaluan mereka, juga
diberitahukan kepada mereka bahwa Allah yselalu menyaksikan amal
perbuatan mereka.
“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (Ghafir: 19).
Dan karena ujung pangkal dari perbuatan zina yang keji ini dari
pandangan mata, maka Allah ylebih mendahulukan perintah untuk
memalingkan pandangan mata sebelum perintah untuk menjaga kemaluan,
karena banyak musibah besar yang asal muasalnya adalah dari pandangan;
seperti kobaran api yang besar asalnya adalah percikan api yang kecil.
Mulanya
hanya pandangan, kemudian khayalan, kemudian langkah nyata, kemudian
terjadilah musibah yang merupakan kesalahan besar(zina).
Oleh karenanya, ada yang mengatakan, bahwa
barangsiapa yang
bisa menjaga empat hal maka berarti dia telah menyelamatkan agamanya:
Al-Lahazhat (pandangan pertama), Al-Khatharat (pikiran yang melintas di
benak), Al-Lafazhat (lidah dan ucapan), Al-Khathawat (langkah nyata
untuk sebuah perbuatan).
Dan seyogyanya, seorang hamba Allah itu bersedia untuk menjadi penjaga
dirinya dari empat hal di atas dengan ketat, sebab dari situlah musuh
akan datang menyerangnya, merasuk ke dalam dirinya dan merusak segala
sesuatu.
Empat Pintu Masuk Maksiat Pada Hamba
Sebagian besar maksiat itu terjadi pada seorang hamba melalui empat
pintu yang telah kita sebutkan di atas. Sekarang, marilah kita ikuti
pembahasan tentang empat pintu tersebut di bawah ini:
Al-Lahazhat (Pandangan Pertama)
Yang satu ini bisa dikatakan sebagai ‘provokator’ syahwat atau
‘utusan’ syahwat. Oleh karenanya, menjaga pandangan merupakan pokok
dalam usaha menjaga kemaluan. maka barangsiapa yang melepaskan
pandangannya tanpa kendali, niscaya dia akan menjerumuskan dirinya
sendiri pada jurang kebinasaan.
Rasulullah bersabda:
“Janganlah kamu ikuti pandangan (pertama) itu dengan
pandangan (berikutnya). Pandangan (pertama) itu boleh buat kamu, tapi
tidak dengan pandangan selanjutnya.”()
Dan di dalam Musnad Imam Ahmad, diriwayatkan dari Rasulullah :
“Pandangan itu adalah panah beracun dari panah-panah
iblis. Maka barangsiapa yang memalingkan pandangannya dari kecantikan
seorang wanita, ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberikan di
hatinya kelezatan sampai pada hari Kiamat.”() Inilah kurang lebih makna
hadits tersebut.
Beliau juga bersabda:
“Palingkanlah pandangan kalian dan jagalah kemaluan kalian.”()
Dalam hadits lain beliau bersabda:
“Janganlah kalian duduk-duduk di (tepi-tepi) jalan.”
Mereka berkata: “Ya Rasulullah, tempat-tempat duduk kami pasti di tepi
jalan.” Beliau bersabda: “Jika kalian memang harus melakukannya, maka
hendaklah memberikan hak jalan itu.” Mereka bertanya: “Apa hak jalan
itu?” Jawab beliau: “Memalingkan pandangan (dari hal yang dilarang
Allah, pent), menyingkirkan gangguan dan menjawab salam.”()
Pandangan adalah asal muasal seluruh musibah yang menimpa manusia.
Sebab, pandangan itu akan melahirkan lintasan dalam benak, kemudian
lintasan itu akan melahirkan pikiran, dan pikiran itulah yang melahirkan
syahwat, dan dari syahwat itu timbullah keinginan. Kemudian keinginan
ini menjadi kuat dan berubah menjadi niat yang bulat. Akhirnya, apa yang
tadinya hanya melintas dalam pikiran menjadi kenyataan dan itu pasti
akan terjadi selama tidak ada yang menghalanginya. Oleh karenanya,
dikatakan oleh sebagian ahli hikmah, bahwa: “Bersabar dalam menahan
pandangan mata (bebannya) adalah lebih ringan dibanding harus menanggung
beban penderitaan yang ditimbulkannya.”
Seorang penyair mengatakan:
Setiap kejadian musibah (praktek zina) itu bermula dari pandangan, seperti kobaran api berasal dari percikan api yang kecil.
Betapa banyak pandangan yang berhasil menembus ke dalam hati pemiliknya,
seperti tembusnya anak panah yang di lepaskan dari busur dan talinya.
Seorang hamba, selama dia masih mempunyai kelopak mata yang dia gunakan
untuk memandang orang lain, maka dia berada pada posisi yang
membahayakan.
(Dia memandang hal-hal yang) menyenangkan matanya tapi membahayakan
jiwanya, maka janganlah kamu sambut kesenangan yang akan membawa
malapetaka.
Di Antara Bahaya Pandangan
Yaitu pandangan yang dilepaskan begitu saja itu dapat menimbulkan
perasaan gundah, tidak tenang dan hati yang terasa dipanas-panasi.
Seseorang bisa saja melihat sesuatu, yang sebenarnya dia tidak mampu
untuk melihatnya secara keseluruhan, namun dia tidak sabar untuk
melihatnya. Tentu, merupakan siksaan yang berat pada batin Anda bila
ternyata Anda melihat sesuatu yang Anda tidak bisa sabar untuk tidak
melihat walaupun sebagian dari sesuatu tersebut, namun Anda juga tidak
mampu untuk melihatnya.
Seorang penyair berkata:
Bila -suatu hari- engkau lepaskan pandangan matamu
mencari (mangsa) untuk hatimu, niscaya apa-apa yang dipandangnya akan
melelahkan (menyiksa) diri kamu sendiri.
Engkau melihat sesuatu yang engkau tidak mampu untuk melihatnya secara
keseluruhan dan engkau juga tidak bisa bersabar untuk tidak melihat
(walau hanya) sebagian dari sesuatu itu.
Lebih jelasnya, bait syair di atas maksudnya: Engkau akan melihat
sesuatu yang engkau tidak sabar untuk tidak melihatnya walaupun hanya
sedikit, namun saat itu juga engkau tidak mampu untuk melihatnya sama
sekali walaupun hanya sedikit.
Betapa banyak orang yang melepaskan pandangannya tanpa kendali akhirnya
dia binasa dengan pandangan-pandangan itu sendiri. Seperti yang
diungkapkan oleh seorang penyair:
Wahai orang yang memandang, tidaklah dia sampai tuntas
menyelesaikan pandangannya, sehingga dia sendiri akan menjauh dan jatuh
binasa karena pandangan-pandangannya sendiri.
Ada untaian bait lain yang mengatakan:
(Mungkin) dia sudah bosan selamat, hingga dia biarkan pandangannya menyaksikan apa yang menurutnya indah.
Begitulah; dia terus melanjutkan satu pandangan de- ngan pandangan yang
lain, sehingga akhirnya dia menjauh dan jatuh binasa karena
pandangan-pandangannya sendiri.
Suatu hal yang lebih mengherankan, yaitu bahwa pandangan yang
dilakukan oleh seseorang itu merupakan anak panah yang tidak pernah
mengena pada sasaran yang dipandang, sementara anak panah itu
benar-benar mengena di hati orang yang memandang. Ada untaian bait syair
yang mengatakan:
Wahai orang yang dengan sungguh-sungguh melempar anak
panah pandangannya; Engkaulah sebenarnya yang menjadi korban dari apa
yang kamu lempar itu dan engkau tidak berhasil membidik orang yang
engkau pandang.
Dan orang selalu melepas pandangannya, dia akan kehilangan kesehatannya.
(Oleh karena itu) kurunglah pandanganmu itu, jangan sampai dia
mendatangkan musibah kepadamu.
Suatu hal yang lebih mengherankan lagi, yaitu bahwa satu pandangan
(padahal yang dilarang) itu dapat melukai hati dan (dengan pandangan
yang baru) berarti dia menoreh luka baru di atas luka lama; Namun
ternyata derita yang ditimbulkan oleh luka-luka itu tak mencegahnya
untuk kembali terus menerus melakukannya.
Kau senantiasa mengikutkan satu pandangan dengan pandangan lainnya untuk menyaksikan (wanita) cantik dan (pria) tampan.
Dan kau mengira bahwa itu dapat mengobati luka (syahwat)mu, padahal, dengan itu berarti kau menoreh luka di atas luka.
Kau korbankan matamu dengan pandangan dan tangisan, sementara hatimu juga (menjerit seperti) disembelih habis-habisan.
Oleh karena itu dikatakan :
“Sesungguhnya menahan pandangan hatimu itu lebih mudah daripada menahan langgengnya penyesalan”.
Al-Khatharat (Pikiran Yang Melintas Di Benak)
Adapun “Al-Khatharat” (pikiran yang melintas di benak) maka urusannya
lebih sulit. Di sinilah tempat dimulainya aktifitas, yang baik ataupun
yang buruk. Dari sinilah lahirnya keinginan (untuk melakukan sesuatu)
yang akhirnya berubah menjadi tekad yang bulat. Maka,
barangsiapa
yang mampu mengendalikan pikiran-pikiran yang melintas di benaknya,
niscaya dia akan mampu mengendalikan diri dan menundukkan nafsunya. Namun,
orang yang tidak bisa me- ngendalikan pikiran-pikirannya, maka hawa nafsunyalah yang berbalik menguasainya. Dan
barangsiapa
yang me- nganggap remeh pikiran-pikiran yang melintas di benaknya, maka
tanpa dia inginkan, akan terseret pada kebinasaan.
Pikiran-pikiran itu akan terus melintas di benak dan di dalam hati
seseorang, sehingga akhirnya dia akan menjadi angan-angan tanpa
makna(palsu).
“Laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka
air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia
tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di
sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan
cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitunganNya” (An-Nur: 39).
Orang yang paling jelek cita-citanya dan paling hina, adalah
orang yang merasa puas dengan angan-angan kosongnya. Dia pegang
angan-angan itu untuk dirinya dan dia pun merasa bangga dan senang
dengannya. Padahal,
demi Allah, angan-angan itu adalah
modal orang-orang yang pailit dan barang dagangan para pengangguran
serta merupakan makanan pokok bagi jiwa yang kosong yang bisa merasa
puas dengan gambaran-gambaran dalam khayalan, dan angan-angan palsu.
Seperti yang dikatakan oleh seorang penyair:
mendapatkan Su’da, dapat menghilangkan dahaga. Dengan
angan-angan itu Su’da telah berhasil memberikan pada kita air dingin di
kala haus.
Angan-angan, yang sekiranya dapat menjadi kenyataan, tentu menjadi
kebahagiaan, dan kalaupun tidak, maka sesungguhnya kita hidup senang
beberapa waktu dengan angan-angan itu.
Angan-angan adalah sesuatu yang sangat berbahaya bagi manusia. Dia lahir
dari sikap ketidakmampuan sekaligus kemalasan, dan melahirkan sikap
lalai yang selanjutnya penderitaan dan penyesalan. Orang yang hanya
berangan-angan disebabkan karena dia tidak berhasil mendapatkan realita
yang diinginkannya- sebagai pelampiasannya, maka dia merubah gambaran
realita yang dia inginkan ke dalam hatinya; dia akan mendekap dan
memeluknya erat-erat.Selanjutnya dia akan merasa puas dengan
gambaran-gambaran palsu yang dikhayalkan oleh pikirannya.
Padahal, itu semua, sedikitpun tidak akan membawa manfaat.
Sama seperti orang yang sedang lapar dan haus, membayangkan gambaran
makanan dan minuman namun dia tidak dapat memakan dan meminumnya.
Perasaan tenang dan puas dengan kondisi semacam ini dan berusaha
untuk memperolehnya, jelas menunjukkan betapa jelek dan hinanya jiwa
seseorang. Sebab,
kemuliaan jiwa seseorang, kebersihan, kesucian
dan ketinggiannya, tidak lain adalah dengan cara membuang jauh-jauh
setiap pikiran yang jauh dari realita dan dia tidak rela bila hal-hal
tersebut sampai melintas di benaknya serta dia juga tidak sudi hal itu
terjadi pada dirinya.
Kemudian “khatharat” atau ide, pikiran yang melintas di benak itu, mempunyai banyak macam, namun pada pokoknya ada empat:
Pikiran yang orientasinya untuk mencari keuntungan-keuntungan dunia/materi.
a. Pikiran yang orientasinya untuk mencegah kerugian dunia/materi.
b. Pikiran yang orientasinya untuk mencari kemaslahatan akhirat.
c. Pikiran yang orientasinya untuk mencegah kerugian akhirat.
Idealnya, seorang hamba hendaklah menjadikan pikiran-pikiran, ide-ide
dan keinginannya hanya berkisar pada empat macam di atas. Bila kesemua
bagian itu ada padanya, maka selagi mungkin dipadukan, hendaklah dia
tidak mengabaikannya untuk yang lain. Kalau ternyata, pikiran-pikiran
yang datang itu banyak dan bertumpang tindih, maka hendaklah dia
mendahulukan yang lebih penting, yang dikhawatirkan akan kehilangan
kesempatan untuk itu, kemudian mengakhirkan yang tidak terlalu penting
dan tidak dikhawatirkan kehilangan kesempatan untuk itu.
Yang tersisa sekarang adalah dua bagian lagi, yaitu:
Pertama , yang penting dan tidak dikhawatirkan kehila- ngan kesempatan untuk melakukannya.
Kedua, yang tidak penting namun dikhawatirkan kehilangan kesempatan untuk melakukannya.
Dua bagian terakhir ini sama-sama mempunyai alasan untuk didahulukan. Di
sinilah lahir sikap ragu-ragu dan bingung memilih. Bila dia dahulukan
yang penting, dia khawatir akan kehilangan kesempatan untuk yang lain.
Namun bila dia mendahulukan yang lain, dia akan kehilangan sesuatu yang
penting. Begitulah, kadang-kadang seseorang dihadapkan pada dua pilihan
yang tidak mungkin dikumpulkan menjadi satu, yang mana salah satunya
tidak dapat dicapai kecuali dengan mengorbankan yang lain.
Di sinilah, akal, nalar dan pengetahuan itu berperan. Di sini akan
diketahui, siapa orang tinggi, siapa orang yang sukses dan siapa orang
yang merugi. Kebanyakan orang yang mengagungkan akal dan pengetahuannya,
akan Anda lihat dia mengorbankan sesuatu yang penting dan tidak
khawatir kehilangan kesempatan untuk itu, demi melakukan sesuatu yang
tidak penting yang tidak dikhawatirkan kehilangan kesempatan untuk
melakukannya. Dan Anda tidak akan mendapatkan seorang pun yang selamat
(dan terlepas) dari hal seperti itu. Hanya saja ada yang jarang dan ada
pula yang sering menghadapinya.
Dan sebenarnya yang dapat dijadikan sebagai penentu pilihan dalam
masalah ini adalah sebuah kaidah besar dan mendasar yang merupakan poros
berputarnya aturan-aturan syari’at, dan juga pada kaidah inilah
dikembalikan segala urusan. Kaidah itu adalah mendahulukan kemaslahatan
yang lebih besar dan lebih tinggi dalam dua pilihan yang ada walaupun
harus mengorbankan kemaslahatan yang lebih kecil- kemudian kaidah itu
pula menyatakan bahwa kita memilih kemudharatan yang lebih ringan untuk
mencegah terjadinya mudharat yang lebih besar.
Jadi, sebuah kemaslahatan akan dikorbankan dengan tujuan mendapatkan
kemaslahatan yang lebih besar, begitu pula sebuah kemudharatan akan
dilakukan dengan tujuan mencegah terjadinya kemudharatan yang lebih
besar.
Pikiran-pikiran serta ide-ide orang yang berakal itu tidak akan keluar
dari apa yang kita jelaskan di atas. Dan karena itu datang berbagai
syari’at atau aturan. Kemaslahatan dunia dan akhirat selalu didasarkan
pada hal-hal tersebut. Dan pi- kiran-pikiran serta ide-ide yang paling
tinggi, paling mulia dan paling bermanfaat ialah yang orientasinya untuk
Allah I dan kebahagiaan di alam akhirat nanti.
Kemudian, pikiran yang orientasinya adalah untuk Allah I ini bermacam-macam:
Pertama : Memikirkan ayat-ayat Allah yang telah diturunkan
dan berusaha untuk memahami maksud Allah dari ayat-ayat tersebut; dan
memang untuk itulah Allah menurunkannya; tidak hanya sekedar untuk
dibaca saja, namun membaca itu hanya media saja.
Sebagian ulama Salaf mengatakan:
“Allah menurunkan Al-Qur’an untuk diamalkan, maka jadikanlah bacaan Al-Qur’an itu sebagai amalan.”
Kedua : Memikirkan dan memperhatikan ayat-ayat atau
tanda-tanda kebesaranNya yang dapat dilihat langsung; dan menjadikannya
sebagai bukti akan nama-nama Allah, sifat-sifat, hikmah, kebaikan dan
kemurahanNya. Dan Allah sendiri telah mendorong hamba-hambaNya untuk
merenungkan tanda-tanda kebesaranNya, memikirkan dan memahaminya; Allah
menegur dan mencela orang yang melalaikannya.
Ketiga: Memikirkan nikmat, kebaikan dan berbagai karunia yang
Dia limpahkan kepada seluruh makhlukNya, dan merenungkan keluasan
rahmat, ampunan dan kasih sayangNya.
Tiga hal di atas akan dapat mendorong lahirnya -dari hati seorang hamba-
ma’rifatullah (pengetahuan tentang Allah), kecintaan serta perasaan
cemas dan harap kepada-Nya. Dan
bila tiga hal tadi dilakukan
dengan kontinyu, disertai dengan dzikir kepada Allah, maka hati seorang
hamba akan tercelup secara sempurna dengan ma’rifah dan kecintaan
kepadaNya.
Keempat : Memikirkan aib, cela dan kelemahan yang ada pada jiwa dan amal perbuatan.
Hal ini akan memberikan manfaat yang sangat besar. Ini merupakan pintu
segala kebaikan. Ini juga sangat berperan dalam mengalahkan hawa nafsu
yang selalu memerintahkan kejelekan. Bila nafsu yang jahat itu dapat
dikalahkan maka nafsu muthmainnah (jiwa yang tenang)lah yang akan hidup,
bangkit dan menjadi penentu segala keputusan. Lalu hatipun menjadi
hidup dan kebijakan ada pada kerajaannya didengar; dia perintah para
karyawan dan bala tentaranya untuk melakukan hal yang membawa
kemaslahatannya.
Kelima: Memikirkan kewajiban terhadap waktu sekaligus
bagaimana cara menggunakannya, serta menumpahkan seluruh perhatian
terhadap pemanfaatan waktu. Seorang yang arif, akan selalu
memanfaatkan waktunya, karena dia yakin, bila waktunya disia-siakan
begitu saja, berarti dia telah menyia-nyiakan seluruh kemaslahatan (yang
seharusnya dia dapatkan. pent). Sebab, seluruh kemaslahatan itu, tidak
lain bisa timbul dan didapatkan melainkan dari adanya waktu. Dan bila
disia-siakan (dan waktu itu sudah lewat. pent) maka dia tidak akan bisa
mengembalikannya lagi untuk selamanya.
Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata: “Aku pernah berteman
dengan orang-orang sufi dan aku tidak mendapatkan manfaat apa-apa dari
mereka kecuali dua kalimat saja:
Pertama: “Waktu itu bagaikan pedang, bila engkau tidak memotongnya, dialah yang akan menebasmu.”
Kedua: “Dan nafsumu, bila engkau tidak menyibukkannya dengan kebenaran, maka dialah yang akan menyibukkanmu dengan kebathilan.”
Waktu yang dimiliki manusia, itulah umur dia yang sebenarnya. Waktu
itulah yang menjadi modal untuk kehidupannya yang abadi dalam kenikmatan
abadi(Surga), sekaligus juga modal untuk kehidupan yang sengsara dalam
adzab yang pedih(Neraka). Waktu itu berlalu lebih cepat dari perjalanan
gumpalan awan. Maka, barangsiapa yang berhasil menjadikan waktunya untuk
Allah dan bersama Allah, itulah kehidupan dan umurnya yang hakiki. Dan
waktu yang tidak dipersembahkan untuk Allah tidaklah dihitung sebagai
bagian dari kehidupannya. Walaupun dia hidup tapi kehidupannya laksana
kehidupan binatang ternak.
Bila seseorang menghabiskan waktunya
penuh dengan kelalaian, syahwat dan angan-angan kosong atau yang paling
baik hanya digunakan untuk tidur dan pengangguran, maka bagi orang
semacam ini “mati” itu lebih baik daripada dia hidup.
Bila seorang hamba yang sedang melakukan shalat- tidak akan
mendapatkan nilai dari shalatnya selain pada bagian yang dia pahami dari
shalatnya, maka
umurnya yang sesungguhnya adalah waktu yang dia habiskan untuk Allah dan dengan Allah.
Pikiran-pikiran atau ide-ide yang tidak termasuk salah satu bagian
yang disebut di atas tadi, dapat kita kategorikan sebagai was-was
syaithaniyah(bisikan-bisikan setan), angan-angan kosong atau halusinasi
bohong, persis seperti pikiran-pikiran orang yang kurang waras akalnya,
baik karena mabuk atau fly dan lain sebagainya. Di mana ketika segala
hakikat kenyataan itu tampak, kondisi mereka saat itu mengatakan:
Bila kedudukanku, saat dikumpulkan bersama kalian,
seperti apa yang telah aku temui sendiri (sekarang ini), maka sungguh
aku telah menyia-nyiakan hari-hariku.
Angan-angan itu telah menguasai jiwaku dalam jangka waktu yang lama, dan hari ini, aku menganggapnya hanya sebagai bunga mimpi.
Ketahuilah, sebenarnya pikiran-pikiran yang melintas itu tidaklah
membahayakan, namun yang bahaya bila pikiran-pikiran itu sengaja
didatangkan dan terjadi interaksi dengannya. Pikiran yang melintas itu
laksana orang yang di suatu jalan, bila Anda tidak memanggilnya dan Anda
biarkan dia, maka dia akan berlalu meninggalkan Anda.
Namun
bila Anda memanggilnya, Anda akan terpesona dengan percakapan, dusta dan
tipuannya. Tindakan ini akan terasa begitu ringan bagi jiwa yang kosong
penuh kebatilan, dan begitu berat dirasa oleh hati dan jiwa yang suci
dan tenang.
Allah telah memasang dua macam nafsu pada diri manusia: Nafsu ammarah
dan nafsu muthmainnah . Keduanya saling bertolak belakang. Segala
sesuatu yang terasa ringan oleh yang satu, maka akan terasa berat oleh
yang lain. Apa yang terasa nikmat oleh yang satu, maka akan terasa
menyiksa oleh yang lain.
Tak ada sesuatu yang lebih berat bagi
nafsu ammarah melebihi perbuatan yang dilakukan karena Allah dan lebih
mendahulukan keridhaanNya dari pada hawa nafsunya, padahal tidak ada
amal yang lebih bermanfaat baginya dari amal tersebut. Begitu pula,
tidak
ada sesuatu yang lebih berat bagi nafsu muthmainnah dari perbuatan yang
bukan untuk Allah dan mengikuti kemauan hawa nafsu. Padahal tidak ada
amal yang lebih berbahaya baginya dari amal tersebut.
Dalam hal ini, malaikat itu berada di samping kanan hati manusia,
sementara setan di samping kirinya. Dan pertarungan antara keduanya
tidak akan pernah berhenti sampai ajal ditentukan (oleh Allah) di dunia
ini. Seluruh bentuk kebatilan akan berpihak kepada setan dan nafsu
ammarah. Sementara, semua macam kebenaran itu akan berpihak pada
malaikat dan nafsu muthmainnah. Dalam peperangan itu, kalah dan menang
datang silih berganti. Dan kemenangan itu ada bersama kesabaran. Maka
barangsiapa yang benar-benar bersabar, berusaha keras dan bertakwa
kepada Allah, niscaya baginya balasan yang baik, di dunia dan di akhirat
nanti. Dan
Allah pun telah menetapkan sebuah ketetapan yang
tidak dapat dirubah selamanya; bahwa balasan baik itu adalah untuk
ketakwaan, dan pahala itu adalah untuk mereka yang bertakwa.
Hati itu laksana papan yang kosong, dan pikiran-pikiran itu bagaikan tulisan yang diukir di atasnya. Maka,
bagaimana
bisa dikatakan pantas bagi seorang yang berakal bila papannya hanya
berisi dusta, tipu daya, angan-angan kosong dan fatamorgana yang tidak
ada realitanya? Hikmah, ilmu dan petunjuk macam apa yang diharapkan dari
tulisan-tulisan itu? Apabila ia ingin melukiskan hikmah, ilmu dan
petunjuk di papan hatinya, maka tak ubahnya seperti penulisan ilmu yang
bermanfaat di sebuah tempat yang sudah penuh dengan tulisan lain yang
tidak ada manfaatnya. Bila hati tidak kosong dari
pikiran-pikiran kotor, maka pikiran-pikiran positif yang bermanfaat
tidak akan dapat menetap di dalamnya, karena dia memang tidak dapat
menempati kecuali tempat yang kosong. Seperti yang diungkapkan oleh seorang penyair:
Aku telah didatangi oleh hawa nafsu sebelum aku kenal
dengan hawa nafsu itu sendiri, maka ia temukan hati yang kosong, oleh
karena itu ia dapat menguasaiku.
Hal seperti ini banyak terjadi terhadap orang-orang tasawuf , mereka
membangun kepribadian mereka dengan cara menjaga pikiran-pikiran yang
melintas di dalam benak, mereka tidak memberikan kesempatan pada
pikiran-pikiran tersebut untuk masuk ke dalam hati, sehingga hati itu
dalam keadaan kosong dan dapat untuk melakukan kasyaf(menyingkap
rahasia) dan menerima hakikat-hakikat yang bermakna tinggi di dalamnya.
Mereka itu menjaga diri mereka dari satu hal, tetapi mereka lalai dan
kehilangan banyak hal yang lain. Sebab mereka kosongkan hati mereka
dari lintasan-lintasan pikiran sehingga menjadi kosong, tidak ada
apa-apa di dalamnya, tiba-tiba setan mendapatkannya dalam keadaan
kosong, kemudian setan menanamkan di dalamnya kebatilan dan
menggambarkannya sebagai sesuatu yang paling tinggi dan paling mulia,
setan meletakkan hal itu sebagai ganti dari jenis pikiran-pikiran yang
merupakan bahan dasar dari ilmu pengetahuan dan petunjuk.
Apabila hati itu sudah kosong dari berbagai macam pi- kiran, maka
setan akan datang dengan menemukan tempat yang kosong untuknya. Setan
akan berusaha untuk mengisinya dengan hal-hal sesuai dengan kondisi
pemilik hati tersebut. Bila tidak berhasil mengisinya dengan
pikiran-pikiran kotor, maka setan akan menyibukkannya dengan keinginan
melepaskan diri dari keinginan-keinginan -yang sebenarnya- tidak ada
kebaikan dan kesuksesan bagi seorang hamba kecuali bila
keinginan-keinginan tersebut berhasil menguasai hatinya, yaitu
mengosongkannya dari keinginan untuk mengikuti perintah Allah- yang
memang dicintai dan diridhaiNya-, kemudian menyibukkan hati dan
memperhatikan perintah-perintah tersebut secara rinci untuk kemudian
melaksanakannya di masyarakat, lalu berusaha menyampaikan nya pada
orang-orang dengan harapan mereka juga mau melaksanakannya. Dalam hal
ini, setan akan berusaha menyesatkan orang yang mempunyai keinginan
demikian dengan mengajak untuk meninggalkan keinginan baik tersebut dan
melepaskannya, tidak usah memikirkan dunia dan masyarakat didalamnya.
Setan akan membisikkan kepada mereka bahwa kesempurnaan itu dapat
mereka capai dengan cara melepaskan diri dan mengosongkan hati dari hal
itu semua. Sungguh amat jauh ungkapan tersebut dari kebenaran. Karena,
kesempurnaan itu hanya dapat diperoleh bila hati itu penuh terisi de-
ngan keinginan dan pikiran yang baik serta usaha untuk
merealisasikannya. Maka,
manusia yang paling sempurna adalah
mereka yang paling banyak memiliki pikiran dan keinginan untuk tunduk
kepada perintah Allah, mencari keridhaanNya. Sebagaimana
manusia
yang paling hina adalah mereka yang paling banyak memiliki keinginan
dan pikiran untuk memenuhi hawa nafsunya di mana saja dia berada. Wallahul musta’an (Allah-lah tempat mohon pertolongan).
Lihatlah, Umar bin Khaththab t, pikirannya penuh de- ngan keinginan
dalam mencari keridhaan Allah. Barangkali dia dalam keadaan shalat,
namun saat itu dia juga sedang mempersiapkan tentaranya (untuk jihad).
Dengan demikian dia telah berhasil mengumpulkan antara jihad dan shalat,
sehingga beberapa ibadah masuk berkumpul dalam satu ibadah.
Ini adalah satu hal yang mulia dan agung, tidak akan tahu tentang hal
ini kecuali mereka yang mempunyai keinginan yang benar-benar kuat dan
pandai mencari, luas ilmunya serta tinggi cita-citanya, di mana dia
masuk dalam satu ibadah namun dia juga mendapatkan ibadah-ibadah yang
lain. Itulah karunia Allah yang diberikan pada siapa yang
dikehendakinya.
Al-Lafazhat (Kata-Kata Atau Ucapan)
Adapun tentang Al-Lafazhat (kata-kata atau ucapan), maka menjaga hal
yang satu ini adalah dengan cara mencegah keluarnya kata-kata atau
ucapan yang tidak bermanfaat dan tidak bernilai dari lidah. Misalnya
dengan tidak berbicara kecuali dalam hal yang diharapkan bisa memberikan
keuntungan dan tambahan menyangkut masalah keagamaannya. Bila ingin
berbicara, hendaklah seseorang melihat dulu; apakah ada manfaat dan
keuntungannya atau tidak? Bila tidak ada keuntungannya, dia tahan
lidahnya untuk berbicara. Dan bila dimungkin kan ada keuntungannya, dia
melihat lagi; apakah ada kata-kata yang lebih menguntungkan lagi dari
kata-kata tersebut? Bila memang ada, dia tidak akan menyia-nyiakannya.
Kalau Anda ingin mengetahui apa yang ada dalam
hati seseorang maka lihatlah ucapan lidahnya. Ucapan itu akan
menjelaskan kepada Anda apa yang ada dalam hati seseorang, dia suka
ataupun tidak suka.
Yahya bin Mu’adz berkata: Hati itu bagaikan panci yang sedang
menggodok apa yang ada di dalamnya, dan lidah itu bagaikan gayungnya.
Maka perhatikanlah seseorang saat dia berbicara, sebab lidah orang itu
sedang menciduk untukmu apa yang ada di dalam hatinya, manis atau asam,
tawar atau asin dan sebagainya. Ia menjelaskan kepada Anda bagaimana
“rasa” hatinya, adalah apa yang dia keluarkan dari lidahnya. Artinya,
sebagaimana Anda bisa mengetahui rasa apa yang ada dalam panci itu
dengan cara mencicipi dengan lidah, maka begitu pula Anda bisa
mengetahui apa yang ada dalam hati seseorang dari lidahnya, Anda dapat
merasakan apa yang ada dalam hatinya dari lidahnya, sebagaimana Anda
juga mencicipi apa yang ada di dalam panci itu dengan lidah anda.
Dalam hadits Anas radhiallaahu anhu yang marfu’, disebutkan:
“Tidak akan istiqamah iman seorang hamba sehingga hatinya
beristiqamah (lebih dahulu), dan tidak akan istiqamah hatinya sehingga
lidahnya beristiqamah (lebih dahulu).”()
Nabi pernah ditanya tentang hal yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam Neraka, beliau menjawab:
“Mulut dan kemaluan”. At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih.”()
Sahabat Mu’adz bin Jabal pernah bertanya kepada Nabi tentang amal apa
yang dapat memasukkannya ke dalam Surga dan menjauhkannya dari api
Neraka. Lalu Nabi memberitahukan tentang pokok, tiang dan puncak yang
paling tinggi dari amal tersebut, setelah itu beliau bersabda:
“Bagaimana kalau aku beritahu pada kalian inti dari semua
itu?” Dia berkata: “Ya, Wahai Rasulullah”. Lalu Nabi r memegang lidah
beliau sendiri kemudian berkata: “Jagalah olehmu yang satu ini.” Maka
Mu’adz berkata: “Adakah kita bisa disiksa disebabkan apa yang kita
ucapkan?” Beliau menjawab: “Ibumu kehilangan engkau ya Mu’adz, tidakkah
yang dapat menyungkurkan banyak manusia di atas wajah mereka (ke Neraka)
kecuali hasil (ucapan) lidah-lidah mereka?” At-Tirmidzi berkata:
“Hadits ini hasan shahih.”()
Dan yang paling mengherankan yaitu bahwa banyak orang yang merasa
mudah dalam menjaga dirinya dari makanan yang haram, perbuatan aniaya,
zina, mencuri, minum minuman keras serta melihat pada apa yang
diharamkan dan lain sebagainya, namun merasa kesulitan dalam mengawasi
gerak lidahnya,
sampai-sampai orang yang dikenal punya pemahaman
agama, dikenal dengan kezuhudan dan ibadahnyapun, juga masih berbicara
dengan kalimat-kalimat yang dapat mengundang kemurkaan Allah I tanpa dia
sadari bahwa, satu kata saja dari apa yang dia ucapkan dapat
menjauhkannya (dari Allah dengan jarak) lebih jauh dari jarak antara
timur dan barat. Dan
betapa banyak Anda lihat orang
yang mampu mencegah dirinya dari perbuatan kotor dan aniaya namun
lidahnya tetap saja membicarakan aib orang-orang, baik yang sudah mati
ataupun yang masih hidup, dan dia tidak sadar akan apa yang dia katakan.
Kalau Anda ingin mengetahui hal itu, lihatlah apa yang diriwayatkan oleh
Muslim dalam kitab Shahih -nya dari hadits Jundub bin Abdillah, dia
berkata: Nabi bersabda:
“Ada seorang pria yang mengatakan, ‘Demi Allah, Allah
tidak akan mengampuni si Fulan itu’. Maka Allah berfirman, ‘Siapa orang
yang bersumpah bahwa Aku tidak akan mengampuni si Fulan? Sungguh Aku
telah mengampuninya dan menggugurkan amalmu’.”()
Lihatlah, hamba yang satu ini; dia telah beribadah kepada Allah dalam
waktu yang cukup lama/panjang, namun satu kalimat yang diucapkannya
telah menyebabkan semua amalnya terhapus.
Dan di dalam hadits Abu Hurairah juga dikisahkan cerita seperti itu,
kemudian Abu Hurairah berkomentar: “Dia telah mengucapkan satu kalimat
yang dapat menghancurkan dunia dan akhiratnya.”()
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Hurairah dari Nabi :
“Sesungguhnya seorang hamba itu terkadang mengucapkan
satu kalimat yang termasuk dicintai oleh Allah, dia tidak terlalu
perhatian dengan itu, namun ternyata Allah berkenan meninggikannya
beberapa derajat. Dan sesungguhnya seorang hamba itu terkadang
mengucapkan satu kalimat yang termasuk dibenci Allah, dia tidak terlalu
perhatian dengan itu, namun ternyata dengan kalimat itu dia masuk ke
dalam Neraka Jahannam.” Dalam riwayat Muslim: “Sesungguhnya seorang
hamba itu mengucapkan satu kalimat yang tidak jelas apa yang
dikandungnya, namun dia dapat menjatuhkannya ke dalam Neraka (yang
jaraknya) lebih jauh dari jarak antara timur dan barat.”()
Dan dalam riwayat At-Tirmidzi dari hadits Bilal bin Al-Harits Al-Muzani dari Nabi :
“Sesungguhnya seorang dari kalian terkadang mengucapkan
satu kalimat yang dicintai oleh Allah, dia tidak menyangka (pahalanya)
sampai seperti apa yang dia dapatkan, namun ternyata dengan kalimat itu
Allah memberikan kepadanya keridhaanNya sampai hari dia menjumpaiNya
kelak. Dan sesungguhnya seorang dari kalian terkadang mengucapkan satu
kalimat dari yang dimurkai oleh Allah, dia tidak menyangka (dosanya)
sampai seperti apa yang dia dapatkan, namun ternyata Allah memberikan
kepadanya kemurkaanNya sampai hari dia menjumpaiNya kelak.” Alqamah
mengatakan: “Betapa banyak ucapan yang tidak jadi aku katakan disebabkan
oleh Hadits Bilal bin Al-Harits ini.”()
Dalam kitab Jami’ At-Tirmidzi, juga dari hadits Anas, dia berkata:
Ada seorang sahabat yang meninggal, lalu ada seorang laki-laki berkata,
‘Berilah khabar gembira dengan Surga’, maka Nabi bersabda:
“Dari mana kamu tahu? Barangkali dia pernah mengucapkan
(kalimat) yang tidak ada guna baginya atau dia pelit untuk (memberikan)
sesuatu yang tidak akan membuatnya kekurangan.” At-Tirmidzi berkata:
“Hadits ini hasan.”
Dalam sebuah lafazh hadits disebutkan:
“Ada seorang anak yang meninggal syahid di perang Uhud,
lalu ditemukan di perutnya sebuah batu yang diikat untuk menahan lapar.
Kemudian, ibunya mengusap debu yang ada di wajahnya sambil mengatakan,
‘Berbahagialah engkau hai anakku, engkau akan mendapatkan Surga’. Maka
Nabi r bersabda, ‘Dari mana kamu tahu ?, barangkali dulu dia pernah
mengucapkan kata-kata yang tidak berguna baginya dan menahan apa yang
tidak memberikan mudharat baginya’.”()
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Hurairah dari Nabi :
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah dia mengatakan yang baik-baik atau diam saja.” ()
Dalam lafazh Muslim disebutkan:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir
-bila dia menyaksikan suatu perkara- maka hendaklah dia mengatakan yang
baik-baik atau diam saja.”()
At-Tirmidzi menyebutkan dengan sanad yang shahih dari Nabi , bahwa beliau bersabda:
“Termasuk (salah satu tanda) kebaikan Islam seseorang, yaitu (bila) dia meninggalkan apa-apa yang tidak berguna baginya.” ()
Dan dari Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi, dia berkata:
“Aku berkata, ‘Ya Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam
Islam ini suatu kalimat yang aku tidak akan menanyakannya pada seorang
pun setelah engkau’. Nabi menjawab, ‘Katakanlah, Aku beriman kepada
Allah, kemudian beristiqamahlah engkau’. Aku bertanya, ‘Ya Rasulullah,
apa yang paling engkau khawatirkan terhadapku?’ Kemudian Nabi r memegang
lidah beliau sendiri lalu mengatakan, ‘Ini’ (maksudnya : lidah, pent).”
Hadits ini shahih.()
Dari Ummu Habibah isteri Nabi , dari Nabi , beliau bersabda:
“Semua ucapan anak Adam(manusia) itu akan
berdampak negatif kepadanya, tidak akan berdampak positif kecuali;
ucapan untuk amar ma’ruf (memerintahkan yang baik), atau nahyi munkar
(mencegah perbuatan munkar), atau dzikir kepada Allah .”() At-Tirmidzi
berkomentar: “Hadits ini derajatnya hasan.”
Dalam hadits yang lain disebutkan:
“Bila seorang hamba berada di pagi hari, maka semua
anggota tubuh memberikan peringatan kepada lidah dan berkata, ‘Takutlah
engkau kepada Allah, sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Bila
kamu istiqamah kami akan istiqamah, dan bila kamu melenceng kami pun
ikut melenceng’.”()
Para ulama salaf sebagian mereka ada yang memperhitungkan dirinya,
walau hanya sekedar mengucapkan: “Hari ini panas dan hari ini dingin.”
Sebagian ulama juga ada yang tidur kemudian bermimpi dan dia ditanya
tentang keadaannya, lalu dia menjawab: “Aku tertahan oleh satu ucapan
yang aku katakan (yaitu : pent), Aku pernah mengatakan, ‘Oh, betapa
butuhnya orang-orang ini akan hujan’. Tiba-tiba ada yang berkata
kepadaku, ‘Dari mana kamu tahu itu? Akulah yang lebih tahu akan
kemaslahatan hambaKu’.”
Seorang sahabat ada yang berkata pada pembantunya: “Tolong ambilkan
kain untuk kita bermain-main.”lalu dia berkata: “Astaghfirullah, aku
tidak pernah mengucapkan kata-kata kecuali aku pasti mengendalikan dan
mengekangnya, terkecuali kata-kata yang tadi aku katakan, keluar dari
lidahku tanpa kendali dan tanpa kekang …”
Anggota tubuh manusia yang paling mudah digerakkan adalah lidah, tapi dia juga yang paling berbahaya pada manusia itu sendiri …
Ada perbedaan pendapat antara ulama salaf dan khalaf dalam masalah;
apakah semua yang diucapkan oleh manusia itu semua akan dicatat ataukah
ucapan yang baik dan yang jelek saja? Di sini ada dua pendapat, namun
yang lebih kuat adalah yang pertama.
Sebagian ulama salaf mengatakan:
“Semua perkataan anak
Adam itu akan berdampak negatif kepadanya dan tidak akan berdampak
positif kecuali ucapan yang dari Allah dan ucapan yang membela-Nya.”
Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah memegang lidahnya dan berkata:
“Inilah yang memasukkan aku ke dalam berbagai masalah”.
Ucapan itu adalah tawanan Anda, bila dia sudah keluar dari mulut Anda
berarti Andalah yang menjadi tawa- nannya. Allah I selalu memonitor
lidah setiap kali berbicara:
“Tidak suatu ucapanpun yang diucapkan kecuali ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf: 18).
Bahaya Lidah
Pada lidah itu terdapat dua penyakit besar. Bila seseorang bisa
selamat dari salah satu penyakit itu maka dia tidak bisa lepas dari
penyakit yang satunya lagi, yaitu; penyakit berbicara dan penyakit diam.
Dalam satu kondisi, bisa jadi salah satu dari keduanya akan
mengakibatkan dosa yang lebih besar dari yang lain.
Orang yang
diam terhadap kebenaran adalah setan yang bisu, dia bermaksiat kepada
Allah, serta bersikap riya’ dan munafik bila dia tidak khawatir hal itu
akan menimpa dirinya. Begitu pula
orang yang berbicara
dengan kebatilan, adalah setan yang berbicara, dia bermaksiat kepada
Allah. Kebanyakan orang sering keliru ketika berbicara dan ketika
mengambil sikap diam. Mereka itu selalu berada di antara dua posisi ini.
Adapun
orang-orang yang ada di tengah-tengah -yaitu mereka
yang berada pada jalan yang lurus- sikap mereka adalah menahan lidah
mereka dari ucapan yang batil dan membiarkannya berbicara dalam hal-hal
yang dapat membawa manfaat pada mereka di akhirat. Sehingga
Anda tidak akan melihat mereka mengucapkan kata-kata yang sia-sia tanpa
manfaat, apa lagi sampai mengucapkan kata-kata yang akan membahayakan
mereka di akhirat nanti. Sesungguhnya ada seorang hamba yang akan datang
pada hari kiamat dengan pahala kebaikan sebesar gunung, namun dia
dapati lidahnya sendiri telah menghilangkan pahala tersebut. Dan ada
pula yang datang dengan dosa-dosa sebesar gunung, namun dia dapati
lidahnya telah menghilangkan itu semua dengan banyaknya dzikir kepada
Allah dan apa yang berhubu ngan dengannya.
Al-Khathawat (Langkah Nyata Untuk Sebuah Perbuatan)
Adapun tentang Al-Khathawat (langkah nyata untuk sebuah perbuatan),
hal ini bisa dicegah dengan komitmen seorang hamba untuk tidak
menggerakkan kakinya kecuali untuk perbuatan yang bisa diharapkan
mendatangkan pahala-Nya, bila ternyata langkah kakinya itu tidak akan
menambah pahala, maka mengurungkan langkah tersebut tentu lebih baik
baginya. Dan sebenarnya
bisa saja seseorang memperoleh pahala dari setiap perbuatan mubah yang dilakukannya dengan cara meniatkannya untuk Allah I, dengan demikian maka seluruh langkahnya akan bernilai ibadah.
Ketergelinciran pada perbuatan salah itu ada dua macam; tergelincir
kaki dan tergelincir lidah. Oleh karenanya dua macam ketergelinciran ini
digandengkan oleh Allah dalam firmanNya:
“Dan hamba-hamba Ar-Rahman, yaitu mereka yang berjalan di
atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa
mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.”
(Al-Furqan: 63).
Di sini Allah menjelaskan bahwa sifat mereka itu adalah istiqamah
dalam ucapan-ucapan dan langkah-langkah mereka. Sebagaimana Allah juga
menggandengkan antara Al-Lahadzat (pandangan) dan Al-Khatharat (lintasan
pikiran) dalam firmanNya:
“Allah mengetahui khianat mata dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (Ghafir: 19).
Semua hal yang kami sebutkan di atas adalah sebagai pendahuluan bagi
penjelasan akan diharamkannya zina dan kewajiban menjaga kemaluan,
Rasulullah bersabda:
“Yang paling banyak memasukkan orang ke dalam Neraka ialah lidah dan kemaluan.” ()
Dan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Nabi :
“Tidak dihalalkan darah seorang muslim kecuali dengan
tiga hal; Orang yang sudah kawin lalu berzina, jiwa dengan jiwa (qishah
karena membunuh orang) dan orang yang meninggalkan agamanya serta
meninggalkan jama’ah.” ()
Dalam hadits ini ada penggandengan antara zina dengan kufur dan
membunuh jiwa, persis seperti yang terdapat dalam ayat pada surat
Al-Furqan, juga seperti yang ada dalam hadits Ibnu Mas’ud.
Penggandengan Antara Zina, Kufur
Dan Membunuh Jiwa
Dalam hadits di atas Nabi menyebutkan hal yang paling banyak terjadi
secara berurutan. Perbuatan zina itu lebih sering terjadi dibanding
dengan pembunuhan, dan pembunuhan lebih sering terjadi dibanding dengan
riddah (keluar dari Islam). Dan kerusakan yang ditimbulkan oleh zina
sungguh bertolak belakang dengan kemaslahatan dalam kehidupan. Sebab,
bila seorang wanita telah melakukan zina berarti ia telah membuat aib
keluarga, suami dan kerabatnya serta mencoreng wajah mereka di hadapan
orang-orang. Bila dia sampai hamil kemudian membunuh anaknya, berarti
dia telah menggabungkan perbuatan zina dengan pembunuhan, dan jika
setelah hamil ia tetap dengan suaminya, berarti dia telah memasukkan
pada keluarga si suami dan keluarga si wanita sendiri orang lain yang
bukan bagian dari keluarga. Dan masih banyak lagi kerusakan-kerusakan
lain yang ditimbulkan oleh zina. Jika yang berzina itu adalah seorang
pria, maka hal ini -selain hal yang di atas- juga akan menyebabkan
simpang siurnya hubungan nasab, kemudian merusak kehormatan wanita yang
terjaga dan menjadikannya hancur. Jadi, di belakang perbuatan keji ini
(zina) terdapat kerusakan dunia dan agama sekaligus. Sungguh betapa
banyak pelanggaran terhadap larangan-larangan (pelecehan terhadap
kehormatan), penyia-nyiaan hak orang dan penganiayaan yang ada di balik
perbuatan zina.
Di antara dampak yang ditimbulkan oleh zina adalah bahwa zina
dapat mendatangkan kefakiran, memperpendek umur dan membuat wajah
pelakunya suram serta mendatangkan kebencian orang.
Termasuk di antara dampaknya pula, bahwa zina itu dapat
menghancurkan hati, membuatnya sakit kalau tidak sampai mematikannya,
juga mendatangkan perasaan gundah gelisah dan takut, serta menjauhkan
pelakunya dari malaikat dan mendekatkannya kepada setan. Tak
ada bahaya -setelah bahaya perbuatan membunuh- yang lebih besar dari
bahaya zina. Oleh karenanya, untuk menghukum pelaku perbuatan zina ini
Allah mensyari’atkan hukuman bunuh (rajam) dengan cara yang mengerikan.
Bila ada seseorang yang mendengar kabar bahwa isterinya dibunuh orang,
tentu kabarnya lebih ringan dibanding dia mendengar bahwa isterinya
berbuat zina.
Sa’ad bin Ubadah radhiallaahu anhu berkata: “Sekiranya aku melihat
seorang pria berzina dengan isteriku, tentu aku akan memenggal lehernya
dengan pedang tanpa pikir panjang lagi.” Maka sampai perkataan ini
kepada Rasulullah , lalu beliau bersabda:
“Apakah kalian heran dengan kecemburuan Sa’ad? Demi
Allah, sungguh aku ini lebih cemburu dari dia, dan Allah lebih cemburu
dari aku, dan oleh karena betapa agungnya kecemburuan Allah, maka Dia haramkan segala perbuatan keji, baik yang lahir maupun yang batin.”(Muttafaq ‘alaih).()
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, juga diriwayatkan dari Nabi :
“Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan sesungguhnya
seorang mukmin itu juga cemburu. Dan kecemburuan Allah itu akan timbul
bila seorang hamba melakukan apa yang diharamkan kepadanya.”()
Dalam hadits Al-Bukhari dan Muslim, juga diriwayatkan dari Nabi :
“Tak ada seseorangpun yang lebih pencemburu dari
Allah, oleh karena itu Allah mengharamkan perbuatan-perbuatan keji, yang
lahir maupun yang batin. Tak ada seorangpun yang lebih senang
menerima udzur (permohonan maaf) dari Allah, oleh karena itu Dia
mengutus para rasul untuk memberikan kabar gembira dan peringatan. Tak
ada seorangpun yang lebih senang dipuji melebihi Allah, oleh karena itu
Dia memuji diriNya sendiri.”()
Juga dalam kitab Ash-Shahihain , diriwayatkan khutbah Nabi di saat shalat gerhana matahari, beliau bersabda:
“Hai umat Muhammad, demi Allah, tak ada satupun
yang lebih pencemburu dari Allah ketika ada seorang hambaNya yang
laki-laki atau perempuan berbuat zina. Hai umat Muhammad, demi Allah,
sekiranya kalian mengetahui seperti apa yang aku ketahui tentu kalian
akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” Kemudian beliau mengangkat
kedua tangannya seraya berkata: “Ya Allah, adakah aku sudah
sampaikan.”()
Disebutkannya perbuatan dosa besar ini secara khusus setelah shalat
gerhana matahari mengandung isyarat rahasia yang menakjubkan; dan
semaraknya fenomena zina ini merupakan tanda rusaknya alam ini, dan itu
semua adalah salah satu tanda Kiamat; seperti yang disebutkan dalam
Ash-Shahihain , dari Anas bin Malik bahwa dia berkata: Aku akan
menceritakan pada kalian sebuah hadits yang tidak akan ada orang yang
akan menceritakannya pada kalian setelah aku.
Aku mendengar Rasulullah bersabda:
“Di antara tanda-tanda Kiamat yaitu bila ilmu (syar’i)
menjadi sedikit(kurang), dan kebodohan menjadi tampak serta zina juga
menyebar (di mana-mana). Pria jumlahnya sedikit dan kaum wanita
jumlahnya banyak sehingga untuk lima puluh wanita (perbandingannya) satu
orang pria.”()
Salah satu sunnatullah yang diberlakukan pada makhlukNya, yaitu bahwa
ketika zina mulai tampak di mana-mana, Allah akan murka dan
kemurkaanNya sangat keras, maka secara pasti kemurkaan itu akan
berdampak pada bumi ini dalam bentuk adzab dan musibah yang diturunkan.
Abdullah bin Mas’ud t berkata: “Tidaklah merajalela riba dan zina di
sebuah daerah, melainkan Allah memaklumkan untuk dihancurkan.”
Seorang pendeta Bani Israil pernah melihat anaknya sedang merayu seorang
perempuan, lalu dia berkata: “Sebentar, wahai anakku!” Kemudian sang
ayah itu pingsan di atas tempat tidurnya lalu meninggal, sementara
isterinya jatuh dan dikatakan kepadanya: “Beginilah cara engkau marah
untukku? Sungguh, orang sejenis kamu itu tidak mengandung kebaikan
selamanya.”
Pengkhususan Hukuman Zina
Dengan Tiga Hal
Allah mengkhususkan hukuman bagi perbuatan zina dibandingkan dengan hukuman-hukuman lainnya dengan tiga hal.
Pertama, hukuman zina adalah dibunuh (dirajam) dengan cara yang mengerikan.
Dalam hukuman zina yang ringan saja, Allah menggabungkan antara hukuman
terhadap fisik dengan cambuk dan hukuman terhadap hati/mentalnya dengan
cara diasingkan dari negerinya selama satu tahun.
Kedua , Allah melarang hamba-hambaNya untuk merasa kasihan
kepada para pelaku zina sehingga mencegah mereka untuk memberlakukan
hukuman kepada para pezina itu. Sebab,
Allah
mensyari’at kan hukuman tersebut didasarkan pada kasih sayang dan
rahmatNya pada mereka. Allah itu sangat sayang kepada kalian, namun
kasih sayang tersebut tidaklah mencegah Allah untuk memerintahkan
berlakunya hukuman ini. Oleh karenanya janganlah kasih sayang yg ada di
hati kalian itu mencegah kalian untuk melaksanakan perintah Allah.
Hal ini -walaupun sebenarnya juga berlaku pada seluruh macam hukuman
(hudud)yang disyari’atkan- namun disebutkan dalam hukuman zina suatu
kekhususan, karena memang sangat penting untuk disebutkan di sini, sebab
kebanyakan orang tidak mempunyai perasaan marah dan sikap kasar
terhadap pezina seperti sikap mereka pada pencuri, atau orang yang
menuduh berbuat zina atau pemabuk. Hati mereka cenderung lebih kasihan
pada pezina ketimbang kepada para pelaku dosa lainnya. Dan realita
membuktikan hal itu. Oleh karena itu Allah melarang mereka, jangan
sampai rasa kasihan mereka itu membuat tidak diberlakukannya hukuman
Allah .
Mengapa rasa kasihan pada mereka itu timbul? Penyebabnya yaitu karena
perbuatan zina ini bisa terjadi pada orang golongan atas, menengah dan
bawah. Kemudian, dalam jiwa manusia itu terdapat dorongan yang kuat
untuk melakukannya (melampiaskan libido. pent) dan orang yang
melakukannya juga berjumlah banyak. Dan yang
paling ba- nyak
menjadi penyebabnya ialah cinta; sementara hati manusia itu secara
tabiat, punya perasaan kasihan pada orang yang sedang jatuh cinta,
bahkan banyak di antara mereka yang siap memberikan bantuan pada mereka,
walaupun sebenarnya bentuk dari percintaan itu termasuk yang
diharamkan. Dan hal seperti ini sudah tidak dipungkiri lagi. Dan hal itu memang sudah diakui oleh orang-orang.
Selain itu juga, perbuatan dosa ini (zina) kebanyakan terjadi dengan
adanya suka sama suka dari kedua belah pihak, bukan dengan pemaksaan,
penganiayaan dan lainnya yang membuat jiwa orang-orang itu geram.
Dalam hal ini, syahwat banyak berpengaruh, sehingga timbullah
perasaan kasihan yang mungkin akan menghambat ditegakkannya hukuman
Allah I. Ini semua timbul dari iman yang lemah. Kesempurnaan iman itu
dapat dicapai dengan adanya kekuatan yang dengan itu perintah Allah
dapat ditegakkan, juga adanya rahmat (kasih sayang) terhadap orang yang
dijatuhi hukuman tersebut, sehingga dia bisa sejalan dengan Allah dalam
perintah dan rahmatNya.
Ketiga, Allah memerintahkan agar hukuman terhadap pelaku zina
(baik itu cambuk ataupun rajam, pent) hendaknya dilakukan di hadapan
khalayak orang-orang mukmin, bukan di tempat yang sepi sehingga tidak
ada orang yang dapat menyaksikannya. Hal ini dilakukan agar
hukuman tersebut lebih efektif untuk tujuan “zajr” (membuat jera pelaku
dan membuat takut orang lain melakukannya). Hukuman bagi pezina yang
“muhshan” (sudah berkeluarga) diambil dari hukuman Allah terhadap kaum
Nabi Luth’ u yang dilempar dengan batu. Yang demikian itu karena
perbuatan zina dan liwath (homoseks yang dilakukan kaum Nabi Luth’ u)
adalah sama-sama perbuatan fahisyah (keji dan kotor). Keduanya dapat
menimbulkan kerusakan yang bertentangan dengan hikmah Allah di dalam
penciptaan perintahNya. Kerusakan dan bahaya yang ditimbulkan oleh
praktek liwath (homosex) itu sungguh sulit untuk dihitung. Orang yang
menjadi korban perbuatan tersebut lebih pantas dan lebih baik untuk
dibunuh saja; sebab dia itu mengalami kerusakan yang tidak bisa
diharapkan untuk baik kembali selamanya. Semua kebaikannya sudah hilang.
Bumi sudah menyerap habis rasa malu dari mukanya, sehingga dia tidak
akan malu lagi kepada Allah, juga kepada makhlukNya. Hati dan jiwa orang
tersebut sudah dipengaruhi oleh sperma pelaku liwath seperti
berpengaruhnya racun dalam tubuh seseorang.
Ada perbedaan pendapat di antara sebagian orang; apakah orang yang
menjadi pelaku liwath itu bisa masuk Surga atau tidak? Dalam hal ini ada
dua pendapat. Aku mendengar Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah pernah
mengungkapkan dua pendapat ini.
Mereka yang mengatakan tidak akan masuk Surga memberikan hujjah dengan beberapa hal:
Di antaranya, bahwa Nabi bersabda:
“Tidak akan masuk Surga anak seorang pezina.”()
Bila nasib dan kondisi anak hasil zina sudah demikian, padahal dia
tidak mempunyai dosa apa-apa, hanya saja dia dicurigai sebagai tempat
berbagai kejelekan dan kekotoran, serta dia pantas untuk tidak
mendatangkan kebaikan apa pun selamanya, disebabkan karena dia tercipta
dari nuthfah (sperma) yang kotor; bila tubuh yang tumbuh menjadi besar
dengan barang yang haram saja sangat pantas untuk masuk api Neraka, maka
bagaimana lagi dengan tubuh yang memang tercipta dari sperma yang
haram?
Mereka mengatakan: Orang yang menjadi pelaku liwath itu lebih jelek
dari anak hasil zina, lebih hina dan lebih kotor pula. Dia itu memang
pantas untuk tidak mendapat taufik kebaikan. Dia juga pantas dihalangi
untuk mendapatkan taufik tersebut. Dan setiap kali dia melakukan amal
yang baik, maka Allah akan menggandengkannya dengan amalan lain yang
dapat merusaknya, sebagai hukuman baginya. Dan memang jarang kita dapati
bahwa orang yang sudah seperti itu di masa kecilnya, kecuali dia akan
lebih parah di masa tuanya. Dia tidak berhasil mendapatkan ilmu yang
bermanfaat, amal yang shalih dan taubat yang nashuha.
Namun setelah diteliti, yang lebih pas untuk dikatakan dalam masalah
ini, yaitu bahwa bila orang tersebut bertaubat dan kembali kepada Allah,
kemudian mendapatkan karunia taubat yang nashuha serta amal yang
shalih, lalu kondisinya di masa tua lebih baik dari kondisi di masa
kecilnya, lalu merubah perbuatan-perbuatan jeleknya dengan berbagai
macam kebaikan serta mencuci aibnya dengan beragam ketaatan dan
pendekatan diri kepada Allah, juga menjaga pandangan matanya, menjaga
kemaluannya dari yang haram dan benar-benar jujur kepada Allah dalam
mu’amalah-nya, maka orang yang semacam ini akan mendapat ampunan dan dia
akan termasuk ahli Surga. Sebab, Allah Maha mengampuni seluruh dosa.
Bila taubat itu -kita ketahui- dapat menghapus segala macam dosa, sampai
dosa syirik kepada Allah, membantai para nabi dan para waliNya, atau
sihir, kufur dan lain semacamnya, maka kita tidak boleh membatasi
penghapusan terhadap dosa yang satu ini, padahal, dengan keadilan dan
karunia Yang Maha Kuasa, hikmah Allah menetapkan bahwa:
“Orang yang bertaubat dari dosanya sama seperti orang yang tidak berdosa.”()
Dan Allah sendiri telah memberikan jaminan bahwa barangsiapa yang
bertaubat dari perbuatan syirik, pembunuhan jiwa dan zina, Allah akan
mengganti perbuatan-perbuatan jeleknya dengan kebaikan-kebaikan, dan ini
adalah ketentuan hukum yang umum mencakup setiap orang yang bertaubat
dari berbagai macam dosa.
Allah berfirman:
“Katakanlah: Wahai hamba-hambaKu yang aniaya terhadap
diri mereka, janganlah kalian putus asa akan rahmat Allah, sesungguhnya
Allah akan mengampuni seluruh dosa, seungguhnya Dia Maha Pengampun dan
Maha Pengasih.” (Az-Zumar: 53)
Dan tidak akan keluar dari keumuman ayat ini satu macam dosa pun.
Namun hal ini hanya khusus bagi mereka yang bertaubat.
Bila ternyata orang yang menjadi pelaku perbuatan liwath itu di masa
tuanya lebih jelek dari masa kecilnya, tidak mendapatkan karunia taubat
nashuha dan amal shalih, tidak segera mengganti ketaatan yang dia
tinggalkan dan tidak pula mau menghidupkan apa yang sudah ia matikan,
juga tidak mengubah perbuatan-perbuatan jeleknya dengan kebaikan, maka
orang semacam ini sulit untuk mendapatkan husnul khatimah yang dapat
memasukkannya ke dalam Surga di saat akan meninggal kelak. Hal itu
sebagai hukuman baginya. Sungguh Allah memberikan hukuman atas perbuatan
yang jelek dengan kejelekan lainnya, sehingga bertumpuklah hukuman
perbuatan jelek yang akan diterimanya, sebagaimana Allah juga memberikan
ganjaran bagi sebuah perbuatan baik dengan perbuatan baik lainnya.
Para Pelaku Maksiat Dikhawatirkan Akan Mati
Dalam Su’ul Khatimah
Bila Anda perhatikan kondisi kebanyakan orang saat sakaratul maut
menjemput, Anda akan melihat bahwa mereka terhalangi untuk mendapatkan
husnul khatimah, sebagai hukuman akibat perbuatan-perbuatan jelek
mereka.
Al-Hafizh Abu Muhammad Abdul Haq bin Abdurrahman Asy-Syibli berkata():
“Ketahuilah bahwa su’ul khatimah itu -semoga Allah menjauhkan kita
darinya- mempunyai penyebab-penyebab. Ada jalan-jalan dan pintu-pintu
yang mengantarkan kepadanya.
Penyebab, jalan dan pintu yang
paling besar ialah larut dalam urusan keduniaan, tidak acuh dengan
urusan akhirat dan berani melakukan maksiat kepada Allah. Bisa saja
ada
seseorang yang sudah terbiasa melakukan kesalahan atau maksiat
tertentu, atau sudah terbiasa tidak acuh dan berani melakukan maksiat,
sehingga menguasai hatinya, akalnya tertawan oleh kebiasaan tersebut,
pelita hatinya padam dan terbentuklah hijab yang dapat menutupinya.
Akibatnya, teguran tidak akan lagi berguna, nasihat tidak akan lagi
bermanfaat dan bisa saja kematian datang menjemput saat dia dalam
keadaan demikian. Lalu datanglah panggilan kebaikan dari sebuah tempat
yang jauh, namun dia tidak dapat memahami maksudnya. Dia tidak tahu apa
yang diinginkan oleh panggilan itu, sekalipun orang yang meneriakkan
panggilan itu terus mengulangi dan mengulanginya lagi.”
Diriwayatkan, bahwa ada seorang dari anak buah An-Nashir (salah
seorang pemimpin di masa Abbasiyah) yang sedang didatangi oleh sakaratul
maut, kemudian anaknya berkata: “Ucapkanlah, ‘Laa Ilaaha Illallah !”
Orang itu berucap: “An-Nashir adalah tuanku.” Diulangilah permintaan itu
kepadanya, namun jawaban orang itu tetap sama. Tiba-tiba orang itu
tidak sadarkan diri dan setelah dia siuman, dia berucap lagi: “An-Nashir
adalah tuanku.” Begitulah terus menerus. Setiap kali dikatakan
kepadanya ucapan “Laa Ilaaha Illallah” dia malah berucap: “An-Nashir
adalah tuanku.” Kemudian dia berkata pada anaknya: “Hai Fulan,
sesungguhnya An-Nashir itu dapat mengenalmu hanya dengan pedang dan
keberanianmu membunuh/ berperang”, kemudian dia meninggal dunia.
Abdul Haq berkata: “Pernah dikatakan juga pada orang lain -yang saya
mengenalnya-: “Ucapkanlah ‘ Laa Ilaaha Illallah’, tiba-tiba dia malah
berucap: “Tolong rumah yang di sana itu diperbaiki dan kebun yang di
sana itu, tolong di kerjakan …”
Abdul Haq juga berkata: “Diantara riwayat dari Abu Thahir As-Silafiy
yang dia izinkan aku untuk meriwayatkannya, yaitu kisah bahwa ada
seorang pria yang sedang sakaratul maut, kemudian dikatakan kepadanya:
Ucapkanlah ‘Laa Ilaaha Illallah’. Namun dia malah mengucapkan kata-kata
dengan bahasa Persia yang artinya ‘sepuluh dengan sebelas’ (maksudnya,
boleh berutang sepuluh tapi bayarnya sebelas, pent).”
Dan pernah pula dikatakan pd orang lain lagi:Ucapkanlah ‘Laa Ilaaha
Illallah’.Dia malah mengatakan “Mana jalan ke pemandian Manjab?” (nama
pemandian).
Kata Abdul Haq: “Kata yang diucapkannya itu ada ceritanya. Suatu
ketika ada seorang pria yang sedang berdiri di depan rumahnya. Rumah
tersebut pintunya menyerupai pintu sebuah tempat pemandian, tiba-tiba
lewat di situ seorang wanita cantik dan bertanya, ‘Mana jalan ke
pemandian Manjab? Dia menjawab (sambil menunjuk ke pintu rumahnya), ‘Ini
dia pemandian Manjab itu!’ Maka, wanita itu pun masuk ke dalam rumahnya
sampai ke belakang. Setelah dia sadar terjebak di rumah sang pria dan
tahu bahwa dia sedang ditipu, dia pura-pura menampakkan rasa gembira dan
suka citanya karena pertemuannya dengan pria itu. Kemudian wanita itu
berkata, ‘Sebaiknya (sebelum kita berkumpul), engkau harus mempersiapkan
untuk kita apa-apa yang dapat membuat indah kehidupan kita sekaligus
menyenangkan hati kita’.
Dengan segera pria itu menjawab, ‘Sekarang juga aku akan membawakan
untukmu semua apa yang kamu inginkan dan kamu senangi’. Lalu dia pergi
ke luar dan meninggalkan si wanita dalam rumah, namun tidak menguncinya.
Kemudian dia pun mengambil apa yang dia bisa bawa lalu kembali ke
rumahnya. Tapi sayang, si wanita itu telah keluar dan pergi. Sedikitpun
wanita itu tidak mengambil apa-apa dari rumahnya. Pria itu akhirnya
menjadi mabuk kepayang dan selalu ingat pada wanita tadi. Dia berjalan
di lorong-lorong dan gang-gang sambil mengatakan:
“Ya Tuhanku, suatu hari, di kala sudah lelah dia bertanya, ‘Mana jalan ke pemandian Manjab?’.
Suatu saat, di waktu dia mengucapkan bait syair tadi, ada seorang wanita -dari jendela pintu rumahnya- berkomentar:
“Mengapa -di saat sudah mendapatkannya- tidak dengan segera engkau menutup rumah itu atau mengunci pintunya?”
Mendengar itu, mabuk kepayangnya tambah menjadi-jadi. Begitulah terus
kondisinya sehingga bait syair itu menjadi kata-kata terakhirnya saat
meninggal dunia.”
Suatu malam, Sufyan Ats-Tsauri menangis sampai pagi. Di
pagi itu, ada yang bertanya kepadanya: “Adakah semua yang kau lakukan
ini karena takut akan dosa?” Lalu Sufyan mengambil segenggam tanah
seraya berkata: “Dosa itu lebih ringan dari batu ini, aku menangis
karena takut akan su’ul khatimah.”
Sungguh, ini adalah pemahaman yang sangat baik, bila seseorang itu
khawatir bahwa dosa-dosanya akan membuatnya terhina di kala meninggal
dunia nanti, sehingga dia terhalang untuk memperoleh husnul khatimah .
Al-Imam Ahmad pernah menyebutkan bahwa Abu Darda’ di saat sakaratul
maut datang, dia pingsan tak sadarkan diri, kemudian dia siuman dan
membaca:
“Dan (begitulah) Kami memalingkan hati dan penglihatan
mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya pada permulaannya,
dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.”
(Al-An’am: 110).
Dan oleh karena itu, para ulama salaf khawatir kalau dosa-dosa itu dapat menghalangi mereka untuk memperoleh husnul khatimah.
Abdul Haq juga berkata:
“Ketahuilah bahwa su’ul khatimah itu -semoga kita dilindungi oleh
Allah darinya- tidak akan terjadi pada orang yang secara lahir dia
istiqamah dan secara batin dia shalih. Su’ul khatimah akan terjadi pada
orang yang dasarnya sudah rusak atau senantiasa melakukan dosa besar dan
mengerjakan kemaksiatan. Barangkali hal itu menjadi kebiasaannya,
sehingga kematian datang menjemputnya sebelum sempat bertaubat, akhirnya
dia meninggal sebelum memperbaiki dirinya, urat nadinya dicabut sebelum
dia kembali pada Allah, sehingga saat itu setan berhasil merenggut dan
menyambarnya di saat yang genting tersebut. Na’udzu billah !”
Diriwayatkan bahwa -di Mesir- dulu ada seseorang yang selalu pergi ke
mesjid untuk adzan dan melakukan shalat. Wajahnya berwibawa dan penuh
cahaya ibadah. Suatu hari dia naik ke menara -seperti biasanya untuk
adzan-. Di bawah menara itu ada rumah seorang Nashrani, dia melongok ke
dalam rumah tersebut, dan melihat anak perempuan pemilik rumah itu
akhirnya dia tergoda dengannya, lalu dia tinggalkan adzan saat itu,
turun menemuinya, dan masuk ke dalam rumahnya. Anak perempuan itu
bertanya: “Ada apa, apa yang kamu inginkan?” Dia menjawab: “Aku
menginginkan kamu.” Dia bertanya lagi: “Mengapa demikian?” Dia menjawab:
“Sungguh, engkau telah menawan jiwaku dan menguasai seluruh relung
hatiku.” Perempuan itu berkata: “Aku tidak akan pernah memenuhi
keinginanmu selamanya.” Pria tadi menjawab: “Aku akan mengawinimu lebih
dahulu.” Perempuan itu berkata: “Engkau seorang muslim dan aku nashrani.
Ayahku tidak akan mengawinkan aku denganmu. Lelaki itu berkata: “Aku
akan masuk agama Nashrani!” Maka wanita itu berkata: “Jika kamu lakukan
itu, maka aku mau!” Akhirnya lelaki itu resmi masuk Nashrani agar dapat
kawin dengannya. Dia pun tinggal bersama mereka. Dan pada hari itu, dia
naik ke loteng yang ada di rumah tersebut, kemudian dia jatuh dan
langsung mati. Kasihan, dia tidak berhasil mendapatkan perempuan
tersebut dan dia kehilangan agamanya.”
Diriwayatkan pula, ada seorang laki-laki yang senang kepada
seseorang. Kesenangan dan kecintaannya sangat kuat, sehingga mampu
menguasai hatinya. Bahkan, dia sampai jatuh sakit dan harus tidur
beristirahat karenanya. Sementara orang yang dicintai itu tidak mau
menemuinya. Dia benar-benar tidak suka dan menjauh darinya. Sementara
itu, orang-orang terus berusaha mempertemukan keduanya, sehingga, dia
pun berjanji untuk menemuinya. Orang-orang datang membawa kabar
tersebut, dia pun gembira dan sangat bersuka cita. Kesempitan di dadanya
pun terasa hilang. Jadilah dia menunggu pada waktu yang sudah
ditentukan untuknya. Di saat itu, tiba-tiba datang orang yang akan
mempertemukan keduanya, lalu menyampaikan: “Dia sudah berangkat
bersamaku sampai di tengah perjalanan, namun dia kembali lagi. Aku terus
mendorong dan merayunya, tapi dia berkata, ‘Orang itu ingat dan
menyebut-nyebut aku dan dia pun gembira dengan kedatanganku. Namun aku
tidak akan masuk ke tempat yang meragukan. Aku tidak akan
mempersembahkan diriku untuk tempat-tempat yang mencurigakan.’ Aku terus
membujuknya, namun dia tidak mau dan terus pergi.” Mendengar hal itu,
orang yang sakit tadi langsung menjatuhkan diri dan kembali sakit dengan
kondisi yang lebih parah lagi dari sebelumnya. Tanda-tanda kematian
sudah tampak di wajahnya, saat itu dia mengatakan:
Wahai Salm, wahai penenang hati yang sakit. Wahai obat bagi tubuh yang kurus.
Keridhaanmu lebih diharapkan oleh hatiku ketimbang rahmat Allah Yang Maha Pencipta dan Maha Mulia.
Maka (Abdul Haq Al-Asyibly) berkata kepadanya:
“Wahai Fulan, takutlah engkau kepada Allah!!”
Dia menjawab: “Semuanya sudah terjadi.” Akhirnya aku meninggalkannya.
Dan tidak sampai aku melewati pintu rumahnya, hingga aku mendengar
dengan nyaring suara kematian.
Kita berlindung kepada Allah dari su’ul khatimah.
- Selesai -
Sumber:
http://aswj.wordpress.com/2007/01/31/jangan-dekati-zina/
~Akankah engkau masih mengangankan dicintai, disayangi, dirindui oleh
laki-laki/wanita ajnabi (asing, non mahram) yang mengotori hati dan
manjauhkanmu dari rahmat Ilahi?
~Akankah engkau lebih memilih kecintaan dan keridhaan makhluknya yang
fana dengan melepaskan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang
Maha Kekal lagi Maha Mulia?
Maka berilah peringatan, karena
sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah
orang yang berkuasa atas mereka, tetapi orang yang berpaling dan kafir,
maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar. Sesungguhnya kepada
Kami-lah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah
menghisab mereka.
(QS Al-Ghaasyiyah: 21-26)
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ آمَنُوا أَنْ
تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَماَ نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلاَ
يَكُوْنُوا كَالَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتاَبَ مِنْ قَبْلُ فَطاَلَ
عَلَيْهِمُ اْلأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ وَكَثِيْرٌ مِنْهُمْ
فاَسِقُوْنَ
“Belumkah datang waktunya bagi orang
–orang yang beriman untuk tunduk hati mereka guna mengingat Allah serta
tunduk kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah
mereka seperti orang –orang yang sebelumnya telah turun Al Kitab
kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati
mereka menjadi keras, dan mayoritas mereka adalah orang-orang yang
fasiq.”
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala
memberikan taufik dan hidayah kepada kita untuk melakukan taubatan
nashuha atas semua dosa dan kesalahan.
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjaga
diri-diri kita dan keluarga-keluarga kita dari fitnah yang menjerumuskan
pada kebinasaan.
Wallahul musta’an…