Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Mei 2014

Bapak adalah seorang yang tekun dan pekerja keras dalam mencari nafkah. Bapak juga berjiwa sosial tinggi dan mempunyai banyak teman. Aku sangat bangga dengan Beliau. Tetapi setiap kali kulihat wajah Bapak yang mulai mengkerut, perut yang semakin buncit dan rambut memutih, aku merasa tak tega dan sedih. Kami sekeluarga terdiri dari Bapak, Ibu, Aku, Suamiku dan Adikku serta anakku Farel. Kehidupan kami berkecukupan, tidak terlalu kaya tetapi cukup untuk memenuhi segala kebutuhan rumah tangga.
Pekerjaan Bapakku sebagai mekanik bengkel mengharuskan beliau pulang sore hari, itupun bukan bengkel pribadinya. Sedangkan suamiku bekerja sebagai karyawan di Hotel dan Adikku bekerja di rumah makan. Aku dan Ibuku menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya, walau begitu Ibuku juga turut membantu perekonomian dengan membuka gerai kios pulsa di garasi rumah kami. Dan Aku mengasuh Farel yang masih batita. Usia Bapak yang semakin bertambah semakin membuatku sedih, itu karena Bapak belum bersedia melaksanakan apa yang menjadi kewajiban setiap orang muslim yaitu shalat. Selain itu Bapak juga mudah marah dan selalu membanting barang setiap kali Beliau marah. Pernah sesekali ada seorang peminta minta datang, seorang nenek  renta dihardik oleh Bapak. Memangnya aku keluargamu? Minta uang sama aku. Kata Bapakku dengan nada tinggi. Aku dan Ibu hanya bisa pasrah dan berdoa memohon semoga pintu hidayah ALLAH segera datang. Walau begitu aku tetap berusaha dan akan berusaha
Bulan ini adalah bulan Ramadhan, adalah peristiwa yang sangat kami nantikan selama ini. Bulan yang penuh dengan berkah dan ampunan. Ibu dan aku sibuk memasak opor ayam sebagai hidangan khas berbuka puasa sedangkan adikku sibuk bercanda ria dengan Farel anakku. Kami sekeluarga sibuk dengan kegiatan masing masing. Kulihat Bapakku sedang tidur nyenyaknya padahal  waktu itu adalah waktu berbuka, tidak bagi Bapakku yang menganggap bulan ramadhan  layaknya seperti hari biasa. Bapak pun beranggapan bahwa bulan ramadhan, hanyalah sebuah tradisi  yang tidak perlu dan tidak ada gunanya berpuasa. Astaqfirullah, betapa sebenarnya aku ingin beradu agumen tentang pendapat keliru itu.
ALLahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar…..Sayup sayup suara takbir masih terdengar, masyarakat umat muslim berbondong bondong menuju masjid terdekat. Berpakaian bagus, wangi dan saling menyalami merupakan hal yang biasa terlihat di sepanjang jalan. Aku, Ibuku, Adikku serta Suamiku yang menggendong si kecil Farel bersiap menuju ke masjid. Suamiku yang berusaha membangunkan Bapakku untuk diajak pergi bersama sama malahan diberi kata kata oleh Bapak. Sudah, jangan menganggu tidurku; bentak bapakku. Dan kemudian aku  pun menarik lengan suamiku agar lebih memilih mengalah. Sebenarnya aku sadar bahwa yang dilakukan suamiku itu adalah hal yang seharusnya aku lakukan karena aku adalah anak pertama. Tapi Ma, kita seharusnya sesekali  menegur Bapak agar bisa kembali ke jalan yang lurus, agar bisa bersama sama berkumpul di surga kelak. Dan akupun hanya bisa terdiam menunduk. Rasanya benar benar malu sekali, suamiku begitu tebal imannya bagai seorang ustad begitupula diriku yang sudah mulai berhijab menggunakan jilbab sesuai khaidah agama.
Dalam khutbah , aku sendiri dengan lamunanku diantara banyak jamaah yang mendengarkan dengan khusuk. Aku berdoa menengadahkan tangan, kuadukan isi hati ini kepada ALLAH swt. Ya ALLAH…. hamba mohon bukalah pintu hati Bapak hamba, berikan HidayahMU Ya ALLAH, agar Bapak hamba tidak selalu lebih tersesat lagi menjadi seorang islam Ktp. Ya ALLAH, luruskanlah jalan Beliau agar tidak selalu menunda nunda kewajiban sebagai seorang muslim. Ya ALLAH, engkaulah yang selalu berhak memberikan hidayah kepada orang yang engkau kehendaki. Sedangkan hamba tidak punya kekuasaan sedikitpun untuk itu. Untuk itu, kabulkanlah Ya ALLAH, Ya Rahman Ya Rahim. Hoy, melamun saja; kata adikku membuyarkan doaku. Dan akupun hanya bisa tersenyum kecil sambil menghapus air mata.
Sepulang dari sholat tarawih, telah menjadi kebiasaan bagi kami untuk saling menyimak Al Quran, membaca satu persatu ayat hingga selesai pada lembaran AL Quran yang terakhir. Semuanya duduk di ruang tamu, begitupula anakku Farel yang sedari tadi sibuk makan permen suguhan di meja. Kemdian aku mulai mencari sosok Bapakku. Ku tengok kamarnya, dan Astaqfirullahalngadzim, Bapakku sepertinya ketakutan tetapi matanya masih terpejam, keringatnya begitu banyak bercucuran. Ampun ampun, jangan ambil nyawaku, jangan. Tolong panas panas sekali,teriak Bapakku mengagetkan penghuni rumah terutama aku yang berada tak jauh darinya.
Pak, Istiqfar Pak, Astaqfirullahaladzim,pak;  bisikku menuntunnya. Dan akhirnya Bapakku pun ikut menirukan ucapanku. Keadaanpun mulai tenang, Bapak bisa melihat sekitar. Ibu menyuguhkan segelas air putih, untuk lebih menentramkan hati bapakku. Nak, katanya sambil memelukku. Bapak tadi bermimpi dibawa oleh seorang bayangan hitam mengerikan ke suatu tempat yang sangat panas sekali, banyak orang disiksa dari yang disulut logam panas hingga dicambuk, bahkan ada yang diberi air nanah. Bapak takut Nak; curhat bapakku kemudian.
Pak……Dyah ingin berbicara sesuatu walau itu nantinya bisa membuat Bapak marah:’dengan air mata mulai mengalir dari jilbab putihku. Sebagai anak, Dyah  ingin sekali melihat Bapak sholat, berpuasa dan melaksanakan kewajiban sebagai umat islam. Maaf Pak, bila Dyah lancang atau bersifat menggurui; kataku terbata bata. Di belakangku  terlihat suamiku yang tersenyum lebar dan membiarkan  aku dan Bapakku sendiri bahkan adik dan Ibuku pun  langsung menghindar, melanjutkan aktifitas masing masing.
Pak, bukan  materi yang  Dyah harapkan selama ini, tetapi Dyah  merasa sedih, karena selama  ini Dyah belum pernah sekalipun melihat Bapak sholat; hanya itu yang Dyah pinta Pak.
Tangis semakin  menjadi tatkala kudengar suara sesenggukan ibuku di kamar sebelah. Air mata pengharapan sekaligus penyesalan  untuk menggapai hidup yang tentram di bawah  ridho Allah swt.Akhirnya Bapak berkata dengan suara yang lirih tapi pasti.’’ Bapak tidak bisa sholat , Bapak malu untuk belajar terutama di usia Bapak yang sudah tua ini’kata Bapakku. Apakah ALLAH akan mengampuni dosa dosa Bapak  yang sudah tak terhitung banyaknya? Tanya Bapak. Allahu Akbar…. Ya ALLAH , yang  Maha besar dan Maha segalanya. Aku peluk Bapakku dengan  air mata berlinangan. Bukan air mata kesedihan lagi tetapi air mata kebahagiaan!
ALLAH maha pemaaf Pak, terutama di bulan ramadhan ini, bulan yang penuh ampunan selagi kita bertobat. Dyah dan Mas Bagas akan dengan senang hati mengajari Bapak, Kita akan sama sama belajar Pak, karena kami berduapun belum terlalu shalih seperti para nabi. Semoga Bapak senantiasa istiqomah dengan keputusannya. Mas Bagaspun  mengajarkan bacaan syahadat terlebih dahulu dengan ditirukan Bapakku. Beberapa hari kemudian Bapak mulai belajar  wudhu, bacaan sholat, gerakan sholat dan sebagainya. Karena Bapak belum bisa baca tulisan arab, maka dengan senang hati aku salinkan kedalam tulisan latin. Aku juga meminjamkan buku buku tentang keislaman. Bapak juga mulai berpuasa, menahan diri dari makan, minum dan terutama rokok. Bapak juga mulai bersedekah,  Ibukupun mulai tak segan lagi membangunkan sahur Bapak atau sekedar mengingatkan adzan, tanda waktunya shalat. Sesekali kami berdiskusi tentang berbagai masalah dunia islam. Kebetulan Bapak adalah seorang yang cerdas pula. Walau terasa agak terlambat,tapi selama nafas kita masih hidup.Pintu tobat  seluas samudra, Maha suci ALLAH dengan segala firmannya. Aku selalu bersimpuh
Malam Ramadhan berikutnya ini, aku bisa bersujud, bersimpuh di atas sajadah, mensyukuri  segala sesuatu yang diberikan Allah, terutama hidayah untuk Bapak.  Tiba hari raya Idul Fitri nanti kami bisa bersama sama menunaikan shalat Idul Fitri, tidak seperti lebaran tahun tahun kemaren, Bapak  lebih memilih untuk tidur. Terima kasih Ya ALLAH, atas segalanya. Ramadhan tahun ini terasa istimewa.


Penulis: Malla di Solo
Artikel www.remajaislam.com
[Artikel ini dikirim oleh penulis melalui email redaksi remajaislam.com: rumaysho@gmail.com]
[Kami tidak bisa membalas apa-apa selain berdoa, semoga Allah selalu beri hidayah kepada ibu Malla sekeluarga, semoga bapaknya pun bisa terus istiqomah]

Kamis, 01 Mei 2014

rsz_alone_1Jika seorang muslim berdoa pada Allah agar diberi rizki dan diberi keturunan, akan tetapi doanya tak kunjung pula terkabulkan, apakah seperti itu adalah buah dari tidak diterimanya amalan?

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz ditanyakan seperti di atas. Lalu jawaban beliau rahimahullah,
Ada berbagai faktor yang menyebabkan doa tak kunjung dikabulkan. Doa tersebut tidak terkabul boleh jadi karena jeleknya amalan, maksiat dan kejelekan yang seseorang perbuat. Boleh jadi juga sebabnya adalah karena makan makanan yang haram. Juga bisa jadi karena ia berdoa biasa dalam keadaan hati yang lalai. Boleh jadi pula karena sebab lainnya sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan dalam hadits,
ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا. قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ  اللَّهُ أَكْثَرُ
Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.[1]
Boleh jadi tidak terkabulnya doa seorang hamba karena maksiat yang ia perbuat, karena hatinya yang lalai saat memanjatkan doa, atau karena memakan yang haram. Atau boleh jadi pula doa seseorang tak kunjung terkabul karena Allah Ta’ala memilih yang terbaik untuknya dengan Allah mengganti apa yang ia minta dengan yang lebih bermanfaat di surga dan akhirat kelak. Atau bahkan Allah menggantinya dengan sesuatu di akhirat dan di surga yang kekal. Bisa jadi pula Allah mengganti permintaan hamba tadi dengan maslahat lainnya dengan Allah menghindarkan darinya berbagai keburukan. Bisa jadi Allah menghindarkan darinya kejelekan tanpa ia sadari. Itulah karena doa yang ia panjatkan pada Allah. Inilah yang terbaik sesuai dengan hikmah Allah. Allah bisa jadi mengabulkan doanya dengan memberikannya anak, rumah atau istri. Boleh jadi pula Allah palingkan dari kejelekan dengan sebab doa dan mengganti dengan yang lebih manfaat sebagaimana yang disebutkan dalam hadits di atas.
[Sumber: http://www.ibnbaz.org.sa/mat/17235]
Dalil bahwa do’a dengan hati yang lalai sebab do’a sulit terkabul,
ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ
Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.[2]
Dalil pengaruh makanan yang haram terhadap do’a,
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ
Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyib (baik). Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang Telah menceritakan kepada kami telah kami rezekikan kepadamu.’” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?[3]
Jadi maksiat dan makan makanan yang haram, itu juga adalah sebab penghalang terkabulnya do’a. Begitu pula hati yang lalai dalam berdoa, itu pula salah satu penghalang. Atau barangkali Allah beri kita yang terbaik dan mengganti dengan yang terbaik dari doa yang kita minta.
Don’t give up! Teruslah banyak berdoa dan terus introspeksi diri. Wallahu waliyyut taufiq.


Riyadh-KSA, 4 Rajab 1432 H (04/06/2011)
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Kamis, 27 Maret 2014

Kita hidup dunia, bukan hanya untuk makan, banting tulang cari nafkah. Tujuan kita hidup di dunia adalah untuk ibadah dan mentauhidkan Allah.
Sebagaimana dalam ayat (yang artinya), “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)
Manusia tidak dibiarkan begitu saja dibiarkan di dunia ini tanpa ada perintah maupun larangan.
Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al Qiyamah: 36).
Imam Asy Syafi’i mengatakan, "(Apakah mereka diciptakan) tanpa diperintah dan dilarang?”. Ulama lainnya mengatakan, "(Apakah mereka diciptakan) tanpa ada balasan dan siksaan?” (Lihat Madaarijus Salikin karya Ibnul Qayyim, 1: 98)
Jangan jadi Islam KTP, namun masuklah ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan).
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208).
Ibnu Katsir menegaskan bahwa maknanya adalah lakukan seluruh ajaran Islam, yaitu berbagai cabang iman dan berbagai macam syari’at Islam.
Orang Islam itu rajin shalat lima waktu. Orang Islam itu anti syirik dan meninggalkan berbagai ritual kesyirikan. Orang Islam itu selalu beribadah dengan mengambil tuntunan Nabi. Inilah prinsip Islam.
Hanya Allah yang memberi taufik.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Selasa, 03 Januari 2012

Tidak diragukan lagi bahwa kita tengah berada di suatu zaman di mana nilai-nilai ukhuwwah (persaudaraan) yang dibangun karena Allah mulai pudar. Orang-orang tidak saling berhubungan melainkan karena pertimbangan materi belaka. Mereka saling mencintai dan membenci karena dunia. Tidaklah salah seorang dari mereka mendekati yang lain dengan wajah yang manis kecuali karena ada maunya. Tatkala kepentingan itu tidak tercapai, maka senyuman pun berubah menjadi raut masam.

Hal ini bukanlah termasuk gaya hidup as-Salafus Shalih. Mereka sungguh jauh dari model hidup seperti ini. Tidaklah mereka mencintai dan bersahabat dengan seseorang melainkan karena Allah.

Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

لاَتَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوْا

“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan tidaklah kalian beriman sampai kalian saling mencintai…” [HR Muslim (54), Abu Dawud (5193), dan at-Tirmidzi (2689)]

Kita sama-sama mengetahui bahwa defininsi ibadah adalah sebuah nama yang mencakup semua perkara yang yang dicintai dan diridhai oleh Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang zhahir maupun batin. Diantara perkataan dan perbuatan yang dicintai dan diridhai oleh Allah adalah menunaikan hak-hak ukhuwwah. Hak seorang muslim atas saudaranya yang lain. Terlebih lagi jika keduanya adalah sahabat karib. Bukan hanya sekedar saudara sesama muslim. Mereka bertemu dan berpisah karena Allah, sama-sama berjalan di atas ketaatan kepada Allah, saling tolong menolong dalam kebaikan, sehingga semakin kuatlah hak-hak ukhuwwah yang ada diantara keduanya. Hak-hak ini hendaknya tetap diperhatikan oleh setiap muslim, baik tua, muda, lelaki, maupun wanita.

Sungguh, Allah benar-benar telah memberi kenikmatan kepada kaum muslimin dengan menjadikan mereka bersaudara. Allah berfirman:

﴿فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتٌمْ عَلَى شَفَى حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا﴾

“Lalu menjadilah kalian karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara, dan kalian dahulu berada di tepi jurang neraka lalu Allah menyelamatkan kalian darinya.” (Âli ‘Imrân: 103)

Dalam ayat tersebut Allah menyebutkan nikmat yang telah Ia berikan kepada hamba-hamba-Nya, yaitu menyatukan hati-hati mereka dan menjadikan mereka bersaudara. Hal ini menunjukkan bahwa nikmat yang sangat agung ini, yaitu ukhuwwah, semestinya hanya dilandasi karena Allah semata.

Seorang muslim harus menyadari bahwa persaudaraan dan rasa cinta diantara sesama kaum mukminin yang dilandasi karena Allah merupakan suatu nimat yang sangat agung dari Allah. Maka hendaknya senantiasa dijaga dan dipelihara.

Dalam menafsirkan firman Allah:بِنِعْمَتِهِ(karena nikmat-Nya), sebagian ulama berkata, “Ini adalah peringatan bahwasanya terjalinnya tali persaudaraan dan terjalinnya cinta kasih diantara kaum mukminin hanyalah disebabkan karunia Allah semata, sebagaimana dijelaskan dalam ayat yang lain:

﴿لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِيْ الْأَرْضِ جَمِيْعًا مَا أَلَّفْت بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَلَكِنَّ اللهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ﴾

“Walaupun engkau membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi niscaya engkau tidak bisa mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah-lah yang telah mempersatukan hati mereka” (Al-Anfal: 63)

Maka yang menjadikan hati-hati manusia bersatu dalam ibadah kepada Allah, sekaligus saling mencintai, padahal mereka berasal dari berbagai penjuru dunia, dari ras yang beraneka ragam, serta dari martabat yang bertingkat-tingkat, hanyalah Allah semata, dengan nikmat-Nya yang tiada bandingnya. Ini adalah nikmat yang selayaknya seorang muslim bergembira dengannya. Allah berfirman:

﴿قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُوْنَ﴾

“Katakanlah: ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya’, hendaknya dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat Allah itu lebih baik dari yang mereka kumpulkan” (Yunus: 58)

Abdah bin Abî Lubâbah berkata: “Aku bertemu dengan Mujâhid. Lalu dia menjabat tanganku, seraya berkata: ‘Jika dua orang yang saling mencintai karena Allah bertemu, lalu salah satunya mengambil tangan kawannya sambil tersenyum kepadanya, maka gugurlah dosa-dosa mereka sebagaimana gugurnya dedaunan.”

Abdah melanjutkan: “Aku pun berkata: ‘Ini adalah perkara yang mudah.’ Mujahid lantas menegurku, seraya berkata: “Janganlah kau berkata demikian, karena Allah berfirman:

﴿لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِيْ الْأَرْضِ جَمِيْعًا مَا أَلَّفْت بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَلَكِنَّ اللهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ﴾

“Walaupun engkau membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi niscaya engkau tidak bisa mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allahlah yang telah mempersatukan hati mereka” (Al-Anfal: 63)

Akhirnya ‘Abdah berkata: “Maka aku pun mengakui bahwa dia memiliki pemahaman yang lebih dibandingkan aku” [Tafsir Ath-Thabar(X/36) dan Hlyatul Auliyâ` (III/297). Diriwayatkan juga dari Abu Lubâbah, dari Mujâhid, dari Ibnu 'Abbas, dari Rasūlullâh Shallâllâhuu ‘alaihi wa Sallam dengan sanad yang marfū’, dalam Târîkh Wâsith, pada biografi 'Abdullâh bin Sufyân Al-Wâsithi (I/178), dengan kisah yang sama, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albânî karena syawâhid-nya. Lihat: as-Shahihah (V/10) hadits (2004).

Landasan Seorang Muslim Tatkala Bermu’âmalah dengan Saudaranya

Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik, dari Nabi Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga dia menyukai (menginginkan) bagi saudaranya segala (kebaikan) yang dia sukai bagi dirinya sendiri” [HR Al-Bukhari (13) dan Muslim (45)]

Keinginan agar saudara kita juga mendapatkan apa yang kita sukai bagi diri kita merupakan suatu kewajiban setiap orang yang beriman. Hukumnya bukan hanya sekedar mustahab (sunnah), sebagaimana persangkaan sebagian orang. Barangsiapa yang dalam hatinya tidak terdapat perasaan demikian maka dia telah berdosa. Hal ini telah dijelaskan secara panjang lebar oleh Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah. [Lihat Majmuu’ Fataawa (VII/14-19)]

Tidaklah Allah dan Rasul-Nya Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam menafikan sesuatu perkara yang diperintahkan, kecuali karena ditinggalkannya sebagian kewajiban dalam perkara tersebut. Tentang shalat misalnya, Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Tidak ada shalat bagi orang yang menahan dua hadats (buang air dan buang angin).”

Beliau juga bersabda:

“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca surat al-Fatihah.”

Tatkala melihat orang yang rusak shalatnya karena tergesa-gesa, tidak thuma`ninah (tenang), Nabi Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam berkata:

“Kembalilah shalat karena sesungguhnya engkau belum shalat.”

Ini menunjukkan bahwa hukum tidak menahan buang air ketika shalat adalah wajib. Begitu juga dengan hukum membaca al-Fâtihah dan thuma’nihah dalam shalat.

Kembali ke masalah keimanan, dengan menganalogikan contoh-contoh di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa jika meninggalkan suatu perbuatan menyebabkan iman ternafikan, maka perbuatan tersebut hukumnya adalah wajib.

Misalnya sabda Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam :

“Tidaklah beriman orang yang tidak amanah

Begitu juga sabda beliau :

Tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga akulah yang lebih dia cintai dari pada orang tuanya, dari pada anaknya, dan dari seluruh manusia

Serta sabda beliau:

“Tidaklah beriman orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.

Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa menjaga amanah, mendahulukan kecintaan kepada Nabi Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam di atas manusia yang lain, dan tidak mengganggu tetangga hukumnya adalah wajib.

Di dalam nash-nash syar’i, iman dan shalat tidak mungkin dinafikan jika yang ditinggalkan adalah perkara yang sunnah. Maka tidaklah kita katakan pada orang yang shalat dengan tidak membaca do’a iftitah, “Tidak ada shalat untukmu.” Sebab, do’a iftitah hukumnya adalah sunnah. Sekiranya kita boleh menafikan iman dikarenakan ada perkara mustahab yang ditinggalkan, maka tentulah kita boleh berkata, “Abu Bakr tidak beriman.” Sebab, tidak ada yang melakukan seluruh perkara mustahab secara sempurna kecuali Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam. Pasti ada sebagian perkara mustahab yang ditinggalkan oleh Abu Bakr. Namun, tentunya tidak seorang pun dari Ahlus Sunnah berkata, “Abu Bakr tidak beriman.” Ini merupakan perkataan yang jelas-jelas batil.

Ibnu Taimiyyah berkata: “Barangsiapa yang tidak menginginkan untuk saudaranya seiman apa yang dia sukai bagi dirinya, maka dalam dirinya tidak ada keimanan yang wajibkan Allah kepadanya. Tatkala Allôh menafikan keimanan dari seseorang, maka tidaklah ini terjadi melainkan karena adanya kekurangan pada keimanan yang wajib, sehingga pelakunya termasuk orang-orang yang terkena ancaman Allah dan bukan termasuk orang-orang yang berhak memperoleh janji baik dari Allah.” [Majmuu' Fataawa (VII/41)

Berkata Ibnu Rajab: “Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam memberikan balasan surga bagi sifat berikut ini.” [Jâmi' al-'Ulūm wal Hikam (I/304)]

Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الأَخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ

Barang siapa yang ingin diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka hendaklah ketika ajal menemuinya dia dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hendaklah dia memberi orang lain apa yang dia suka untuk diberikan kepadanya.” [HR Muslim (1844)]

Lafazh “Mâ” dalam hadits: “Mâ yuhibbu linafsihi” adalah isim maushul. Dalam disiplin ilmu ushul fiqh disebutkan bahwa isim maushul memberikan makna yang umum (universal).

Syaikh Shalih Alu Syaikh berkata: “Hadits di atas mencakup ‘aqidah, perkataan dan perbuatan, yaitu mencakup seluruh bentuk amal shalih, baik keyakinan, perkataan, maupun perbuatan… Hendaknya seorang mukmin menginginkan agar saudaranya memiliki ‘aqidah yang benar seperti ‘aqidah yang ia yakini. Sikap seperti ini hukumnya wajib. Hendaklah ia juga menginginkan agar saudaranya shalat sebagaimana ia shalat.

Sekiranya ia senang jika saudaranya tidak berada di atas petunjuk yang benar, maka ia telah berdosa, dan telah hilang darinya keimanan sempurna yang wajib. Jika ia senang bila ada saudaranya yang berada di atas ‘aqidah yang batil dan tidak sesuai dengan sunnah, yaitu ‘aqidah bid’ah, maka telah ternafikan darinya kesempurnaan iman yang wajib. Demikian pula halnya dengan seluruh peribadatan dan seluruh jenis-jenis sikap menjauhi perkara-perkara yang diharamkan. Jika ia senang bila dirinya terbebas dari praktek suap, tetapi ia senang jika ada saudaranya yang terjatuh dalam praktek suap, hingga dia merasa unggul –lebih shalih dari saudaranya tersebut-, maka telah ternafikan kesempurnaan iman yang wajib dari dirinya (dia telah berdosa). [Dalam Syarhal-Arbaîin an-Nawawiyyah, oleh Syaikh Shâlih Âlu Syaikh]

Ibnu Rajab berkata: “Hadits Anas yang sedang kita bicarakan ini menunjukkan bahwa wajib bagi seorang mukmin untuk bergembira jika ada saudaranya yang seiman gembira. Hendaklah ia menginginkan agar saudaranya mendapatkan kebaikan, sebagaimana ia juga menginginkan kebaikan. Semua ini tidak bisa terwujud kecuali dari hati yang bersih dari sifat dendam, hasad (dengki), dan curang. Sesungguhnya sifat hasad menjadikan pemiliknya benci jika ada orang lain yang mengunggulinya atau menyamainya dalam kebaikan. Sebab, ia ingin menjadi spesial dan istimewa di tengah-tengah manusia dengan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya. Tetapi konsekuensi dari iman adalah sebaliknya, yaitu ia ingin agar seluruh kaum mukminin menyamainya dalam kebaikan yang Allôh berikan kepadanya, tanpa mengurangi kebaikan dirinya sedikit pun.” [Jâmi' al-'Ulūm wal Hikam (I/306)]

Bahkan derajat yang lebih tinggi dari ini –meskipun tidak wajib- adalah seorang mukmin ingin agar kaum mukminin yang lain melebihi dia dalam kebaikan. Karena yang wajib dalam syari’at adalah ia menginginkan agar orang-orang seperti dirinya dalam kebaikan.

al-Fudhail berkata: “Jika engkau ingin manusia seperti engkau, maka engkau belum menunaikan nasehat pada Rabbmu.…”

Karena itu seorang mukmin hendaknya selalu memandang dirinya penuh dengan kekurangan, sehingga ia selalu berusaha untuk meraih keutamaan dan kebaikan untuk memperbaiki dirinya. Hal ini akan menimbulkan dalam hatinya agar kaum mukminin lebih baik dari dirinya. Ia tidak rela jika kaum mukminin seperti dirinya yang penuh kekurangan.

Muhammad bin Wâsi’ pernah berkata kepada putranya:

أَمَّا أَبُوْكَ فَلاَ كَثَّرَ اللهُ فِي الْمُسْلِمِيْنَ مِثْلَهُ

“Adapun ayahmu, maka semoga Allah tidak memperbanyak yang semisalnya di tengah kaum muslimin.” [Disarikan dari Jaami' al-'Ulum wal Hikam (I/309-310)]

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullâh berkata: “Jika ada yang mengatakan bahwa sifat ini terkadang sangat sulit dipraktekkan, yaitu engkau menghendaki bagi saudaramu apa yang kau inginkan bagi dirimu. Engkau menghendaki saudaramu menjadi seorang ‘alim, kaya, memiliki harta dan anak-anak, serta menjadi orang yang istiqâmah. Bukankah hal ini sulit dipraktekkan? Maka jawabnya, hal tersebut tidaklah sulit jika engkau melatih dan membiasakan diri. Latihlah dan biasakan dirimu, niscaya kelak akan ringan rasanya. Namun, jika engkau menuruti hawa nafsumu maka hal ini benar-benar akan sangat sulit untuk dilakukan.” [Syarh al-Arba’în an-Nawawiyyah, hal. 164

Faidah lain dari hadits ini adalah penjelasan tentang makna akhlak yang mulia. Syaikh ‘Abdurrazzâq bin ‘Abdil Muhsin al-’Abbâd –hafizhahumallôh- pernah berkata: “Banyak pendapat dalam menjelaskan definisi akhlak mulia. Namun definisi terbaik dari akhlak mulia adalah perkataan Nabi Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam:

وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْه

“Hendaknya ia memberi kepada orang lain apa yang ia suka untuk diberikan padanya.” [HR Muslim (1844)]

Praktek dari hadits ini, jika engkau ingin bermu’amalah dengan kedua orangtuamu maka bayangkan bahwa dirimu adalah orang tua. Anggaplah engkau adalah seorang ibu, apa yang kau kehendaki dari anakmu untuk bermu’amalah kepadamu (maka seperti itulah yang kau lakukan terhadap ibumu). Qiyaskanlah hal ini tatkala engkau ingin bermu’amalah dengan tetangga dan sahabatmu. Jika ada sahabatmu yang bersalah kepadamu maka apa sikapmu kepadanya? Bayangkan seandainya engkau adalah sahabatmu yang bersalah itu, maka apakah yang kau harapkan? Tentunya engkau mengharapkan untuk dimaafkan. Jika demikian maka maafkanlah sahabatmu itu.” [Faidah yang kami dapatkan guru kami, Syaikh 'Abdurrazzâq –hafizhahullâh-, tatkala menjelaskan hadits ke-18 dari al-Arbaîin an-Nawawiyyah]

Demikianlah, sangat penting bagi kita untuk selalu mengingat faidah hadits ini, tatkala bergaul dan bermu’amalah dengan siapa pun, terutama tatkala bermu’amalah dengan saudara seiman.

Apakah makna ukhuwwah yang disebutkan dalam Kitabullah dan Sunnah Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam? .

Jika dua orang berjalan di sebuah jalan yang lebar dan aman, maka keduanya bisa berjalan bersama dengan tentram. Masing-masing saling bergandengan tangan karena rasa cinta yang ada di antara mereka. Namun lihatlah, ternyata jalan yang ditempuh semakin sempit dan akhirnya tidak cukup kecuali untuk salah seorang saja diantara keduanya? Salah seorang dari mereka bergumam, “Manakah yang aku dahulukan? Diriku ataukah saudaraku?” .

Lalu lihatlah, ternyata jalannya semakin bertambah sempit, sehingga tidak mungkin dilalui kecuali untuk satu orang saja. Ia pun bergumam kembali, “Ini adalah kesempatan emas. Hanya sekali. Kalau bukan untuk diriku tentulah untuk saudaraku. Maka siapakah yang aku dahulukan? Apakah aku ambil kesempatan ini dan membiarkan saudaraku mencari jalan lain, ataukah aku berikan kesempatan ini kepadanya dan aku berusaha lagi?”.

Kondisi seperti inilah yang menjadi ajang pembuktian persahabatan sejati..

Sungguh, persahabatan dalam kondisi aman dan tentram sama sekali tidak berat dan tidak bertentangan dengan keinginan-keinginan hati. Bahkan ukhuwwah dalam kondisi ini merupakan perkara yang diinginkan oleh hati, dimana setiap orang berusaha untuk mewujudkannya dalam rangka meraih ketenangan jiwa. Namun pada saat kondisi genting atau ingin mendapatkan sesuatu yang sangat berharga, maka saat itulah teruji ukhuwwah yang sejati. Ujian inilah yang membedakan antara sikap itsar (mengutamakan orang lain) dan egoisme yang kadang tersembunyi dalam diri pemiliknya ketika kondisi aman dan tentram, sampai-sampai ia menyangka bahwa ia adalah sahabat sejati yang merealisasikan segala konsekuensi ukhuwwah. Padahal kenyataannya tidaklah demikian. [Lihat muqaddimahTahqiq Syaikh Masyhur Hasan Salman terhadap risalah dabul ‘Isyrah wa Dzikrus Shuhbah wal Ukhuwwah, hal 5-6]

Kisah Muhajirin dan Anshar

Allôh telah memuji keimanan dan sikap itsar antara kaum Anshar dan kaum Muhajirin. Allah berfirman:

﴿وَالّذيْنَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالإِيْمَانَ مِنْ قِبْلِهِمِ يُحِبُّوْنَ مِنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمِ وَلاَيَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلَى أَنْفُسِهِمِ وَلَوْ كَانَ بِهِمِ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوْقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئك هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (yaitu kaum Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (yaitu kaum Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka, dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (kaum Muhajirin) dan mereka mengutamakan (kaum Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka membutuhkan (apa yang yang mereka berikan itu). Dan barang siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Hasyr: 9)

Ibnu Katsir berkata dalam Tafsiir-nya: “Mereka (kaum Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka”, disebabkan kemurahan dan kemuliaan kaum Anshar, sehingga mereka mencintai kaum Muhajirin dan menolong mereka dengan harta mereka.“…dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (kaum Muhajirin)”, yaitu mereka tidak menemukan dalam hati mereka rasa dengki terhadap kaum Muhajirin yang telah dimuliakan oleh Allah dengan kedudukan dan kemuliaan, serta didahulukannya mereka dalam penyebutan dan kedudukan”

Kecintaan kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin bukanlah karena kaum Muhajirin telah berjasa pada kaum Anshar atau telah menolong kaum Anshar sebelumnya. Sama sekali bukan. Keimanan mereka kepada Allah-lah yang menyebabkan hal itu. Kecintaan karena Allah-lah yang telah menyatukan antara kaum Muhajirin dan Anshar. [Lihat Mawâqif Ỉmâniyyah, hal 469]

Anas bin Malik bertutur: “’Abdurrahmân bin ‘Auf datang (ke kota Madinah), maka Nabi Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam mengikat tali persaudaraan antara ia dan Sa’d bin ar-Rabi’ al-Anshari. Sa’d menawarkan kepada ‘Abdurrahmân separuh hartanya berikut istrinya. Maka ‘Aburrahman berkata: “Semoga Allah memberi berkah pada keluargamu dan hartamu.” [HR Al-Bukhari (VII/317), kitab Manâqib al-Anshâr]

Dari Ibrahim –yaitu Ibnu Sa’d bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf-, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata: “Tatkala kaum Muhajirin datang ke Madinah, Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam mengikat tali persaudaraan antara ‘Abdurrahman dan Sa’d bin ar-Rabi’. Sa’d bin ar-Rabi’ berkata kepada ‘Abdurrahman: ‘Saya adalah orang yang paling banyak hartanya di kalangan kaum Anshar, maka ambillah separuh hartaku. Saya juga memiliki dua orang istri, maka lihatlah diantara keduanya mana yang lebih kau senangi, lalu sebutlah namanya, sehingga saya menceraikannya. Allahu Akbar! Beginilah keimanan para sahabat. Betapa besar kasih sayang di antara mereka. Kalau kita bandingkan dengan kita dizaman sekarang ini, sepertinya ini hanyalah mimpi yang tidak mungkin bisa terwujudkan. Kami pernah bertemu dengan beberapa orang ikhwah dari luar negeri yang sangat kenceng sekali membantah ahli bid’ah. Bahkan saking kenceng-nya, mereka menyatakan bahwa seorang ulama besar yang ada di Saudi sebagai ahli bid'ah. Padahal beliau yang dituduh itu sampai saat ini masih duduk di al-Lajnah ad-Daa-imah lil Buhuuts wal Iftaa' (Komite Tetap untuk Urusan Riset dan Fatwa). Sayangnya, ternyata tingkah laku mereka sehari-hari dalam mu'amalah masih jauh dari manhaj Salaf. Sampai-sampai untuk masalah makanan saja mereka tidak segan-segan mengambil jatah saudaranya, sebagaimana yang pernah penulis saksikan sendiri sewaktu acara makan bersama di tempat kediaman Syaikh 'Abdul 'Aziz Alu Syaikh. Apakah manhaj Salaf hanya terkait dengan membantah ahli bid'ah, tetapi untuk mu’amalah sehari-hari dengan saudaranya manhajnya ditinggalkan?! Tentu saja hal ini tidak benar. Manhaj Salaf tidak hanya terkait dengan bagaimana men-tahdzir ahli bid'ah, tapi juga terkait dengan perilaku seorang muslim sehari-hari. Jangankan mengorbankan istri yang paling dicintai, jatah makan saudaranya saja ia ambil. Wallaahul musta’aan. -pen.]

Jika telah selesai masa ‘iddah-nya, nikahilah dia. ‘Abdurrahman berkata: ‘Semoga Allah memberikan berkah kepadamu, juga kepada keluarga dan hartamu. Dimanakah pasar kalian?’ [Beginilah jiwa para sahabat dari kaum Muhajirin. Kebaikan kaum Anshar tidaklah menjadikan mereka bergantung pada kaum Anshar. 'Abdurrahman bin ‘Auf tetap berusaha sendiri untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. -pen.]

Mereka pun menunjukinya pasarnya Bani Qainuqa’. Tidaklah ‘Abdurrahman kembali dari pasar, melainkan sambil membawa susu yang dikeringkan dan lemak (mentega). Keesokan harinya, ia pun ke pasar lagi. Begitulah yang terjadi setiap hari. Suatu ketika ia datang dan pada dirinya ada bekas (minyak wangi) warna kuning (yang biasanya dipakai oleh wanita). Maka Nabi Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam bertanya kepadanya: ‘Bagaimana kabarmu? ‘Abdurrahman menjawab: ‘Saya sudah menikah.’ Nabi Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam bertanya lagi: ‘Berapa yang kau berikan padanya (sebagai mahar)?’ Ia menjawab: ‘Lima dirham.’ Nabi Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallambersabda: ‘Buatlah walimah, meskipun hanya dengan seekor kambing.’” [HR Al-Bukhari (3780). lihat al-Fath (7/142), kitab Manâqib al-Anshar]

Seorang pria pernah mendatangi Nabi Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam. Maka Nabi pun mengutus seseorang kepada istri-istri beliau untuk bertanya tentang kondisi mereka. Kata istri-istri Nabi Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam: “Kami tidak mempunyai apa-apa kecuali air.”

Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallamlalu bertanya kepada para Sahabat: “Siapakah yang siap menjamu orang ini?”

“Saya,” jawab salah seorang dari kaum Anshar.

Maka pergilah ia bersama laki-laki tersebut ke kediamannya. Sesampainya disana, ia berkata kepada istrinya: “Muliakanlah tamu Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam ini.”

“Kita tidak memiliki apa-apa kecuali makanan untuk anak-anak kita,” jawab istrinya.

Persiapkanlah makananmu itu -yaitu yang disiapkan untuk anak-anak-, lalu nyalakanlah lampu dan tidurkanlah anak-anak kita jika mereka hendak makan malam.”

Istrinya pun mempersiapkan makanan, menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya. Setelah itu ia berdiri seakan-akan sedang memperbaiki lampu, lalu ia matikan lampu tersebut. Dalam keadaan gelap gulita, keduanya memberikan makanan kepada si tamu, lalu suami istri tersebut juga pura-pura makan. Lalu keduanya tidur dalam keadaan lapar. Keesokan harinya sahabat tadi pergi menghadap Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam. Maka berkatalah Rasūlullâh: “Allah tertawa tadi malam –atau- Allah takjub karena sikap kalian.” Lalu turunlah firman Allah:

“Dan mereka mengutamakan (kaum Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka butuh (terhadap apa yang yang mereka berikan itu). Dan barang siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya mereka itulah orang-orang yang beruntung” (al-Hasyr: 9) [HR Al-Bukhari (3798)]

Kisah Syuhada’ Perang Yarmuk

Ibnul ‘Arabi berkata: “Seusai perang Yarmuk, didapati ‘Ikrimah bin Abî Jahl, Suhail bin ‘Amr, al-Harits bin Hisyâm, dan sekelompok orang dari Bani al-Mughîrah dalam keadaan sekarat. Dibawakan air bagi mereka namun mereka semua saling mengoperkan air tersebut hingga semuannya wafat dalam keadaan tidak minum air tersebut. Ketika ‘Ikrimah dibawakan, ia melihat bahwa Suhail bin ‘Amr sedang memandangnya, maka ia berkata: “Berilah air kepadanya terlebih dahulu.” Tetapi kemudian Suhail melihat al-Harits bin Hisyam sedang memandangnya, maka ia berkata: “Berilah air kepadanya terlebih dahulu.” Mereka semua akhirnya wafat sebelum meminum air tersebut.” [Al-Muntazham (IV/123)]

Wahai saudaraku… benarlah perkataan Ibnul Jauzi, jika kita bandingkan antara persahabatan sejati di kalangan para sahabat dan as-Salafus Shalih dengan persahabatan yang ada diantara kita.

Ibnul Jauzi berkata: “Di zaman ini nilai-nilai dan hikmah dari persaudaraan (ukhuwwah) telah hilang. Yang tersisa hanyalah kisah-kisah dari as-Salafus Shalih. Karena itu, jika engkau mendengar tentang persaudaraan yang sejati (dizaman ini) maka jangan kau benarkan.” [Sebagaimana dikutip oleh Ahmad Farid dalam Mawaaqif Iimaaniyyah (hal. 443), dari kitab Ibnul Jauzi yang berjudul al-Hubb fillaah wa Huquuqul Ukhuwwah]

Seorang penyair berkata:

سَمِعْنَا بِالصَّدِيْقِ وَلاَ نَرَاهُ عَلَى التَّحْقِيْقِ يُوْجَدُ فِيْ الأَنَامِ

وَأَحْسَبُهُ مُحَالاً جَوَّزُوْهُ عَلَى وَجْهِ الْمَجَازِ مِنَ الْكَلاَمِ

Kami dengar tentang sahabat sejati tapi kami tidak melihatnya
terwujudkan secara nyata di antara manusia.
Kusangka itu adalah suatu kemustahilan yang mereka sampaikan
hanya sekedar dalam bentuk kiasan

Ibnu ‘Aun berkata: Dari ‘Umair bin Ishaq, ia berkata: “Kami menganggap bahwa yang pertama kali diangkat dari manusia adalah persahabatan.” [Tafsiir Ibnu Katsir, QS. al-Anfaal: 63.]

::: Dari Kata Pengantar Penterjemah buku ”Hak-Hak Persaudaraan Islam” karya Syaikh Shalih Abdil Aziz Alu Syaikh. Penerbit ”Media Tarbiyah”:::

Oleh : Ustâdz Firanda Ibn ‘Âbidîn as-Soronjî

Resent by Anwar Baru Belajar
Sumber: http://abusalma.wordpress.com/2008/02/03/ukhuwah-yang-terkoyak/

Sumber : hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com