Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Oktober 2014


Assalamualaikum. Semoga para pembaca Karimun senantiasa diberkati oleh Allah SWT. Oke, Langsung aja ya,


Pernah gak sih kalian-kalian semua menepati janji kepada orang lain? atau mungkin juga kalian menerima amanah dari seseorang untuk dijaga dan dilaksanakan dengan baik. Eh, sebelumnya Tema dan pembahasan nya seperti melenceng ya? eh tenang dulu judul di atas emang udah tepat tapi, pembahasan nya memang masalah ketika kita berjanji. Belum mengerti?

Begini ya, kadang kita menemukan seseorang saling berinteraksi, lalu salah satunya berjanji, kemudian di lanjutkan dengan bersumpah. pernah kan melihat atau mendengar kejadian seperti itu? mulai dari kalangan SD,SMP, dan SMA bahkan yang muda-muda pun dikalangan kerja masih sering kita dapati hal seperti itu, meskipun hanya sekedar main-main. 

Ketidak tahuan lebih tentang islam jadi faktor utama negara ini yang mayoritas di isi oleh kalangan Islam tapi tidak tau banyak tentang Islam. Dibilang ironis sih emang pasti, kadang pepatah yang tak pernah dilupa itu "Islam cuman di KTP aja" ?

Oke lanjut aja deh, saat kita berjanji kadang seseorang yang ditepati janji butuh kepastian kan kepada si pejanji itu? atau meminta jaminan kepada si pejanji agar dirinya berharap tidak ditipu oleh si pejanji itu. mulai dari hal yang biasa sampai hal yang berlebihan. Nah ini nih saya kasih beberapa contoh :
 si A lagi ulang tahun terus punya niat untuk traktir si B nonton di bioskop
 A : eh, besok pergi nonton ya di bioskop. tenang aku yang traktir kok.
 B : ah bener nih, entar bohong lagi?
 A : iya bener, janji nih.
 B : bener janji? demi apa?
 A : iya beneran, demi Allah

nih contoh paling sederhana banget meskipun banyak dilakuin oleh semua orang, dan terutama si anak-anak ini yang berkisar antara 9-17 tahun. kalau dibilang wajar memang iya, karena yang masih kecil dibilang belum tau apa-apa. tapi kalau sudah besar apalagi di masa SMA masa masih awam dengan islam? nah ini yang kadang tidak ingin dicari oleh para remaja, kalau kita lihat fakta nya di Indonesia hampir 70persen remaja di Indonesia sudah ABG (Anak Bebas Gaul) . OK-OK lanjut nih, kadang macam-macam juga yang sering disebut saat bersumpah ada yang bilang demi waktu, demi ini bahkan nama-nama lain juga disumpahkan dan lain sebagainya. nah ini yang salah, sebenarnya membawa-bawa kan nama tuhan atau sebutan lain itu dilarang dalam islam. Boleh, tapi ada aturan dan sebab-sebab tertentu nya juga.

ah masa sih? terus kalau gitu buktiin nya pakai apa, kalau dia gak mau bersumpah?
gini nih, sumpah itu memang butuh, tapi gak setiap waktu dan tempat untuk melakukan nya. jika memang perlu maka lakukan lah apalagi kalau memang kita ingin melakukan kebaikan kepada sesama pasti Allah SWT akan bantu hamba nya yang berniat melakukan kebaikan,

nah yang ini nih, gimana kalau hal sepele seperti percakapan tadi di atas? silahkan baca aja ayat al-qur'an dibawah ini,

لاَ يُؤَاخِذُكُمُ اللهُ بِاللَّغْوِ فِيْ اَيْمَانِكُمْ وَ لكِنْ يُّؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُّمُ اْلاَيْمَانَ فَكَفَّارَتُه اِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِيْنَ مِنْ اَوْسَطِ مَا تُطْعِمُوْنَ اَهْلِيْكُمْ اَوْ كِسْوَتُهُمْ اَوْ تَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ، فَمَنْ لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاَثَةِ اَيَّامٍ، ذلِكَ كَفَّارَةُ اَيْمَانِكُمْ اِذَا حَلَفْتُمْ، وَاحْفَظُوْا اَيْمَانَكُمْ، كَذلِكَ يُبَيّنُ اللهُ لَكُمْ ايتِه لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ. المائدة:89
Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya). [QS. Al-Maaidah : 89]

sudah jelas ayat di atas?
sekali lagi, sumpah itu dibolehkan, tetapi kalau hanya masalah sepele dikalangan anak-anak, para remaja sebaiknya jangan dilakukan meskipun hanya sebatas ingin pembuktian maka lakukanlah dengan sebutuh nya. cukup kita percaya kepada si pejanji tersebut, jika memang ragu dan tidak percaya akan niat dan janji nya maka jangan di ikuti. Gimana kalau sudah di ikuti karena percaya tapi di tipu juga ? ini hal yang sering terjadi juga, alangkah baik nya kita juga harus mengenal baik orang itu, meskipun kita sudah kenal lama tetap harus bersikap tenang, mengingat masa lalu tentanng si pejanji apakah pernah menepati janji nya atau tidak sangat di anjurkan pula, agar gak menimbulkan fitnah nanti nya.

terus gimana kalau dengan janji selain nama Allah SWT? seeettt,, nih saya kasih lagi satu sebagai pembuktian tapi kali ini sebuah hadist,

عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللهِ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ اْلخَطَّابِ يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنَّ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ يَنْهَاكُمْ اَنْ تَحْلِفُوْا بِآبَائِكُمْ. قَالَ عُمَرُ: فَوَ اللهِ مَا حَلَفْتُ بِهَا مُنْذُ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص نَهَى عَنْهَا، ذَاكِرًا وَ لاَ آثِرًا. مسلم 3: 1266
Dari Salim bin Abdullah, dari ayahnya dia berkata : Aku pernah mendengar Umar bin Khaththab mengatakan : Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla melarang kalian bersumpah dengan menyebut bapak-bapak kalian”. Selanjutnya Umar mengatakan, “Demi Allah, aku tidak pernah bersumpah dengan itu sejak aku mendengar Rasulullah SAW melarangnya, baik sumpah untuk diri sendiri ataupun untuk orang lain”. [HR. Muslim juz 3, hal. 1266]

Oke, jadi jelas kan? selain nama Allah SWT itu juga dilarang, hal yang terjadi jika kita mengikuti nya dengan berjanji selain Allah SWT jelas dosa adalah tanggungan nya.

Dan yang terakhir nih, gimana caranya agar kasih nasihat kepada yang belum tau? terutama yang masih anak-anak nih. OK ini beberapa saran dari kami,

  1.  Hal pertama jelas kita kembalikan kepada orang tua masing-masing yang seharusnya mengerti dan lebih paham.
  2. Jika ingin di sampaikan maka hendaklah menyampaikan nya dengan pemahaman yang mudah dimengerti : misal, katakanlah "Jangan bersumpah dengan main-main nanti dapat dosa lho." contoh yang lain "Jangan ucap sumpah, karena sumpah itu nanti akan ditanggung di akhirat".
  3. Jika ingin berjanji lalu diminta bersumpah maka sebaiknya hindari atau cukup katakan "InsyaAllah saya akan menepati nya" karena dalam islam itu sudah lebih baik.
  4. Kalau memang tidak di percaya , maka semua itu kembali ke diri masing-masing bagaimana agar kita bermanfaat bagi masyarakat sekitar, supaya ketika kita ingin melakukan sesuatu dengan terlibat kepada orang lain, orang itu sudah lebih percaya tanpa harus meminta bersumpah . Wallahu'alam.

Sabtu, 24 Mei 2014

Ada orang yang berhutang kepada kita lalu ia lupa untuk membayarnya dan kita tidak berani untuk mengingatkannya, apakah kita berdosa?

http://bahjatuzahra.files.wordpress.com/2012/04/9ada8ah_by_droob_al3a6a2-d4kmbqh.jpgPertanyaan yang berkaitan dengan hutang maka apabila ada seorang memilki tanggungan atau  berhutang kepada kita, kemudian dia lupa maka hendaknya diingatkan dan ditagih karena itu adalah hak saudara. Apabila saudara tidak mengingatkannya dan orang yang berhutang lupa maka saudara harus melakukan satu dari dua hal berikut:
1.    Mengingatkan dan menagihnya. Ini termasuk nasehat yang baik dan tulus baginya.
2.    Mengikhlaskannya dengan memaafkan hutang tersebut dan saudara mendapatkan pahala besar dari ini.
Kalau hanya mendiamkan tanpa memaafkan hutang tersebut, maka ini perbuatan yang tidak baik dan tidak menunjukkan cinta kepada sesama muslim.
Sebaiknya anda menagihnya atau kalau tidak anda memberi kelonggaran dengan memaafkan hutangnya tersebut. Wallahu a’lam.
Pertanyaan:
Apakah setan itu juga mengetahui apa-apa yang ada dalam hati kita? Atau hanya Allah subhanahu wa ta'ala saja yang mengetahuinya ?

Jawaban:
http://riopurboyo.com/wp-content/uploads/2013/04/setan-evil_eyes-1024x576.pngMemang tidak dipungkiri masih teropinikan di pikiran banyak orang bahwa syeitan mengetahui yang ghaib dan mengetahui isi hati kita. Apalagi para pendukung syeitan berusaha menyebarkan hal ini kepada semua orang dari mulai cerita dusta sampai sinetron berseri. 







Allah telah menjelaskan kepada kita semua kedustaan dan kebatilan opini tersebut, ketika mewafatkan Nabi Sulaiman 'alaihis salam. Para jin dan syeitan yang berada disekitar beliau tidak ada yang mengetahui kematian beliau hingga serangga tanah memakan tongkat beliau hingga beliau jatuh. Allah berfirman:
فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَى مَوْتِهِ إِلا دَابَّةُ الأرْضِ تَأْكُلُ مِنْسَأَتَهُ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَنْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِينِ
"Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya.Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan." (Saba`:14)
Dengan demikian jelaslah syeitan tidak mengetahui isi hati kita kecuali telah kita sampaikan atau sudah ingin kita sampaikan. Bagaimana mengetahui yang ada didalam hati? Sedangkan mereka saja tidak mengetahui kematian nabi Sulaiman 'alaihis salam.
Dengan ini jelaslah yang mengetahui ilmu ghaib adalah Allah semata.Wabillahi taufiq. 
DEFINISI KUNYAH
http://pkspedurungan.or.id/wp-content/uploads/2013/01/musafir.jpgKunyah adalah nama yang diawali dengan “Abu” atau “Ibnu” untuk laki-laki, seperti Abu Abdillah dan Ibnu Hajar. Sedangkan “Ummu” atau “Bintu” adalah untuk perempuan, seperti Ummu Aisyah dan bintu Malik.

Kunyah apabila bergabung dengan nama asli maka kunyah boleh diawalkan atau diakhirkan. Contoh Abu Hafsh Umar atau Bakr Abu Zaid. Namun yang lebih masyhur, kunyah diawalkan karena maksud dari kunyah adalah untuk menunjukkan kepada dzat bukan sebagai sifat.[2]
Kunyah secara umum merupakan suatu penghormatan dan kemuliaan.[3]Seorang peyair berkata:
أُكْنِيْهِ حِيْنَ أُنَادِيْهِ لِأُكْرِمَهُ
وَلاَ أُلَقِّبُهُ وَالسَّوْءَةُ اللَّقَبُ
Aku memanggilnya dengan kunyah sebagai penghormatan padanya
Dan saya tidak menggelarinya, karena gelar adalah jelek baginya.[4]
Namun terkadang kunyah juga bisa bermakna celaan seperti Abu Jahl, Abu Lahab dan lain sebagainya.[5]

DALIL-DALIL DISYARI’ATKANNYA KUNYAH
Hadits Pertama:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ: كَانَ النَبِيُّ - صلى الله عليه وسلم-أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا, وَكَانَ لِيْ أَخٌ يُقَالُ لَهُ أَبُوْ عُمَيْرٍ, قَالَ أَحْسَبُهُ فَطِيْمٌ, وَكَانَ إِذَا جَاءَ قَالَ: يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ نُغَيْرٌ ؟
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu ia berkata:
“Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Saya mempunyai saudara yang biasa dipanggil Abu Umair. Apabila Rosululloh shalallahu ‘alayhi wa sallam datang, beliau mengatakan, ’Wahai Abu Umair apa yang sedang dilakukan oleh Nughoir (Nughoir adalah sejenis burung)?’”[6]
Imam Bukhori rahimahulloh membuat bab hadits ini dengan ucapannya “Bab kunyah untuk anak dan orang yang belum mempunyai anak”. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahulloh berkata: “Imam Bukhori mengisyaratkan dalam bab ini untuk membantah anggapan orang yang melarang kunyah bagi yang belum mempunyai anak dengan alasan bahwa hal itu menyelisihi fakta.”[7]
Imam Ibnul Qosh asy-Syafi’i rahimahulloh berkata: “Dalam hadits ini terdapat faedah tentang bolehnya memberi kunyah kepada orang yang belum mempunyai anak.”[8]
Hadits Kedua:
عَنْ عُرْوَةَ أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ لِلنَّبِيِّ - صلى الله عليه وسلم-: يَا رَسُوْلَ اللهِ كُلُّ نِسَائِكَ لَهَا كُنْيَةٌ غَيْرِيْ, فَقَالَ لَهَا رَسُوْلُ اللهِ: إِكْتَنِيْ أَنْتِ أُمَّ عَبْدِ اللهِ, فَكَانَ يُقَالُ لَهَا أُمُّ عَبْدِ اللهِ حَتَّى مَاتَتْ وَلَمْ تَلِدْ قُطُّ
Dari Urwah bahwasanya ’Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah berkata kepada Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam: “Wahai Rosululloh shalallahu ‘alayhi wa sallam, seluruh istrimu mempunyai kunyah selain diriku.”Maka Rosululloh shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Berkunyahlah dengan Ummu Abdillah.” Setelah itu ’Aisyah radhiyallahu ‘anha selalu dipanggil dengan Ummu Abdillah[9] hingga meninggal dunia, padahal dia tidak melahirkan seorang anak pun.”[10]
Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahulloh berkata: “Hadits ini menunjukkan disyari’atkannya kunyah sekalipun belum mempunyai anak. Karena hal ini termasuk adab Islam yang menurut pengetahuan kami tidak ada dalam agama-agama lainnya. Maka hendaknya kaum muslimin menerapkan Sunnah ini baik kaum pria maupun wanita.”[11]
Hadits Ketiga:
أَنَّ عُمَرَ قَالَ لِصُهَيْبٍ مَا لَكَ تَكْتَنِى بِأَبِى يَحْيَى وَلَيْسَ لَكَ وَلَدٌ. قَالَ كَنَّانِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِأَبِى يَحْيَى.
“Umar radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan kepada Shuhaib: ‘Kenapa engkau berkunyah dengan Abu Yahya padahal kamu belum mempunyai anak?’ Maka dia menjawab: ‘Rosululloh shalallahu ‘alayhi wa sallam yang memberiku kunyah Abu Yahya.’”[12]
Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani berkata: “Dalam hadits ini terdapat faedah disyari’atkan kunyah bagi yang belum mempunyai anak, bahkan dalam shohih Bukhori dan lainnya bahwa beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam memberikan kunyah kepada putri kecil dengan Ummu Kholid.”
Sungguh disayangkan, banyak kaum muslimin yang melupakan Sunnah ini. Amat jarang sekali kita menjumpai orang yang berkunyah padahal dia mempunyai anak banyak. Apalagi lagi yang belum mempunyai anak?![13]
Syaikh Ahmad al-Banna berkata: “Hadits-hadits di atas menunjukkan bolehnya kunyah bagi anak kecil dan dewasa baik sudah mempunyai anak atau belum (dan ini bukanlah suatu kebohongan), baik lelaki atau wanita, dan bolehnya berkunyah dengan selain anaknya. Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu tidak memiliki anak yang namanya Bakr, Umar radhiyallahu ‘anhu tidak memiliki anak yang bernama Hafsh, Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu tidak memiliki anak yang bernama Dzar, dan seterusnya banyak sekali tak terhitung.
Dibolehkan pula bagi wanita untuk berkunyah dengan nama anak orang lain sekalipun ia tidak memiliki anak, sebagaimana Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam memberi kunyah ’Aisyah dengan Ummu Abdillah. Jadi, kunyah itu tidak harus memiliki anak terlebih dahulu dan tidak harus juga ia berkunyah dengan nama anaknya.
Para ulama mengatakan: “Mereka memberikan kunyah kepada anak kecil sebagai rasa optimisme bahwa dia akan hidup hingga mempunyai anak dan sebagai penghindaran diri dari gelar-gelar jelek. Oleh karenanya seorang di antara mereka mengatakan: “Cepatlah berikan kunyah untuk anak-anak kalian sebelum didahului oleh gelar.” Wallohu a’lam.”[14]

Minggu, 16 Maret 2014

1. Diperlihatkan neraka jahannam
النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا
“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang.” (Ghafir: 46)
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدَهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ، إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ فَيُقَالُ: هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Sesungguhnya apabila salah seorang di antara kalian mati maka akan ditampakkan kepadanya calon tempat tinggalnya pada waktu pagi dan sore. Bila dia termasuk calon penghuni surga, maka ditampakkan kepadanya surga. Bila dia termasuk calon penghuni neraka maka ditampakkan kepadanya neraka, dikatakan kepadanya: ‘Ini calon tempat tinggalmu, hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala membangkitkanmu pada hari kiamat’.” (Muttafaqun ‘alaih)
2. Dipukul dengan palu dari besi
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
فَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ؟ فَيَقُولُ: لَا أَدْرِي، كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ. فَيَقُولَانِ: لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ. ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَاقٍ مِنْ حَدِيدٍ بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ فَيَسْمَعُهَا مَنْ عَلَيْهَا غَيْرُ الثَّقَلَيْنِ
Adapun orang kafir atau munafik, maka kedua malaikat tersebut bertanya kepadanya: “Apa jawabanmu tentang orang ini (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam)?” Dia mengatakan: “Aku tidak tahu. Aku mengatakan apa yang dikatakan orang-orang.” Maka kedua malaikat itu mengatakan: “Engkau tidak tahu?! Engkau tidak membaca?!” Kemudian ia dipukul dengan palu dari besi, tepat di wajahnya. Dia lalu menjerit dengan jeritan yang sangat keras yang didengar seluruh penduduk bumi, kecuali dua golongan: jin dan manusia.” (Muttafaqun ‘alaih)
3. Disempitkan kuburnya, sampai tulang-tulang rusuknya saling bersilangan, dan didatangi teman yang buruk wajahnya dan busuk baunya.
Dalam hadits Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu yang panjang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang orang kafir setelah mati:
فَأَفْرِشُوهُ مِنَ النَّارِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا مِنَ النَّارِ؛ فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسُمُومِهَا وَيَضِيقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلاَعُهُ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ قَبِيحُ الثِّيَابِ مُنْتِنُ الرِّيحِ فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوؤُكَ، هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ. فَيَقُولُ: مَنْ أَنْتَ، فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ الَّذِي يَجِيءُ بِالشَّرِّ. فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ. فَيَقُولُ: رَبِّ لَا تُقِمِ السَّاعَةَ
“Gelarkanlah untuknya alas tidur dari api neraka, dan bukakanlah untuknya sebuah pintu ke neraka. Maka panas dan uap panasnya mengenainya. Lalu disempitkan kuburnya sampai tulang-tulang rusuknya berimpitan. Kemudian datanglah kepadanya seseorang yang jelek wajahnya, jelek pakaiannya, dan busuk baunya. Dia berkata: ‘Bergembiralah engkau dengan perkara yang akan menyiksamu. Inilah hari yang dahulu engkau dijanjikan dengannya (di dunia).’ Maka dia bertanya: ‘Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan kejelekan.’ Dia menjawab: ‘Aku adalah amalanmu yang jelek.’ Maka dia berkata: ‘Wahai Rabbku, jangan engkau datangkan hari kiamat’.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Al-Hakim)
4. Dirobek-robek mulutnya, dimasukkan ke dalam tanur yang dibakar, dipecah kepalanya di atas batu, ada pula yang disiksa di sungai darah, bila mau keluar dari sungai itu dilempari batu pada mulutnya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Jibril dan Mikail ‘alaihissalam sebagaimana disebutkan dalam hadits yang panjang:
فَأَخْبِرَانِي عَمَّا رَأَيْتُ. قَالَا: نَعَمْ، أَمَّا الَّذِي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ فَكَذَّابٌ يُحَدِّثُ بِالْكَذْبَةِ فَتُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ فَيُصْنَعُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ يُشْدَخُ رَأْسُهُ فَرَجُلٌ عَلَّمَهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَنَامَ عَنْهُ بِاللَّيْلِ وَلَمْ يَعْمَلْ فِيهِ بِالنَّهَارِ يُفْعَلُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي الثَّقْبِ فَهُمُ الزُّنَاةُ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي النَّهْرِ آكِلُوا الرِّبَا
“Beritahukanlah kepadaku tentang apa yang aku lihat.” Keduanya menjawab: “Ya. Adapun orang yang engkau lihat dirobek mulutnya, dia adalah pendusta. Dia berbicara dengan kedustaan lalu kedustaan itu dinukil darinya sampai tersebar luas. Maka dia disiksa dengan siksaan tersebut hingga hari kiamat. Adapun orang yang engkau lihat dipecah kepalanya, dia adalah orang yang telah Allah ajari Al-Qur’an, namun dia tidur malam (dan tidak bangun untuk shalat malam). Pada siang hari pun dia tidak mengamalkannya. Maka dia disiksa dengan siksaan itu hingga hari kiamat. Adapun yang engkau lihat orang yang disiksa dalam tanur, mereka adalah pezina. Adapun orang yang engkau lihat di sungai darah, dia adalah orang yang makan harta dari hasil riba.” (HR. Al-Bukhari no. 1386 dari Jundub bin Samurah radhiyallahu ‘anhu)
5. Dicabik-cabik ular-ular yang besar dan ganas
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَإِذَا أَنَا بِنِسَاءٍ تَنْهَشُ ثَدْيَهُنَّ الْحَيَّاتُ، فَقُلْتُ: مَا بَالُ هَؤُلَاءِ؟ فَقَالَ: اللَّوَاتِي يَمْنَعْنَ أَوْلَادَهُنَّ أَلْبَانَهُنَّ
“Tiba-tiba aku melihat para wanita yang payudara-payudara mereka dicabik-cabik ular yang ganas. Maka aku bertanya: ‘Kenapa mereka?’ Malaikat menjawab: ‘Mereka adalah para wanita yang tidak mau menyusui anak-anaknya (tanpa alasan syar’i)’.” (HR. Al-Hakim. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu dalam Al-Jami’ush Shahih berkata: “Ini hadits shahih dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu.”)
Sebab Mendapatkan Adzab Kubur
Banyak sekali hal-hal yang menyebabkan seseorang mendapatkan adzab kubur. Sampai-sampai Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu dalam kitabnya Ar-Ruh menyatakan: “Secara global, mereka diadzab karena kejahilan mereka tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak melaksanakan perintah-Nya, dan karena perbuatan mereka melanggar larangan-Nya. Maka, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengadzab ruh yang mengenal-Nya, mencintai-Nya, melaksanakan perintah-Nya, dan meninggalkan larangan-Nya. Demikian juga, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengadzab satu badan pun yang ruh tersebut memiliki ma’rifatullah (pengenalan terhadap Allah) selama-lamanya. Sesungguhnya adzab kubur dan adzab akhirat adalah akibat kemarahan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kemurkaan-Nya terhadap hamba-Nya. Maka barangsiapa yang menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala marah dan murka di dunia ini, lalu dia tidak bertaubat dan mati dalam keadaan demikian, niscaya dia akan mendapatkan adzab di alam barzakh sesuai dengan kemarahan dan kemurkaan-Nya.” (Ar-Ruh hal. 115)
Di antara sebab-sebab adzab kubur secara terperinci adalah sebagai berikut:
1. Kekafiran dan kesyirikan.
Sebagaimana adzab yang menimpa Fir’aun dan bala tentaranya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَوَقَاهُ اللهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ. النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا ءَالَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
“Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh adzab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): ‘Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras’.” (Ghafir: 45-46)
2. Kemunafikan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لَا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍ
“Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada adzab yang besar.” (At-Taubah: 101)
3. Tidak menjaga diri dari air kencing dan mengadu domba
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَرَّ النَّبِيُّ n بِقَبْرَينِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ. فَأَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً. فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، لِمَا فَعَلْتَ هَذَا؟ قَالَ: لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua kuburan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya keduanya sedang diadzab, dan tidaklah keduanya diadzab disebabkan suatu perkara yang besar (menurut kalian). Salah satunya tidak menjaga diri dari percikan air kencing, sedangkan yang lain suka mengadu domba antara manusia.” Beliau lalu mengambil sebuah pelepah kurma yang masih basah, kemudian beliau belah menjadi dua bagian dan beliau tancapkan satu bagian pada masing-masing kuburan. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal ini?” Beliau menjawab: “Mudah-mudahan diringankan adzab tersebut dari keduanya selama pelepah kurma itu belum kering.” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma)
4. Ghibah
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَمَّا عَرَجَ بِي رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمُشُونَ وُجُوهَهُمْ وَصُدُورَهُمْ، فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ لُحُومَ النَّاسِ وَيَقَعُونَ فِي أَعْرَاضِهِمْ
“Tatkala Rabbku memi’rajkanku (menaikkan ke langit), aku melewati beberapa kaum yang memiliki kuku dari tembaga, dalam keadaan mereka mencabik-cabik wajah dan dada mereka dengan kukunya. Maka aku bertanya: ‘Siapakah mereka ini wahai Jibril?’ Dia menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang memakan daging (suka mengghibah) dan menjatuhkan kehormatan manusia’.” (HR. Ahmad, dishahihkan Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 533. Hadits ini juga dicantumkan dalam Ash-Shahihul Musnad karya Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu)
Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullahu menyatakan: “Sebagian ulama menyebutkan rahasia dikhususkannya (penyebab adzab kubur) air kencing, namimah (adu domba), dan ghibah (menggunjing). Rahasianya adalah bahwa alam kubur itu adalah tahap awal alam akhirat. Di dalamnya terdapat beberapa contoh yang akan terjadi pada hari kiamat, seperti siksaan ataupun balasan yang baik. Sedangkan perbuatan maksiat yang akan disiksa karenanya ada dua macam: terkait dengan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan terkait dengan hak hamba. Hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang pertama kali akan diselesaikan pada hari kiamat adalah shalat, sedangkan yang terkait dengan hak-hak hamba adalah darah.
Adapun di alam barzakh, yang akan diputuskan adalah pintu-pintu dari kedua hak ini dan perantaranya. Maka, syarat sahnya shalat adalah bersuci dari hadats dan najis. Sedangkan pintu tumpahnya darah adalah namimah (adu domba) dan menjatuhkan kehormatan orang lain. Keduanya adalah dua jenis perkara menyakitkan yang paling ringan, maka diawali di alam barzakh dengan evaluasi serta siksaan karena keduanya.” (Ahwalul Qubur hal. 89)
5. Niyahah (meratapi jenazah)
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
إِنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ
“Sesungguhnya mayit itu akan diadzab karena ratapan keluarganya.” (Muttafaqun ‘alaih)
Dalam riwayat lain dalam Shahih Muslim:
الْمَيِّتُ يُعَذَّبُ فِي قَبْرِهِ بِمَا نِيحَ عَلَيْهِ
“Mayit itu akan diadzab di kuburnya dengan sebab ratapan atasnya.”
Jumhur ulama berpendapat, hadits ini dibawa kepada pemahaman bahwa mayit yang ditimpa adzab karena ratapan keluarganya adalah orang yang berwasiat supaya diratapi, atau dia tidak berwasiat untuk tidak diratapi padahal dia tahu bahwa kebiasaan mereka adalah meratapi orang mati. Oleh karena itu Abdullah ibnul Mubarak rahimahullahu berkata: “Apabila dia telah melarang mereka (keluarganya) meratapi ketika dia hidup, lalu mereka melakukannya setelah kematiannya, maka dia tidak akan ditimpa adzab sedikit pun.” (Umdatul Qari’, 4/78)
Adzab di sini menurut mereka maknanya adalah hukuman. (Ahkamul Jana’iz, hal. 41)
Selain sebab-sebab di atas, ada beberapa hal lain yang telah disebutkan dalam pembahasan Macam-macam Adzab Kubur.
Apakah Adzab Kubur itu Terus-Menerus?
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu berkata: “Jawaban terhadap pertanyaan ini:
1. Adzab kubur bagi orang-orang kafir terjadi terus-menerus dan tidak mungkin terputus karena mereka memang berhak menerimanya. Seandainya adzab tersebut terputus atau berhenti, maka kesempatan ini menjadi waktu istirahat bagi mereka. Padahal mereka bukanlah orang-orang yang berhak mendapatkan hal itu. Maka, mereka adalah golongan orang-orang yang terus-menerus dalam adzab kubur sampai datangnya hari kiamat, walaupun panjang masanya.
2. Orang-orang beriman yang berbuat maksiat, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengadzab mereka dengan sebab dosa-dosanya. Di antara mereka ada yang diadzab terus-menerus, ada pula yang tidak. Ada yang panjang masanya, ada pula yang tidak, tergantung dosa-dosanya serta ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, 2/123)
Amalan yang Menyelamatkan dari Adzab Kubur
Setelah memberitahukan dahsyatnya adzab kubur dan sebab-sebab yang akan menyeret ke dalamnya, baik melalui firman-Nya ataupun melalui lisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, dengan rahmat dan keutamaan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memberitahukan amalan-amalan yang akan menyelamatkan dari adzab kubur tersebut.
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Sebab-sebab yang akan menyelamatkan seseorang dari adzab kubur terbagi menjadi dua:
1. Sebab-sebab secara global
Yaitu dengan menjauhi seluruh sebab yang akan menjerumuskan ke dalam adzab kubur sebagaimana yang telah disebutkan.
Sebab yang paling bermanfaat adalah seorang hamba duduk beberapa saat sebelum tidur untuk mengevaluasi dirinya: apa yang telah dia lakukan, baik perkara yang merugikan maupun yang menguntungkan pada hari itu. Lalu dia senantiasa memperbarui taubatnya yang nasuha antara dirinya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga dia tidur dalam keadaan bertaubat dan berkemauan keras untuk tidak mengulanginya bila nanti bangun dari tidurnya. Dia lakukan itu setiap malam. Maka, apabila dia mati (ketika tidurnya itu), dia mati di atas taubat. Apabila dia bangun, dia bangun tidur dalam keadaan siap untuk beramal dengan senang hati, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menunda ajalnya hingga dia menghadap Rabbnya dan berhasil mendapatkan segala sesuatu yang terluput. Tidak ada perkara yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba daripada taubat ini. Terlebih lagi bila dia berzikir setelah itu dan melakukan sunnah-sunnah yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika dia hendak tidur sampai benar-benar tertidur. Maka, barangsiapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan berikan hidayah taufik untuk melakukan hal itu. Dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2. Sebab-sebab terperinci
Di antaranya:
- Ribath (berjaga di pos perbatasan wilayah kaum muslimin) siang dan malam.
Dari Fadhalah bin Ubaid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّ مَيِّتٍ يُخْتَمُ عَلَى عَمَلِهِ إِلَّا الَّذِي مَاتَ مُرَابِطًا فِي سَبِيلِ اللهِ فَإِنَّهُ يُنْمَى لَهُ عَمَلُهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَيَأْمَنُ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ
“Setiap orang yang mati akan diakhiri/diputus amalannya, kecuali orang yang mati dalam keadaan ribath di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amalannya akan dikembangkan sampai datang hari kiamat dan akan diselamatkan dari fitnah kubur.” (HR. At-Tirmidzi dan Abu Dawud)
- Mati syahid
Dari Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللهِ سِتُّ خِصَالٍ: يُغْفَرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دُفْعَةٍ مِنْ دَمِهِ، وَيُرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَيَأْمَنُ مِنَ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ، وَيُحَلَّى حُلَّةَ الْإِيمَانِ وَيُزَوَّجُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ، وَيُشَفَّعُ فِي سَبْعِينَ إِنْسَانًا مِنْ أَقَارِبِهِ
“Orang yang mati syahid akan mendapatkan enam keutamaan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala: diampuni dosa-dosanya dari awal tertumpahkan darahnya, akan melihat calon tempat tinggalnya di surga, akan diselamatkan dari adzab kubur, diberi keamanan dari ketakutan yang sangat besar, diberi hiasan dengan hiasan iman, dinikahkan dengan bidadari, dan akan diberi kemampuan untuk memberi syafaat kepada 70 orang kerabatnya.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah. Al-Albani berkata dalam Ahkamul Jana’iz bahwa sanadnya hasan)
- Mati pada malam Jumat atau siang harinya.
Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يـَمُوتُ يَوْمَ الْـجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ
“Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jumat atau malamnya, kecuali Allah akan melindunginya dari fitnah kubur.” (HR. Ahmad dan Al-Fasawi. Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan dalam Ahkamul Jana’iz bahwa hadits ini dengan seluruh jalur-jalurnya hasan atau shahih)
- Membaca surat Al-Mulk
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
هِيَ الْمَانِعَةُ هِيَ الْمُنْجِيَةُ تُنْجِيهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
“Dia (surat Al-Mulk) adalah penghalang, dia adalah penyelamat yang akan menyelamatkan pembacanya dari adzab kubur.” (HR. At-Tirmidzi, lihat Ash-Shahihah no. 1140) [dinukil dari Ar-Ruh dengan sedikit perubahan]
- Doa sebagaimana yang telah lalu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung dari adzab kubur dan memerintahkan umatnya untuk berlindung darinya.
Nikmat Kubur
Setelah mengetahui dan meyakini adanya adzab kubur yang demikian mengerikan dan menakutkan, berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih, juga mengetahui macam-macamnya, penyebabnya, dan hal-hal yang akan menyelamatkan darinya, maka termasuk kesuksesan yang agung adalah selamat dari berbagai adzab tersebut dan mendapatkan nikmat di dalamnya dengan rahmat-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَأَمَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُدْخِلُهُمْ رَبُّهُمْ فِي رَحْمَتِهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْمُبِينُ
“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih maka Rabb mereka memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya (surga). Itulah keberuntungan yang nyata.” (Al-Jatsiyah: 30)
قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ. مَنْ يُصْرَفْ عَنْهُ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمَهُ وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْمُبِينُ
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku takut akan adzab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Rabbku.’ Barangsiapa yang dijauhkan adzab daripadanya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata.” (Al-An’am: 15-16)
Adapun nikmat kubur, di antaranya apa yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beritakan dalam hadits Al-Bara’ radhiyallahu ‘anhu yang panjang:
- mendapatkan ampunan dan keridhaan-Nya. Sebagaimana perkataan malakul maut kepada orang yang sedang menghadapi sakaratul maut:
أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ، اخْرُجِي إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٍ
“Wahai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaan-Nya.”
- dikokohkan hatinya untuk menghadapi dan menjawab fitnah kubur.
يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (Ibrahim: 27)
- Digelarkan permadani, didandani dengan pakaian dari surga, dibukakan baginya pintu menuju surga, dilapangkan kuburnya, dan di dalamnya ditemani orang yang tampan wajahnya, bagus penampilannya, sebagaimana yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan dalam hadits Al-Bara’ yang panjang:
فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ. قَالَ: فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا وَطِيبِهَا وَيُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ. قَالَ: وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ طَيِّبُ الرِّيحِ فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ. فَيَقُولُ لَهُ: مَنْ أَنْتَ، فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ. فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ
“Maka gelarkanlah permadani dari surga, dandanilah ia dengan pakaian dari surga. Bukakanlah baginya sebuah pintu ke surga, maka sampailah kepadanya bau wangi dan keindahannya. Dilapangkan kuburnya sejauh mata memandang, kemudian datang kepadanya seorang yang tampan wajahnya, bagus pakaiannya, wangi baunya. Lalu dia berkata: ‘Berbahagialah dengan perkara yang menyenangkanmu. Ini adalah hari yang dahulu kamu dijanjikan.’ Dia pun bertanya: ‘Siapa kamu? Wajahmu adalah wajah orang yang datang membawa kebaikan.’ Dia menjawab: ‘Aku adalah amalanmu yang shalih…” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala meneguhkan hati kita di atas kalimat tauhid hingga akhir hayat kita dan menyelamatkan kita dari berbagai fitnah (ujian) dunia dan fitnah kubur, serta memasukkan kita ke dalam jannah-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Dikutip dari: www. Asysyariah.com Penulis : Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan, Judul : Alam Barzakh, Adzab Kubur yang Menakutkan atau Nikmat Kubur yang Menyenangkan

Senin, 24 Februari 2014

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib)

Para shahabat adalah orang-orang yang memiliki keimanan paling tinggi dibanding manusia lainnya. Ini terbukti ketika Perang Uhud hendak berkecamuk, mereka serta-merta menyatakan diri ingin ikut dalam perang tersebut. Tak terkecuali anak-anak yang masih di bawah umur. Namun oleh Rasulullah n mereka belum dibolehkan ikut berperang.
Setelah tidak memperoleh hasil yang berarti dengan aksinya di sekitar Madinah, akhirnya Abu Sufyan kembali ke Makkah dan berhasil mengumpulkan sekitar 3.000 pasukan, terdiri dari orang-orang Quraisy dan sekutu-sekutunya. Bahkan mereka membawa serta para wanita agar mereka terpancing untuk membela isteri-isteri mereka dan tidak melarikan diri meninggalkan para wanita tersebut.
Pasukan Quraisy mulai bergerak ke Madinah dengan sayap kanan dipimpin Khalid bin Al-Walid dan sayap kiri oleh ‘Ikrimah bin Abi Jahl.
Perang Uhud dan Mimpi Rasulullah n
Uhud adalah nama sebuah gunung di dekat kota Madinah. Sebuah gunung yang dikatakan oleh Rasulullah n:
“Ini gunung yang mencintai kami dan kamipun mencintainya.” (Shahih, HR. Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik dan Sahl bin Sa’d As-Sa’idi)
Ibnu Hajar t dalam Al-Fath (7/432) menerangkan: “Di antara sebab lain terjadinya perang Uhud adalah apa yang diceritakan oleh Ibnu Ishaq dan Musa bin ‘Uqbah serta yang lainnya, yaitu setelah orang-orang Quraisy kembali, mereka mengajak semua bangsa Arab yang dapat diajak untuk memerangi Rasulullah n dan kaum muslimin. Juga adanya sebagian kaum muslimin yang merasa menyesal tertinggal (tidak ikut) dalam peristiwa Badr lalu berharap bertemu musuh.
Rasulullah n pada malam Jum’at ketika itu bermimpi. Keesokan harinya beliau n menceritakannya kepada para shahabat.
Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan tentang mimpi itu mengatakan:
Dari Abu Musa z, saya duga dari Nabi n, beliau bersabda: “Saya lihat dalam mimpi, seperti mengayunkan pedang lalu patah di tengahnya. Ternyata itu adalah musibah yang dialami kaum mukminin pada waktu perang Uhud. Kemudian saya ayunkan lagi, lalu kembali menjadi lebih baik. Ternyata adalah kemenangan dan persatuan kaum mukminin. Dan saya lihat beberapa ekor sapi. Demi Allah, ini adalah kebaikan. Dan ternyata mereka adalah kaum mukminin (yang gugur sebagai syuhada`).”
Al-Imam Ahmad t juga menceritakan pula dalam Musnad-nya:
Dari Ibnu ‘Abbas c dia berkata: “Rasulullah n mengambil bagian rampasan pedang Dzul Fiqar pada waktu perang Badr. Dan pedang itu pula yang dilihat beliau dalam mimpi dalam peristiwa Uhud. Kata beliau: ‘Saya lihat pada pedangku Dzul Fiqar sumbing, saya takwilkan kamu kocar kacir. Saya lihat mengikuti seekor kibasy (domba jantan), saya takwilkan sebagai pasukan batalyon. Saya lihat saya di dalam baju besi yang kokoh, lalu saya takwilkan kota Madinah, dan saya lihat sapi-sapi disembelih, maka sapi-sapi itu, demi Allah adalah kebaikan, sapi itu demi Allah adalah kebaikan.’ Dan terjadilah apa yang dikatakan oleh Rasulullah n.”
Dalam riwayat lain, dari jalan Abu Zubair Al-Makki (seorang yang mudallis dan dia meriwayatkan dengan ‘an’anah), seperti ini juga, dalam riwayat itu dikatakan, bahwa Rasulullah n berkata kepada para shahabatnya:1
“Kalau kita tetap di Madinah, bila mereka masuk, kita perangi mereka.” Para shahabat berkata: “Ya Rasulullah, demi Allah. Mereka tidak pernah masuk ke kota ini di masa jahiliyah, bagaimana bisa mereka masuk di masa Islam?”
Kata ‘Affan (rawi) dalam haditsnya, Rasulullah n berkata: “Terserah kamu kalau begitu.” Dan beliau segera mengenakan perlengkapan perangnya. Orang-orang Anshar berkata: “Duhai, kami sudah berani membantah pendapat Rasulullah n!”
Lalu mereka datang menemui beliau dan berkata: “Ya Nabi Allah. Terserah anda kalau begitu.”
Beliau berkata: “Tidak pantas bagi seorang nabi jika sudah mengenakan pakaian perangnya, lalu melepasnya kembali sampai dia berperang.”
Akhirnya merekapun berangkat, mula-mula dengan 1.000 pasukan, sedangkan kaum musyrikin berjumlah 3.000 orang. Lima puluh orang di antaranya adalah pasukan panah. Namun di tengah perjalanan, Abdullah bin Ubay bin Salul berbalik pulang membawa 300 orang.
Ibnu Ishaq menceritakan bahwa di antara alasan Abdullah membelot adalah karena Rasulullah n dan para shahabatnya tidak menyetujui usulnya untuk bertahan saja di dalam kota Madinah.
Abdulla,h ayah Jabir bin Abdillah berusaha mengingatkan mereka: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah dirimu!” Mereka berkata: “Seandainya kami tahu kamu akan berperang, tentulah kami tidak akan kembali.” Abdullah kembali ke pasukan sambil mencerca mereka.
Mempersiapkan Pasukan
Beliau menyerahkan bendera kepada Mush’ab bin ‘Umair dan mengangkat ‘Abdullah bin Ummi Maktum menggantikan beliau sebagai imam shalat di Madinah. Beliaupun memilih beberapa pemuda. Siapa yang masih dianggap terlalu muda, tidak beliau bawa. Termasuk di antara mereka adalah Ibnu ‘Umar, Usamah bin Zaid, Al-Bara` bin ‘Azib, Usaid bin Zhahir, Zaid bin Arqam, Zaid bin Tsabit, ‘Arabah bin Aus dan ‘Amr bin Hazm. Adapun yang mampu, beliau gabungkan dalam pasukan, dan mereka adalah yang sudah berusia 15 tahun; di antaranya adalah Rafi’ bin Khadij dan Samurah bin Jundab. (Az-Zaad, 3/195)
Akhirnya Rasulullah n dan para shahabat meneruskan perjalanan hingga sampai di salah satu lembah di kaki gunung Uhud. Beliau jadikan Uhud berada di belakang pasukan muslimin. Dan beliau melarang mereka menyerang sampai beliau sendiri yang memerintahkannya.
Al-Imam Al-Bukhari t mengisahkan hal ini dalam Shahih-nya dari Abu Ishaq As-Sabi’i bahwa dia mendengar Al-Bara` bin ‘Azib mengatakan:
Nabi n tentukan seorang komandan bagi pasukan panah yang berjumlah lima puluh orang yang memimpin mereka yaitu Abdullah bin Jubair. Kata beliau: “Meskipun kamu lihat kami disambar burung, tetaplah kamu di markas kamu ini, sampai kamu dipanggil. Dan kalau kamu lihat kami mengalahkan dan menundukkan mereka, tetaplah kamu di sini sampai kamu dipanggil.”
Rasulullah n memerintahkan pula mereka agar menyerang kaum musyrikin dengan panah agar mereka tidak menyerbu kaum muslimin dari arah belakang. (Az-Zaad, 3/194)
Setelah pasukan berhadapan, Rasulullah n menawarkan pedangnya kepada shahabat:
Beliau berkata: “Siapa yang menerima pedang ini dariku?” Para shahabat menjulurkan tangan mereka dan berkata: “Saya, saya.” Beliau berkata pula: “Siapa yang menerimanya dengan (menunaikan) haknya?” Kata Anas (rawi): “Merekapun menarik tangan mereka.” Lalu berkatalah Simak bin Kharasyah Abu Dujanah sambil berkata: “Saya yang menerimanya dengan haknya.” Maka diapun bertempur dengan pedang itu membelah kepala-kepala kaum musyrikin. (HR. Muslim dari shahabat Anas bin Malik z)
Dalam riwayat lain, Abu Dujanah setelah menyambut pedang Rasulullah n itu, mengikat kepalanya dengan sehelai kain merah yang sudah diketahui semua orang bahwa itu berarti dia siap bertarung sampai mati. Diapun memanggul pedang beliau dan berjalan di hadapan Rasulullah n sambil berlagak. Rasulullah n melihatnya dan berkata:
“Sungguh ini adalah cara berjalan yang dibenci oleh Allah, kecuali di tempat yang seperti ini.”2
Genderang perang berbunyi. Yang pertama kali memulai dari kalangan musyrikin adalah Abu ‘Amir, namanya Abdu ‘Amr bin Shaifi, dan dijuluki rahib, tetapi oleh Rasulullah n dia dipanggil Fasiq. Pada masa jahiliyah dia termasuk tokoh Aus, setelah Islam menyebar di Madinah dia merasa sesak dan menampakkan permusuhannya terhadap Rasulullah n. Kemudian dia keluar dari Madinah dan bergabung dengan musyrikin Quraisy.
Di sana dia membangkitkan keberanian Quraisy untuk menyerang Rasulullah n. Bahkan menjanjikan bahwa apabila kaumnya melihat dia tentu mereka akan mengikuti dan taat kepadanya. Ketika mereka sudah berhadapan dengan pasukan muslimin, Abu ‘Amir memanggil kaumnya agar mengikutinya. Tapi mereka justru berkata kepadanya: “Allah tidak menyenangkan penglihatan dengan kamu, wahai orang fasiq.”
(bersambung, Insya Allah)

1 Pentahqiq Zadul Ma’ad mengatakan hadits ini dikuatkan dengan riwayat dari Ibnu ‘Abbas c yang dikeluarkan oleh Ahmad dan Al-Hakim serta dishahihkan oleh Al-Imam Adz-Dzahabi.
2 Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dalam Sirah-nya

Sumber artikel : asysyariah.com

Minggu, 23 Februari 2014

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc)
عَنْ عَائِشَةَ x أَنَّهَا قَالَتْ لِرَسُولِ اللهِ n : يَا رَسُولَ اللهِ، هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ؟ فَقَالَ: لَقَدْ لَقِيْتُ مِنْ قَوْمِكَ، وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ، إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي، فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلاَّ بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ، فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي، فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ، فَنَادَانِي فَقَالَ: إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَمَا رَدُّوا عَلَيْكَ، وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيْهِمْ. قَالَ: فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ وَسَلَّمَ عَلَيَّ، ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، إِنَّ اللهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَأَنَا مَلَكُ الْجِبَالِ، وَقَدْ بَعَثَنِي رَبُّكَ إِلَيْكَ لِتَأْمُرَنِي بِأَمْرِكِ، فَمَا شِئْتَ؟ إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمُ الْأَخْشَبَيْنِ. فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ n : بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللهَ وَحْدَهُ، لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
Aisyah x bertanya kepada Rasulullah n, “Wahai Rasulullah, pernahkah engkau mengalami hari yang lebih pedih dari hari Perang Uhud?” Rasulullah n menjawab, “Aku sering mendapatkan (gangguan) dari kaummu. Yang paling menyakitkan adalah peristiwa Hari Aqabah, saat aku mengajak Ibnu Abdi Yalil bin Abdu Kulal masuk Islam namun ia tidak menyambut ajakan yang kuinginkan. Aku pun beranjak pergi dengan hati yang sedih. Tidaklah aku tersadar melainkan setelah tiba di Qarnu Tsa’alib1. Aku tengadahkan kepalaku ke langit, tiba-tiba tampak segumpal awan menaungiku. Aku angkat kepalaku, ternyata Jibril berada di sana dan berseru kepadaku. Jibril berkata, ‘Sungguh Allah telah mendengar ucapan kaummu dan jawaban mereka terhadapmu. Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung kepadamu agar engkau memerintahnya sesuai dengan kehendakmu terhadap mereka (orang-orang kafir).’ Malaikat gunung kemudian berseru kepadaku serta mengucapkan salam, lalu berkata, ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu kepadamu. Aku adalah malaikat gunung yang telah diutus oleh Rabbmu kepadamu agar engkau memerintahkan kepadaku sesuai dengan perintahmu. (Wahai Muhammad,) apa yang engkau inginkan? Jika engkau menghendaki, aku akan menimpakan dua gunung itu kepada mereka2’.” Rasulullah n lalu menjawab, “Tidak. Aku justru berharap agar Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang akan menyembah Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun.”
Abu Dzar al-Ghifari z berkata:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ z؛ أَنَّ النَّبِيَّ n قَالَ يَوْمًا: أَتْدُرونَ أَيْنَ تَذْهَبُ هَذِهِ الشَّمْسُ؟ قَالُوا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: إِنَّ هَذِهِ الشَّمْسَ تَجْرِي حَتَّى تَنْتَهِيَ تَحْتَ الْعَرْشِ فَتَخِرُّ سَاجِدَةً، فَلَا تَزَالُ كَذَلِكَ حَتَّى يُقَالَ لَهَا: ارْتَفِعِي، ارْجِعِي مِنْ حَيْثُ جِئْتِ. فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَطْلَعِهَا، ثُمَّ تَجْرِي حَتَّى تَنْتَهِيَ إِلَى مُسْتَقَرِّهَا ذَاكَ، تَحْتَ الْعَرْشِ، فَتَخِرُّ سَاجِدَةً، وَلَا تَزَالُ كَذَلِكَ حَتَّى يُقَالَ لَهَا: ارْتَفِعِي، ارْجِعِي مِنْ حَيْثُ جِئْتِ. فَتَرْجِعُ فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَطْلَعِهَا، ثُمَّ تَجْرِي لَا يَسْتَنْكِرُ النَّاسُ مِنْهَا شَيْئًا حَتَّى تَنْتَهِيَ إِلَى مُسْتَقَرِّهَا ذَاكَ، تَحْتَ الْعَرْشِ، فَيُقَالُ لَهَا: ارْتَفِعِي، أَصْبِحِي طَالِعَةً مِنْ مَغْرِبِكَ. فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَغْرِبِهَا. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n: أَتَدْرُونَ مَتَى ذَاكُمْ؟ ذَاكَ حِيْنَ ﭳ }
Suatu hari Nabi n bersabda, “Tahukah kalian ke mana matahari pergi?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Rasulullah n bersabda, “Sesungguhnya matahari ini berjalan hingga berada di bawah ‘Arsy, lalu ia tersungkur sujud kepada Allah. Dia terus dalam keadaan sujud hingga dikatakan kepadanya, ‘Naiklah engkau, kembalilah dari mana engkau datang!’ Matahari pun kembali, sehingga di waktu pagi dia terbit lagi dari tempat terbitnya. Kemudian ia berjalan hingga berakhir pada tempat menetapnya di bawah ‘Arsy, lalu bersujud dan tetap dalam keadaan demikian, sampai dikatakan kepadanya, ‘Naiklah, kembalilah dari mana engkau datang!’ Matahari pun kembali, sehingga di waktu pagi muncul dari tempat terbitnya. Kemudian ia berjalan lagi tanpa sedikit pun manusia menyadarinya, hingga berakhir pada tempat menetapnya itu di bawah ‘Arsy, lalu dikatakan kepadanya, ‘Naiklah, dan terbitlah engkau dari barat!’ Keesokan harinya, matahari terbit dari sebelah barat. Rasulullah n melanjutkan, “Tahukah kalian, kapan itu terjadi? Itu terjadi di hari (yang difirmankan oleh Allah l):
‘Tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau ia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya’.” (al-An’am: 158)
Takhrij Hadits Aisyah x dan Abu Dzar z
Hadits Aisyah x muttafaqun ‘alaih, diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari t dalam ash-Shahih, “Kitab Bad’il Khalq” (3/1180 no. 3059), dan “Kitab at-Tauhid bab firman Allahl” no. 6954.
Diriwayatkan pula oleh al-Imam Muslim t dalam ash-Shahih, “Kitabul Jihad was Siyar” (3/1420 no. 1795).
Keduanya meriwayatkan hadits Aisyah x melalui jalan Abdullah bin Wahb bin Muslim al-Qurasyi, dari Yunus, dari Ibnu Syihab, dari Urwah bin az-Zubair, dari Aisyah x. Lafadz di atas adalah lafadz Muslim t.
Adapun hadits Abu Dzar z diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya, “Kitab Bad’il Khalqi” no. 3199, juga beliau keluarkan di beberapa tempat dalam ash-Shahih, no. 4802, 4803, 7424, 7433.
Hadits ini diriwayatkan pula oleh al-Imam Muslim dalam Shahih-nya “Kitab al-Iman” (1/138 no.159) dan lafadz di atas adalah lafadz Muslim.
At-Tirmidzi juga meriwayatkan hadits ini dalam as-Sunan, “Kitabul Fitan” no. 2186 dan “Kitab Tafsir Al-Qur’an” no. 3227. Beliau berkata, “Ini adalah hadits yang hasan sahih.”
Abu Dawud juga meriwayatkannya dalam as-Sunan “Kitab al-Huruf wal Qira’at” no. 4002 dengan kisah yang berbeda, yaitu Rasulullah n bertanya kepada Abu Dzar z di saat beliau memboncengkannya di atas keledai.
Semua meriwayatkan hadits Abu Dzar z melalui jalan Ibrahim bin Yazid bin Syarik Abu Asma’ al-Kufi, dari ayahnya Yazid bin Syarik bin Thariq at-Taimi al-Kufi, dari Abu Dzar al-Ghifari Jundub bin Junadah z.
Semua perawinya tsiqah (tepercaya sekaligus kuat hafalannya), hanya saja Ibrahim seorang mudallis3. Akan tetapi, sebagian sanad hadits menunjukkan bahwa Ibrahim mendengar langsung dari ayahnya.
Dalam sebagian riwayat Muslim, Abu Dzarzberkata,
دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ وَرُسُولُ اللهِ n جَالِسٌ، فَلَمَّا غَابَتِ الشَّمْسُ قَالَ: يَا أَبَا ذَرٍّ، هَلْ تَدْرِي أَيْنَ تَذْهَبُ هَذِهِ؟ قَالَ: قُلْتُ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: فَإِنَّهَا تَذْهَبُ فَتَسْتَأْذِنُ فِي السُّجُودِ فَيُؤْذَنْ لَهَا، وَكَأَنَّهَا قَدْ قِيلَ لَهَا: ارْجِعِيْ مِنْ حَيْثُ جِئْتِ، فَتَطْلَعُ مِنْ مَغْرِبِهَا.
Aku masuk masjid sementara Rasulullah n duduk. Ketika matahari terbenam beliau bersabda, “Wahai Abu Dzar, tahukah engkau ke manakah matahari pergi?” Aku berkata, “Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui.” Beliau n berkata, “Sesungguhnya ia pergi meminta izin untuk sujud, lalu diizinkan, seolah-olah dikatakan kepadanya, ‘Kembalilah engkau dari tempat kedatanganmu.’ Terbitlah matahari dari tempat tenggelamnya’.”
Perdebatan Seputar Hadits Abu Dzar z
Penulis Tafsir al-Manar (Muhammad Rasyid Ridha, murid Muhammad Abduh) memberikan komentar terhadap hadits Abu Dzar z tentang berjalannya matahari dan sujudnya kepada Allah l di bawah ‘Arsy dengan komentar yang menyelisihi al-haq (kebenaran). Ia mengatakan bahwa matan (teks) hadits ini membingungkan. Di samping itu, menurutnya ada kelemahan dalam sanadnya.
Ia berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim melalui jalan dari Ibrahim bin Yazid bin Syarik at-Taimi dari Abu Dzar z.”4 Meskipun Ibrahim seorang yang tsiqah sebagaimana penilaian ahlul hadits, namun ia perawi yang mudallis.
Al-Imam Ahmad (wafat 241H) berkata, “Ia tidak berjumpa dengan Abu Dzar z.”
Ad-Daruquthni (385 H) berkata, “Ia tidak mendengar dari Hafshah x tidak pula dari Aisyah x, bahkan ia tidak mendapati zaman keduanya.”
Ali bin al-Madini (234 H) berkata, “Ia tidak mendengar hadits dari Ibnu Umar c, demikian pula dari Ibnu Abbas c….”
(Dalam hadits ini, Ibrahim meriwayatkan dari Abu Dzar z, yang dikatakan oleh al-Imam Ahmad bahwa Ibrahim tidak menjumpainya. Artinya, Ibrahim meriwayatkan dengan perantara, yang boleh jadi adalah orang yang tidak tsiqah, –pen.). Lihat Tafsir al-Manar (8/211—212).
Apa Jawabnya?
Terhadap hadits Abu Dzar z tentang sujudnya matahari, demikian pula hadits Aisyah x tentang malaikat penjaga gunung dan hadits-hadits tentang urusan gaib yang semisal, bisa saja seseorang seenaknya berkomentar, “Hadits ini memang sahih sanadnya, tapi teksnya janggal. Susah bagi akal untuk mencernanya!”
Oleh sebagian kalangan, kalimat ini dianggap sah-sah saja, padahal kalimat ini sungguh merupakan ungkapan yang luar biasa berbisa. Dengan kalimat ini, hadits-hadits yang sahih diabaikan dan diingkari, walaupun disepakati kesahihannya oleh al-Bukhari dan Muslim.
Kita katakan kepada mereka, “Wahai para pemuja akal, apakah setiap hal yang tidak masuk akal berarti itu dusta dan mustahil? Kalau kaidah ini kalian terapkan dalam menyikapi hadits-hadits Rasul n, sungguh kalian akan menyimpang sejauh-jauhnya. Ingatkah kalian saat Rasulullah n kembali dari perjalanan Isra’? Tidak genap satu malam Rasulullah n telah melintasi sahara dari Makkah ke Baitul Maqdis, yang seharusnya ditempuh dua bulan perjalanan kala itu. Bahkan, Rasulullah n telah menembus tujuh lapis langit dan kembali lagi ke Makkah.
Berita besar ini disampaikan kepada penduduk Makkah sehingga terjadilah apa yang terjadi. Mereka bertepuk tangan, berjingkrak-jingkrak menertawakan berita Rasul n dan mengejeknya. Mereka anggap semua itu mustahil. Adapun Abu Bakr z justru bertambah kokoh keimanannya, tidak sedikit pun bergeser dari iman hingga beliau beroleh gelar ash-Shiddiq.
Sejenak pena berhenti menanti jawaban para pengagum akal. Apakah mereka hendak mengikuti jalan musyrikin Quraisy dalam menyikapi berita Rasul n, atau jalan Abu Bakr ash-Shiddiq dan kaum mukminin? Sepertinya terlalu lama kita menanti jawaban mereka. Semoga Allah l memberi hidayah kepada kita semua.
Menyangkut kritikan terhadap sanad al-Bukhari dan Muslim, kita katakan, “Penulis tafsir al-Manar seharusnya dengan teliti melihat kembali apa yang dibacanya, agar tidak terjatuh kepada kesalahan yang sangat fatal. Apalagi dilanjutkan dengan perkataannya, ‘Apabila hadits yang dikeluarkan al-Bukhari dan Muslim saja ada yang memiliki illat (cacat) seperti ini, bagaimana halnya dengan hadits yang tidak diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim serta penulis kitab-kitab as-Sunan?’.” (Tafsir al-Manar)
Sanad hadits Abu Dzar z yang disepakati oleh al-Bukhari dan Muslim adalah Ibrahim bin Yazid at-Taimi, dari ayahnya Yazid bin Syarik at-Taimi, dari Abu Dzar z. Sanad ini muttashil (bersambung) dengan rawi-rawi yang tsiqah. Keadaan Ibrahim sebagai seorang mudallis tidak membahayakan karena dalam sebagian sanad Muslim tampak bahwa Ibrahim mendengar dari ayahnya. Dengan demikian, tidak ada ‘illat dalam hadits Abu Dzar z seperti tuduhan penulis Tafsir al-Manar. Walhamdulillah.
Mengimani Berita-Berita Gaib dari Rasulullah n
Saudaraku, semoga Allah l merahmati Anda.
Alam semesta yang demikian besar menyimpan berjuta rahasia yang tidak mungkin disingkap oleh akal manusia. Hanya berita-berita gaib para rasul Allah l yang mampu menembus rahasia itu, tentu saja dengan wahyu dari Allah l. Allah l berfirman:
“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin.” (al-An’am: 75)
“(Dia adalah Rabb) yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu, kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya. Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (al-Jin: 26—27)
Seorang yang jujur dalam persaksian imannya niscaya selalu tunduk di hadapan sabda-sabda Rasulullah n, baik berupa berita, perintah, maupun larangan. Ia akan selalu beribadah kepada Allah l dengan tuntunan beliau n dan tidak beribadah dengan kebid’ahan. Tidak ada sedikit pun keraguan dalam sanubarinya atau rasa berat hati terhadap keputusan Rasulullah n yang sesungguhnya adalah wahyu dari Allah l yang mutlak kebenarannya.
Di hadapan hadits Aisyah dan Abu Dzar c, seseorang diuji, apakah ia beriman atau mengingkari berita-berita Rasulullah n? Seorang yang beriman tentu akan mengambil semua yang datang dari Rasulullah n.
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (al-Hasyr: 7)
Berbeda halnya dengan orang-orang yang menyimpan keraguan, berita-berita Rasulullah n akan mereka singkirkan atau sepelekan. Lebih-lebih jika kabar Rasulullah n tersebut menyelisihi hawa nafsunya, berbeda dengan kepentingannya, berseberangan dengan adat istiadatnya, atau berbeda dengan hasil penelitian dan olah pikir manusia. Di situlah akan semakin tampak siapa yang lebih mengutamakan hawa nafsunya daripada keimanan kepada Allah l dan Rasul-Nya n.
Sebelum berlarut, marilah kita kembali pada dua hadits yang mengawali pembahasan kita. Dalam hadits Aisyah x, Rasulullah n mengabarkan bahwa di antara malaikat-malaikat Allah l ada yang ditugaskan sebagai penjaga gunung. Mereka adalah makhluk Allah l yang sangat kuat. Dengan izin Allah l mereka mampu membalikkan gunung dan menimpakannya kepada siapa saja yang Allah l kehendaki. Semua itu dengan perintah Allah l dan tidak lepas dari pengaturan-Nya.
Perhatikan kedatangan malaikat gunung kepada Rasulullah n. Ia berkata kepada Rasul n bahwa Allah l memerintahkannya untuk mendengar perintah Rasulullah n. Jika beliau berkehendak, dua gunung akan dia timpakan kepada kaum musyrikin. Malaikat tersebut tidak serta-merta datang kepada Rasul n tanpa perintah Allah l, atau tiba-tiba mengangkat gunung dan menimpakannya kepada manusia yang ingkar tanpa perintah dari-Nya. Sungguh, mereka adalah makhluk yang taat dan tidak sedikit pun bermaksiat kepada Allah l.
“(Mereka malaikat-malaikat Allah) tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)
Subhanallah, gunung-gunung yang menjulang, Engkau tetapkan para penjaganya dari kalangan malaikat-malaikat-Mu yang senantiasa menanti perintah-Mu. Hadits Aisyah x menyingkap sebuah rahasia dari berjuta rahasia alam semesta.
Adapun hadits Abu Dzar al-Ghifari z mengabarkan berita gaib lain dari keajaiban alam. Beliau n mengabarkan bahwa matahari yang berada di atas kita tidaklah diam. Ia terus berjalan, menuju satu tempat di bawah Arsy untuk bersujud kepada-Nya, menanti perintah serta izin-Nya untuk terbit dan tenggelam dari tempat biasanya ia terbit dan tenggelam.
Hingga datang satu masa di akhir zaman nanti, Allah l, Rabbul ‘Alamin, tidak lagi mengizinkannya untuk terbit dari timur. Dia akan memerintahkannya terbit dari sebelah barat, tempat tenggelamnya. Itulah sebagian tanda Rabb yang dimaksud dalam firman Allah l:
Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka), kedatangan Rabbmu, atau kedatangan sebagian tanda-tanda Rabbmu. Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Rabbmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah, “Tunggulah olehmu, sesungguhnya kami pun menunggu (pula).” (al-An’am: 158)
Saat itulah, tidak akan bermanfaat iman seseorang yang baru beriman. Demikian pula, seorang yang baru bertaubat tidak diterima taubatnya, sebagaimana ditunjukkan dalam sabda Rasulullah n :
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ باِللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُع الشَمْسَ مِنْ مَغْرِبِهَا
“Sesungguhnya Allah k membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk memberikan ampunan bagi mereka yang berdosa di siang hari dan Dia membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk mengampuni mereka yang berdosa di malam hari, hingga terbit matahari dari tempat tenggelamnya.”5
Hadits Abu Dzarztegas menunjukkan batilnya perkataan bahwa matahari diam tidak berjalan. Teori manusia mengatakan matahari sebagai pusat tata surya itu diam, hanya berputar pada porosnya. Kekuatan daya tarik gravitasi yang dimilikinya mampu menarik sekian banyak planet termasuk bumi untuk mengitari dirinya. Adapun ia sendiri diam, tidak berjalan.
Saudaraku, anggapan bahwa matahari diam, tidak berjalan, dan hanya perputar pada porosnya, adalah teori manusia. Adapun seorang mukmin akan berkata sesuai dengan firman Allah l dan sabda Rasul-Nya n bahwa matahari berjalan menuju tempat di bawah ‘Arsy. Ia tidak diam di tempatnya, sebagaimana hal ini tampak dari pertanyaan Rasulullah n kepada para sahabatnya:
أَتَدْرُونَ أَيْنَ تَذْهَبُ هَذِهِ الشَّمْسُ؟
“Tahukah kalian, ke mana matahari ini pergi?”
Wahai Rabb kami, itu berita Rasul-Mu. Kami beriman dan tidak ada sedikit pun keraguan di hati kami.
“Wahai Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan, dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan-Mu).” (Ali Imran: 53)
Gunung, Matahari, dan Seluruh Alam di Bawah Kekuasaan serta Pengaturan Allah l
Matahari berjalan secara teratur dengan perintah Allah l. Dia berfirman:
“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.” (Yasin: 38)
Gunung-gunung yang kokoh juga berada dalam perintah dan pengawasan Allah l. Allah l menetapkan para penjaga dari kalangan malaikat-Nya untuk menjalankan semua ketetapan dan perintah tersebut.
Demikian pula lautan serta segala apa yang di langit dan di bumi, mereka semua adalah makhluk Allah l yang berada di bawah pengawasan dan pengaturan-Nya.
“Allah lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya, supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya, dan mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.” (al-Jatsiyah: 12—13)
Bumi tempat kita berpijak dan langit yang mengatapi kita, keduanya taat dan tunduk kepada Allah l. Dia berfirman:
Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat hari. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih berupa asap, lalu Dia berkata kepada langit dan kepada bumi, “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab, “Kami datang dengan suka hati.” (Fushshilat: 10—11)
Gemuruhnya guntur juga tidak lepas dari perintah Allah l.
أَقْبَلَتْ يَهُودٌ عَلَى النَّبِيِّ n فَقَالُوا: يَا أَبَا الْقَاسِمِ، أَخْبِرْنَا عَنِ الرَّعْدِ مَا هُوَ؟ قَالَ: مَلَكٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُوَكَّلٌ بِالسَّحَابِ، مَعَهُ مَخَارِيقُ مِنْ نَارٍ يَسُوقُ بِهَا السَّحَابَ حَيْثُ شَاءَ اللهُ. فَقَالُوا: فَمَا هَذَا الصَّوْتُ الَّذِي نَسْمَعُ؟ قَالَ: زَجْرَةٌ بِالسَّحَابِ إِذَا زَجَرَهُ حَتَّى يَنْتَهِيَ إِلَى حَيْثُ أَمَرَ
Sekelompok Yahudi datang kepada Nabi n, mereka bertanya, “Wahai Abul Qasim, kabarkan kepada kami tentang guntur, apa itu?” Nabi berkata, “Ada salah satu malaikat Allah l yang diberi tanggung jawab atas awan. Ia membawa cemeti dari api yang dengannya ia menggiring awan ke arah yang dikehendaki oleh Allah.” Yahudi berkata, “Suara yang kita dengar, apakah itu?” Nabi berkata, “Itu hardikan malaikat saat menggiring awan menuju tempat yang Dia perintahkan.” (al-Hadits)6
Musibah Bukan Sekadar Fenomena Alam
Belum lepas dari ingatan kita berbagai musibah yang menimpa manusia di negeri ini: gempa bumi, tsunami, dan letusan berikut awan panas “wedus gembel” Merapi.
Hal yang tidak boleh lepas dari sanubari adalah keyakinan bahwa musibah itu tidak terjadi begitu saja tanpa perintah Allah l. Merapi tidak serta-merta meletus tanpa perintah. Lempengan bumi pun tidak begitu saja bergerak tanpa kehendak Sang Pencipta. Demikian pula, air laut tidak begitu saja meluap menenggelamkan manusia tanpa perintah Allah, Rabbul ‘Alamin.
Alam semesta adalah makhluk Allah l yang diatur dan diperintah. Allah l yang memerintahkan air bah menenggelamkan kaum Nuh q. Dia pula yang memerintahkan malaikat membalik bumi tempat kaum Luth tinggal. Dia juga yang memerintahkan Laut Merah memusnahkan Fir’aun beserta bala tentaranya. Inilah hakikat yang tidak boleh terlupakan dalam akidah seorang muslim.
Hendaknya manusia juga menyadari bahwa kerusakan tersebut sesungguhnya buah dari kezaliman manusia. Allah l tidak zalim. Akan tetapi, manusialah yang menzalimi diri-diri mereka. Allah l menimpakan semua itu agar manusia menyadari bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah l yang lemah. Hamba yang harus segera kembali kepada Allah l, bertaubat dari dosa dan kesalahannya. Demikian juga, agar mereka mengerti bahwa hanya Allah l lah, Dzat yang berhak diibadahi.
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (ar-Rum: 41)
Sejenak kita buka sejarah kaum Nuh q. Saat Allah l menghendaki kebinasaan atas kaum durhaka, tidak ada satu pun usaha yang bermanfaat walaupun seseorang pergi ke atas gunung yang tinggi.
Dan Nuh berkata, “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.” Sesungguhnya Rabbku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedangkan anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” Anaknya menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menjagaku dari air bah!” Nuh berkata, “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah, selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya. Jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (Hud: 41—43)
Dialah yang Berhak Diibadahi
Jika alam semesta ini di bawah pengaturan Allah l, semua tunduk kepada Allah l, lantas pantaskah sesuatu selain Allah l yang diibadahi? Tentu jawabannya tidak.
Dalam ayat-ayat Al-Qur’an, manusia sering diingatkan bahwa Allah l adalah satu-satunya Dzat yang mengatur alam semesta, menciptakan, dan memberi rezeki, agar mereka menyadari bahwa hanya Allah l sajalah yang berhak untuk diibadahi. Tidak pantas manusia menyekutukan Allah l dengan para makhluk-Nya ketika beribadah. Allah l berfirman:
“Wahai manusia, sembahlah Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (al-Baqarah: 21—22)
Dalam Al-Qur’an, Allah l sering menampakkan kebatilan peribadatan kepada selain Allah l dengan mengingatkan manusia bahwa sesembahan selain Allah l adalah makhluk yang diatur, bukan yang mengatur; makhluk yang diciptakan dan tidak menciptakan. Makhluk yang demikian lemah dan fakir, apakah pantas diibadahi?
Katakanlah, “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai ilah/sesembahan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu andil pun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.” (Saba’: 22)
Saat bencana menimpa, seharusnya manusia segera kembali kepada Allah l, bertobat kepada-Nya, dan mentauhidkan-Nya, tidak justru semakin bergantung kepada selain Allah l. Dengan ketakwaan, Allah l akan menjadikan sebuah negeri sebagai negeri yang diberkahi oleh Allah l. Jangan seperti negeri-negeri yang ingkar, yang membanggakan kecerdasan otaknya untuk menghadapi musibah. Alam bukan di tangan manusia tetapi di tangan Allah l. Dialah yang memerintah, Dia pula yang memutuskan.
Belum lepas dari ingatan kita gempa bumi yang menimpa Kota Kobe (Jepang) di tahun 90-an. Tidak ada yang memungkiri kemajuan Jepang dalam teknologi. Mata dunia terbelalak dengan kehebatan Jepang dalam teknologi. Kobe sejatinya sudah dipersiapkan sebagai kota antigempa. Semua konstruksi bangunan disiapkan dengan canggih untuk menghadapi gempa hingga lebih dari 8 Skala Richter (8 SR). Tetapi itu hanya angan manusia belaka. Di hadapan kekuasaan Allah l, tidak satu makhluk pun yang bisa menengadahkan kepalanya untuk sombong dan berbangga. Gempa dengan skala “hanya” lima koma sekian SR merayapi Kota Kobe. Dalam hitungan detik, tidak ada satu bangunan pun selamat. Gedung pencakar langit, jembatan layang, dan seluruh bangunan yang ada harus luluh lantak tertelan gempa.
“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah selain orang-orang yang merugi.” (al-A’raf: 96—99)
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari akibat perbuatan jelek diri kami!
Amin, ya Rabbal ‘Alamin.

Catatan Kaki:
1 Qarnu ats-Tsa’alib adalah Qarnu al-Manazil, miqat bagi penduduk Najd untuk melakukan ibadah haji atau umrah. Jaraknya sekitar 94 km dari Makkah, saat ini dikenal dengan nama as-Sailul Kabir.
2 Dua gunung yang dimaksud adalah gunung Abu Qubais dan gunung yang di hadapannya.
3 Mudallis adalah orang yang menampakkan hadits yang terputus sanadnya seakan-akan bersambung.
4 Sanad yang benar adalah Ibrahim bin Yazid, dari ayahnya yakni Yazid, dari Abu Dzar al-Ghifari z.
5 HR. Muslim “Kitabut Taubah” bab “Qabulut Taubati minadz Dzunub wa in Takarrarat adz-Dzunub wat Taubah (Bab Diterimanya Taubat Walaupun Dosa dan Taubatnya Terulang)” (4/2113 no. 2759) dari sahabat Abu Musa al-Asy’ari z.
6 HR. at-Tirmidzi (4/257 no. 5121) dari Abdullah bin Abbas c. At-Tirmidzi berkata, “Hadits hasan sahih gharib.” Diriwayatkan pula oleh al-Imam Ahmad dalam al-Musnad (1/274). Asy-Syaikh Ahmad Syakir t dalam tahqiq beliau mengatakan, “Sanad hadits ini sahih.” Asy-Syaikh al-Albani t mengatakan tentang hadits ini, “Paling rendahnya, hadits ini berderajat hasan.” Lihat takhrijnya dalam ash-Shahihah (4/491–493).

Sumber artikel :  asysyariah.com