(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc)
عَنْ عَائِشَةَ x أَنَّهَا قَالَتْ لِرَسُولِ اللهِ n : يَا رَسُولَ
اللهِ، هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ؟
فَقَالَ: لَقَدْ لَقِيْتُ مِنْ قَوْمِكَ، وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ
مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ، إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ
يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ
فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي، فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلاَّ
بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ، فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ
أَظَلَّتْنِي، فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ، فَنَادَانِي فَقَالَ:
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَمَا
رَدُّوا عَلَيْكَ، وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ
بِمَا شِئْتَ فِيْهِمْ. قَالَ: فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ وَسَلَّمَ
عَلَيَّ، ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، إِنَّ اللهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ
قَوْمِكَ لَكَ وَأَنَا مَلَكُ الْجِبَالِ، وَقَدْ بَعَثَنِي رَبُّكَ
إِلَيْكَ لِتَأْمُرَنِي بِأَمْرِكِ، فَمَا شِئْتَ؟ إِنْ شِئْتَ أَنْ
أُطْبِقَ عَلَيْهِمُ الْأَخْشَبَيْنِ. فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ n : بَلْ
أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللهَ
وَحْدَهُ، لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
Aisyah x bertanya kepada Rasulullah n, “Wahai Rasulullah, pernahkah
engkau mengalami hari yang lebih pedih dari hari Perang Uhud?”
Rasulullah n menjawab, “Aku sering mendapatkan (gangguan) dari kaummu.
Yang paling menyakitkan adalah peristiwa Hari Aqabah, saat aku mengajak
Ibnu Abdi Yalil bin Abdu Kulal masuk Islam namun ia tidak menyambut
ajakan yang kuinginkan. Aku pun beranjak pergi dengan hati yang sedih.
Tidaklah aku tersadar melainkan setelah tiba di Qarnu Tsa’alib1. Aku
tengadahkan kepalaku ke langit, tiba-tiba tampak segumpal awan
menaungiku. Aku angkat kepalaku, ternyata Jibril berada di sana dan
berseru kepadaku. Jibril berkata, ‘Sungguh Allah telah mendengar ucapan
kaummu dan jawaban mereka terhadapmu. Allah telah mengutus malaikat
penjaga gunung kepadamu agar engkau memerintahnya sesuai dengan
kehendakmu terhadap mereka (orang-orang kafir).’ Malaikat gunung
kemudian berseru kepadaku serta mengucapkan salam, lalu berkata, ‘Wahai
Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu kepadamu. Aku
adalah malaikat gunung yang telah diutus oleh Rabbmu kepadamu agar
engkau memerintahkan kepadaku sesuai dengan perintahmu. (Wahai
Muhammad,) apa yang engkau inginkan? Jika engkau menghendaki, aku akan
menimpakan dua gunung itu kepada mereka2’.” Rasulullah n lalu menjawab,
“Tidak. Aku justru berharap agar Allah mengeluarkan dari keturunan
mereka orang-orang yang akan menyembah Allah saja dan tidak
menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun.”
Abu Dzar al-Ghifari z berkata:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ z؛ أَنَّ النَّبِيَّ n قَالَ يَوْمًا: أَتْدُرونَ أَيْنَ
تَذْهَبُ هَذِهِ الشَّمْسُ؟ قَالُوا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ:
إِنَّ هَذِهِ الشَّمْسَ تَجْرِي حَتَّى تَنْتَهِيَ تَحْتَ الْعَرْشِ
فَتَخِرُّ سَاجِدَةً، فَلَا تَزَالُ كَذَلِكَ حَتَّى يُقَالَ لَهَا:
ارْتَفِعِي، ارْجِعِي مِنْ حَيْثُ جِئْتِ. فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ
مَطْلَعِهَا، ثُمَّ تَجْرِي حَتَّى تَنْتَهِيَ إِلَى مُسْتَقَرِّهَا ذَاكَ،
تَحْتَ الْعَرْشِ، فَتَخِرُّ سَاجِدَةً، وَلَا تَزَالُ كَذَلِكَ حَتَّى
يُقَالَ لَهَا: ارْتَفِعِي، ارْجِعِي مِنْ حَيْثُ جِئْتِ. فَتَرْجِعُ
فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَطْلَعِهَا، ثُمَّ تَجْرِي لَا يَسْتَنْكِرُ
النَّاسُ مِنْهَا شَيْئًا حَتَّى تَنْتَهِيَ إِلَى مُسْتَقَرِّهَا ذَاكَ،
تَحْتَ الْعَرْشِ، فَيُقَالُ لَهَا: ارْتَفِعِي، أَصْبِحِي طَالِعَةً مِنْ
مَغْرِبِكَ. فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَغْرِبِهَا. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ
n: أَتَدْرُونَ مَتَى ذَاكُمْ؟ ذَاكَ حِيْنَ ﭳ }
Suatu hari Nabi n bersabda, “Tahukah kalian ke mana matahari pergi?”
Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Rasulullah n
bersabda, “Sesungguhnya matahari ini berjalan hingga berada di bawah
‘Arsy, lalu ia tersungkur sujud kepada Allah. Dia terus dalam keadaan
sujud hingga dikatakan kepadanya, ‘Naiklah engkau, kembalilah dari mana
engkau datang!’ Matahari pun kembali, sehingga di waktu pagi dia terbit
lagi dari tempat terbitnya. Kemudian ia berjalan hingga berakhir pada
tempat menetapnya di bawah ‘Arsy, lalu bersujud dan tetap dalam keadaan
demikian, sampai dikatakan kepadanya, ‘Naiklah, kembalilah dari mana
engkau datang!’ Matahari pun kembali, sehingga di waktu pagi muncul dari
tempat terbitnya. Kemudian ia berjalan lagi tanpa sedikit pun manusia
menyadarinya, hingga berakhir pada tempat menetapnya itu di bawah ‘Arsy,
lalu dikatakan kepadanya, ‘Naiklah, dan terbitlah engkau dari barat!’
Keesokan harinya, matahari terbit dari sebelah barat. Rasulullah n
melanjutkan, “Tahukah kalian, kapan itu terjadi? Itu terjadi di hari
(yang difirmankan oleh Allah l):
‘Tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum
beriman sebelum itu, atau ia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa
imannya’.” (al-An’am: 158)
Takhrij Hadits Aisyah x dan Abu Dzar z
Hadits Aisyah x muttafaqun ‘alaih, diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari t
dalam ash-Shahih, “Kitab Bad’il Khalq” (3/1180 no. 3059), dan “Kitab
at-Tauhid bab firman Allahl” no. 6954.
Diriwayatkan pula oleh al-Imam Muslim t dalam ash-Shahih, “Kitabul Jihad was Siyar” (3/1420 no. 1795).
Keduanya meriwayatkan hadits Aisyah x melalui jalan Abdullah bin Wahb
bin Muslim al-Qurasyi, dari Yunus, dari Ibnu Syihab, dari Urwah bin
az-Zubair, dari Aisyah x. Lafadz di atas adalah lafadz Muslim t.
Adapun hadits Abu Dzar z diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya,
“Kitab Bad’il Khalqi” no. 3199, juga beliau keluarkan di beberapa tempat
dalam ash-Shahih, no. 4802, 4803, 7424, 7433.
Hadits ini diriwayatkan pula oleh al-Imam Muslim dalam Shahih-nya “Kitab
al-Iman” (1/138 no.159) dan lafadz di atas adalah lafadz Muslim.
At-Tirmidzi juga meriwayatkan hadits ini dalam as-Sunan, “Kitabul Fitan”
no. 2186 dan “Kitab Tafsir Al-Qur’an” no. 3227. Beliau berkata, “Ini
adalah hadits yang hasan sahih.”
Abu Dawud juga meriwayatkannya dalam as-Sunan “Kitab al-Huruf wal
Qira’at” no. 4002 dengan kisah yang berbeda, yaitu Rasulullah n bertanya
kepada Abu Dzar z di saat beliau memboncengkannya di atas keledai.
Semua meriwayatkan hadits Abu Dzar z melalui jalan Ibrahim bin Yazid bin
Syarik Abu Asma’ al-Kufi, dari ayahnya Yazid bin Syarik bin Thariq
at-Taimi al-Kufi, dari Abu Dzar al-Ghifari Jundub bin Junadah z.
Semua perawinya tsiqah (tepercaya sekaligus kuat hafalannya), hanya saja
Ibrahim seorang mudallis3. Akan tetapi, sebagian sanad hadits
menunjukkan bahwa Ibrahim mendengar langsung dari ayahnya.
Dalam sebagian riwayat Muslim, Abu Dzarzberkata,
دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ وَرُسُولُ اللهِ n جَالِسٌ، فَلَمَّا غَابَتِ
الشَّمْسُ قَالَ: يَا أَبَا ذَرٍّ، هَلْ تَدْرِي أَيْنَ تَذْهَبُ هَذِهِ؟
قَالَ: قُلْتُ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: فَإِنَّهَا تَذْهَبُ
فَتَسْتَأْذِنُ فِي السُّجُودِ فَيُؤْذَنْ لَهَا، وَكَأَنَّهَا قَدْ قِيلَ
لَهَا: ارْجِعِيْ مِنْ حَيْثُ جِئْتِ، فَتَطْلَعُ مِنْ مَغْرِبِهَا.
Aku masuk masjid sementara Rasulullah n duduk. Ketika matahari terbenam
beliau bersabda, “Wahai Abu Dzar, tahukah engkau ke manakah matahari
pergi?” Aku berkata, “Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui.” Beliau n
berkata, “Sesungguhnya ia pergi meminta izin untuk sujud, lalu
diizinkan, seolah-olah dikatakan kepadanya, ‘Kembalilah engkau dari
tempat kedatanganmu.’ Terbitlah matahari dari tempat tenggelamnya’.”
Perdebatan Seputar Hadits Abu Dzar z
Penulis Tafsir al-Manar (Muhammad Rasyid Ridha, murid Muhammad Abduh)
memberikan komentar terhadap hadits Abu Dzar z tentang berjalannya
matahari dan sujudnya kepada Allah l di bawah ‘Arsy dengan komentar yang
menyelisihi al-haq (kebenaran). Ia mengatakan bahwa matan (teks) hadits
ini membingungkan. Di samping itu, menurutnya ada kelemahan dalam
sanadnya.
Ia berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim melalui
jalan dari Ibrahim bin Yazid bin Syarik at-Taimi dari Abu Dzar z.”4
Meskipun Ibrahim seorang yang tsiqah sebagaimana penilaian ahlul hadits,
namun ia perawi yang mudallis.
Al-Imam Ahmad (wafat 241H) berkata, “Ia tidak berjumpa dengan Abu Dzar z.”
Ad-Daruquthni (385 H) berkata, “Ia tidak mendengar dari Hafshah x tidak
pula dari Aisyah x, bahkan ia tidak mendapati zaman keduanya.”
Ali bin al-Madini (234 H) berkata, “Ia tidak mendengar hadits dari Ibnu Umar c, demikian pula dari Ibnu Abbas c….”
(Dalam hadits ini, Ibrahim meriwayatkan dari Abu Dzar z, yang dikatakan
oleh al-Imam Ahmad bahwa Ibrahim tidak menjumpainya. Artinya, Ibrahim
meriwayatkan dengan perantara, yang boleh jadi adalah orang yang tidak
tsiqah, –pen.). Lihat Tafsir al-Manar (8/211—212).
Apa Jawabnya?
Terhadap hadits Abu Dzar z tentang sujudnya matahari, demikian pula
hadits Aisyah x tentang malaikat penjaga gunung dan hadits-hadits
tentang urusan gaib yang semisal, bisa saja seseorang seenaknya
berkomentar, “Hadits ini memang sahih sanadnya, tapi teksnya janggal.
Susah bagi akal untuk mencernanya!”
Oleh sebagian kalangan, kalimat ini dianggap sah-sah saja, padahal
kalimat ini sungguh merupakan ungkapan yang luar biasa berbisa. Dengan
kalimat ini, hadits-hadits yang sahih diabaikan dan diingkari, walaupun
disepakati kesahihannya oleh al-Bukhari dan Muslim.
Kita katakan kepada mereka, “Wahai para pemuja akal, apakah setiap hal
yang tidak masuk akal berarti itu dusta dan mustahil? Kalau kaidah ini
kalian terapkan dalam menyikapi hadits-hadits Rasul n, sungguh kalian
akan menyimpang sejauh-jauhnya. Ingatkah kalian saat Rasulullah n
kembali dari perjalanan Isra’? Tidak genap satu malam Rasulullah n telah
melintasi sahara dari Makkah ke Baitul Maqdis, yang seharusnya ditempuh
dua bulan perjalanan kala itu. Bahkan, Rasulullah n telah menembus
tujuh lapis langit dan kembali lagi ke Makkah.
Berita besar ini disampaikan kepada penduduk Makkah sehingga terjadilah
apa yang terjadi. Mereka bertepuk tangan, berjingkrak-jingkrak
menertawakan berita Rasul n dan mengejeknya. Mereka anggap semua itu
mustahil. Adapun Abu Bakr z justru bertambah kokoh keimanannya, tidak
sedikit pun bergeser dari iman hingga beliau beroleh gelar ash-Shiddiq.
Sejenak pena berhenti menanti jawaban para pengagum akal. Apakah mereka
hendak mengikuti jalan musyrikin Quraisy dalam menyikapi berita Rasul n,
atau jalan Abu Bakr ash-Shiddiq dan kaum mukminin? Sepertinya terlalu
lama kita menanti jawaban mereka. Semoga Allah l memberi hidayah kepada
kita semua.
Menyangkut kritikan terhadap sanad al-Bukhari dan Muslim, kita katakan,
“Penulis tafsir al-Manar seharusnya dengan teliti melihat kembali apa
yang dibacanya, agar tidak terjatuh kepada kesalahan yang sangat fatal.
Apalagi dilanjutkan dengan perkataannya, ‘Apabila hadits yang
dikeluarkan al-Bukhari dan Muslim saja ada yang memiliki illat (cacat)
seperti ini, bagaimana halnya dengan hadits yang tidak diriwayatkan oleh
al-Bukhari dan Muslim serta penulis kitab-kitab as-Sunan?’.” (Tafsir
al-Manar)
Sanad hadits Abu Dzar z yang disepakati oleh al-Bukhari dan Muslim
adalah Ibrahim bin Yazid at-Taimi, dari ayahnya Yazid bin Syarik
at-Taimi, dari Abu Dzar z. Sanad ini muttashil (bersambung) dengan
rawi-rawi yang tsiqah. Keadaan Ibrahim sebagai seorang mudallis tidak
membahayakan karena dalam sebagian sanad Muslim tampak bahwa Ibrahim
mendengar dari ayahnya. Dengan demikian, tidak ada ‘illat dalam hadits
Abu Dzar z seperti tuduhan penulis Tafsir al-Manar. Walhamdulillah.
Mengimani Berita-Berita Gaib dari Rasulullah n
Saudaraku, semoga Allah l merahmati Anda.
Alam semesta yang demikian besar menyimpan berjuta rahasia yang tidak
mungkin disingkap oleh akal manusia. Hanya berita-berita gaib para rasul
Allah l yang mampu menembus rahasia itu, tentu saja dengan wahyu dari
Allah l. Allah l berfirman:
“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan
(Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya)
agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin.” (al-An’am: 75)
“(Dia adalah Rabb) yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak
memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu, kecuali kepada
rasul yang diridhai-Nya. Maka sesungguhnya Dia mengadakan
penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (al-Jin: 26—27)
Seorang yang jujur dalam persaksian imannya niscaya selalu tunduk di
hadapan sabda-sabda Rasulullah n, baik berupa berita, perintah, maupun
larangan. Ia akan selalu beribadah kepada Allah l dengan tuntunan beliau
n dan tidak beribadah dengan kebid’ahan. Tidak ada sedikit pun keraguan
dalam sanubarinya atau rasa berat hati terhadap keputusan Rasulullah n
yang sesungguhnya adalah wahyu dari Allah l yang mutlak kebenarannya.
Di hadapan hadits Aisyah dan Abu Dzar c, seseorang diuji, apakah ia
beriman atau mengingkari berita-berita Rasulullah n? Seorang yang
beriman tentu akan mengambil semua yang datang dari Rasulullah n.
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, terimalah, dan apa yang dilarangnya
bagimu maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya
Allah sangat keras hukuman-Nya.” (al-Hasyr: 7)
Berbeda halnya dengan orang-orang yang menyimpan keraguan, berita-berita
Rasulullah n akan mereka singkirkan atau sepelekan. Lebih-lebih jika
kabar Rasulullah n tersebut menyelisihi hawa nafsunya, berbeda dengan
kepentingannya, berseberangan dengan adat istiadatnya, atau berbeda
dengan hasil penelitian dan olah pikir manusia. Di situlah akan semakin
tampak siapa yang lebih mengutamakan hawa nafsunya daripada keimanan
kepada Allah l dan Rasul-Nya n.
Sebelum berlarut, marilah kita kembali pada dua hadits yang mengawali
pembahasan kita. Dalam hadits Aisyah x, Rasulullah n mengabarkan bahwa
di antara malaikat-malaikat Allah l ada yang ditugaskan sebagai penjaga
gunung. Mereka adalah makhluk Allah l yang sangat kuat. Dengan izin
Allah l mereka mampu membalikkan gunung dan menimpakannya kepada siapa
saja yang Allah l kehendaki. Semua itu dengan perintah Allah l dan tidak
lepas dari pengaturan-Nya.
Perhatikan kedatangan malaikat gunung kepada Rasulullah n. Ia berkata
kepada Rasul n bahwa Allah l memerintahkannya untuk mendengar perintah
Rasulullah n. Jika beliau berkehendak, dua gunung akan dia timpakan
kepada kaum musyrikin. Malaikat tersebut tidak serta-merta datang kepada
Rasul n tanpa perintah Allah l, atau tiba-tiba mengangkat gunung dan
menimpakannya kepada manusia yang ingkar tanpa perintah dari-Nya.
Sungguh, mereka adalah makhluk yang taat dan tidak sedikit pun
bermaksiat kepada Allah l.
“(Mereka malaikat-malaikat Allah) tidak mendurhakai Allah terhadap apa
yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)
Subhanallah, gunung-gunung yang menjulang, Engkau tetapkan para
penjaganya dari kalangan malaikat-malaikat-Mu yang senantiasa menanti
perintah-Mu. Hadits Aisyah x menyingkap sebuah rahasia dari berjuta
rahasia alam semesta.
Adapun hadits Abu Dzar al-Ghifari z mengabarkan berita gaib lain dari
keajaiban alam. Beliau n mengabarkan bahwa matahari yang berada di atas
kita tidaklah diam. Ia terus berjalan, menuju satu tempat di bawah Arsy
untuk bersujud kepada-Nya, menanti perintah serta izin-Nya untuk terbit
dan tenggelam dari tempat biasanya ia terbit dan tenggelam.
Hingga datang satu masa di akhir zaman nanti, Allah l, Rabbul ‘Alamin,
tidak lagi mengizinkannya untuk terbit dari timur. Dia akan
memerintahkannya terbit dari sebelah barat, tempat tenggelamnya. Itulah
sebagian tanda Rabb yang dimaksud dalam firman Allah l:
Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada
mereka (untuk mencabut nyawa mereka), kedatangan Rabbmu, atau kedatangan
sebagian tanda-tanda Rabbmu. Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda
Rabbmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri
yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan
dalam masa imannya. Katakanlah, “Tunggulah olehmu, sesungguhnya kami pun
menunggu (pula).” (al-An’am: 158)
Saat itulah, tidak akan bermanfaat iman seseorang yang baru beriman.
Demikian pula, seorang yang baru bertaubat tidak diterima taubatnya,
sebagaimana ditunjukkan dalam sabda Rasulullah n :
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ باِللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ
النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ،
حَتَّى تَطْلُع الشَمْسَ مِنْ مَغْرِبِهَا
“Sesungguhnya Allah k membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk
memberikan ampunan bagi mereka yang berdosa di siang hari dan Dia
membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk mengampuni mereka yang
berdosa di malam hari, hingga terbit matahari dari tempat
tenggelamnya.”5
Hadits Abu Dzarztegas menunjukkan batilnya perkataan bahwa matahari diam
tidak berjalan. Teori manusia mengatakan matahari sebagai pusat tata
surya itu diam, hanya berputar pada porosnya. Kekuatan daya tarik
gravitasi yang dimilikinya mampu menarik sekian banyak planet termasuk
bumi untuk mengitari dirinya. Adapun ia sendiri diam, tidak berjalan.
Saudaraku, anggapan bahwa matahari diam, tidak berjalan, dan hanya
perputar pada porosnya, adalah teori manusia. Adapun seorang mukmin akan
berkata sesuai dengan firman Allah l dan sabda Rasul-Nya n bahwa
matahari berjalan menuju tempat di bawah ‘Arsy. Ia tidak diam di
tempatnya, sebagaimana hal ini tampak dari pertanyaan Rasulullah n
kepada para sahabatnya:
أَتَدْرُونَ أَيْنَ تَذْهَبُ هَذِهِ الشَّمْسُ؟
“Tahukah kalian, ke mana matahari ini pergi?”
Wahai Rabb kami, itu berita Rasul-Mu. Kami beriman dan tidak ada sedikit pun keraguan di hati kami.
“Wahai Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau
turunkan, dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke
dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan-Mu).”
(Ali Imran: 53)
Gunung, Matahari, dan Seluruh Alam di Bawah Kekuasaan serta Pengaturan Allah l
Matahari berjalan secara teratur dengan perintah Allah l. Dia berfirman:
“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.” (Yasin: 38)
Gunung-gunung yang kokoh juga berada dalam perintah dan pengawasan Allah
l. Allah l menetapkan para penjaga dari kalangan malaikat-Nya untuk
menjalankan semua ketetapan dan perintah tersebut.
Demikian pula lautan serta segala apa yang di langit dan di bumi, mereka
semua adalah makhluk Allah l yang berada di bawah pengawasan dan
pengaturan-Nya.
“Allah lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat
berlayar padanya dengan seizin-Nya, supaya kamu dapat mencari sebagian
karunia-Nya, dan mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan Dia menundukkan
untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya,
(sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang
berpikir.” (al-Jatsiyah: 12—13)
Bumi tempat kita berpijak dan langit yang mengatapi kita, keduanya taat dan tunduk kepada Allah l. Dia berfirman:
Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia
memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan
(penghuni)nya dalam empat hari. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi
orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu
masih berupa asap, lalu Dia berkata kepada langit dan kepada bumi,
“Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau
terpaksa.” Keduanya menjawab, “Kami datang dengan suka hati.”
(Fushshilat: 10—11)
Gemuruhnya guntur juga tidak lepas dari perintah Allah l.
أَقْبَلَتْ يَهُودٌ عَلَى النَّبِيِّ n فَقَالُوا: يَا أَبَا الْقَاسِمِ،
أَخْبِرْنَا عَنِ الرَّعْدِ مَا هُوَ؟ قَالَ: مَلَكٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ
مُوَكَّلٌ بِالسَّحَابِ، مَعَهُ مَخَارِيقُ مِنْ نَارٍ يَسُوقُ بِهَا
السَّحَابَ حَيْثُ شَاءَ اللهُ. فَقَالُوا: فَمَا هَذَا الصَّوْتُ الَّذِي
نَسْمَعُ؟ قَالَ: زَجْرَةٌ بِالسَّحَابِ إِذَا زَجَرَهُ حَتَّى يَنْتَهِيَ
إِلَى حَيْثُ أَمَرَ
Sekelompok Yahudi datang kepada Nabi n, mereka bertanya, “Wahai Abul
Qasim, kabarkan kepada kami tentang guntur, apa itu?” Nabi berkata, “Ada
salah satu malaikat Allah l yang diberi tanggung jawab atas awan. Ia
membawa cemeti dari api yang dengannya ia menggiring awan ke arah yang
dikehendaki oleh Allah.” Yahudi berkata, “Suara yang kita dengar, apakah
itu?” Nabi berkata, “Itu hardikan malaikat saat menggiring awan menuju
tempat yang Dia perintahkan.” (al-Hadits)6
Musibah Bukan Sekadar Fenomena Alam
Belum lepas dari ingatan kita berbagai musibah yang menimpa manusia di
negeri ini: gempa bumi, tsunami, dan letusan berikut awan panas “wedus
gembel” Merapi.
Hal yang tidak boleh lepas dari sanubari adalah keyakinan bahwa musibah
itu tidak terjadi begitu saja tanpa perintah Allah l. Merapi tidak
serta-merta meletus tanpa perintah. Lempengan bumi pun tidak begitu saja
bergerak tanpa kehendak Sang Pencipta. Demikian pula, air laut tidak
begitu saja meluap menenggelamkan manusia tanpa perintah Allah, Rabbul
‘Alamin.
Alam semesta adalah makhluk Allah l yang diatur dan diperintah. Allah l
yang memerintahkan air bah menenggelamkan kaum Nuh q. Dia pula yang
memerintahkan malaikat membalik bumi tempat kaum Luth tinggal. Dia juga
yang memerintahkan Laut Merah memusnahkan Fir’aun beserta bala
tentaranya. Inilah hakikat yang tidak boleh terlupakan dalam akidah
seorang muslim.
Hendaknya manusia juga menyadari bahwa kerusakan tersebut sesungguhnya
buah dari kezaliman manusia. Allah l tidak zalim. Akan tetapi,
manusialah yang menzalimi diri-diri mereka. Allah l menimpakan semua itu
agar manusia menyadari bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah l yang
lemah. Hamba yang harus segera kembali kepada Allah l, bertaubat dari
dosa dan kesalahannya. Demikian juga, agar mereka mengerti bahwa hanya
Allah l lah, Dzat yang berhak diibadahi.
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan
manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat)
perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (ar-Rum:
41)
Sejenak kita buka sejarah kaum Nuh q. Saat Allah l menghendaki
kebinasaan atas kaum durhaka, tidak ada satu pun usaha yang bermanfaat
walaupun seseorang pergi ke atas gunung yang tinggi.
Dan Nuh berkata, “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama
Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.” Sesungguhnya Rabbku
benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahtera itu berlayar
membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil
anaknya sedangkan anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, “Hai
anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada
bersama orang-orang yang kafir.” Anaknya menjawab, “Aku akan mencari
perlindungan ke gunung yang dapat menjagaku dari air bah!” Nuh berkata,
“Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah, selain Allah (saja)
Yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya.
Jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (Hud: 41—43)
Dialah yang Berhak Diibadahi
Jika alam semesta ini di bawah pengaturan Allah l, semua tunduk kepada
Allah l, lantas pantaskah sesuatu selain Allah l yang diibadahi? Tentu
jawabannya tidak.
Dalam ayat-ayat Al-Qur’an, manusia sering diingatkan bahwa Allah l
adalah satu-satunya Dzat yang mengatur alam semesta, menciptakan, dan
memberi rezeki, agar mereka menyadari bahwa hanya Allah l sajalah yang
berhak untuk diibadahi. Tidak pantas manusia menyekutukan Allah l dengan
para makhluk-Nya ketika beribadah. Allah l berfirman:
“Wahai manusia, sembahlah Rabbmu yang telah menciptakanmu dan
orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan
bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan
air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala
buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan
sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (al-Baqarah: 21—22)
Dalam Al-Qur’an, Allah l sering menampakkan kebatilan peribadatan kepada
selain Allah l dengan mengingatkan manusia bahwa sesembahan selain
Allah l adalah makhluk yang diatur, bukan yang mengatur; makhluk yang
diciptakan dan tidak menciptakan. Makhluk yang demikian lemah dan fakir,
apakah pantas diibadahi?
Katakanlah, “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai ilah/sesembahan)
selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrah pun di
langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu andil pun dalam
(penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka
yang menjadi pembantu bagi-Nya.” (Saba’: 22)
Saat bencana menimpa, seharusnya manusia segera kembali kepada Allah l,
bertobat kepada-Nya, dan mentauhidkan-Nya, tidak justru semakin
bergantung kepada selain Allah l. Dengan ketakwaan, Allah l akan
menjadikan sebuah negeri sebagai negeri yang diberkahi oleh Allah l.
Jangan seperti negeri-negeri yang ingkar, yang membanggakan kecerdasan
otaknya untuk menghadapi musibah. Alam bukan di tangan manusia tetapi di
tangan Allah l. Dialah yang memerintah, Dia pula yang memutuskan.
Belum lepas dari ingatan kita gempa bumi yang menimpa Kota Kobe (Jepang)
di tahun 90-an. Tidak ada yang memungkiri kemajuan Jepang dalam
teknologi. Mata dunia terbelalak dengan kehebatan Jepang dalam
teknologi. Kobe sejatinya sudah dipersiapkan sebagai kota antigempa.
Semua konstruksi bangunan disiapkan dengan canggih untuk menghadapi
gempa hingga lebih dari 8 Skala Richter (8 SR). Tetapi itu hanya angan
manusia belaka. Di hadapan kekuasaan Allah l, tidak satu makhluk pun
yang bisa menengadahkan kepalanya untuk sombong dan berbangga. Gempa
dengan skala “hanya” lima koma sekian SR merayapi Kota Kobe. Dalam
hitungan detik, tidak ada satu bangunan pun selamat. Gedung pencakar
langit, jembatan layang, dan seluruh bangunan yang ada harus luluh
lantak tertelan gempa.
“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah
Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi
mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka
disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa
aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu
mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman
dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari
sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka
merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang
merasa aman dari azab Allah selain orang-orang yang merugi.” (al-A’raf:
96—99)
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari akibat perbuatan jelek diri kami!
Amin, ya Rabbal ‘Alamin.
Catatan Kaki:
1 Qarnu ats-Tsa’alib adalah Qarnu al-Manazil, miqat bagi penduduk
Najd untuk melakukan ibadah haji atau umrah. Jaraknya sekitar 94 km dari
Makkah, saat ini dikenal dengan nama as-Sailul Kabir.
2 Dua gunung yang dimaksud adalah gunung Abu Qubais dan gunung yang di hadapannya.
3 Mudallis adalah orang yang menampakkan hadits yang terputus sanadnya seakan-akan bersambung.
4 Sanad yang benar adalah Ibrahim bin Yazid, dari ayahnya yakni Yazid, dari Abu Dzar al-Ghifari z.
5 HR. Muslim “Kitabut Taubah” bab “Qabulut Taubati minadz Dzunub wa
in Takarrarat adz-Dzunub wat Taubah (Bab Diterimanya Taubat Walaupun
Dosa dan Taubatnya Terulang)” (4/2113 no. 2759) dari sahabat Abu Musa
al-Asy’ari z.
6 HR. at-Tirmidzi (4/257 no. 5121) dari Abdullah bin Abbas c.
At-Tirmidzi berkata, “Hadits hasan sahih gharib.” Diriwayatkan pula oleh
al-Imam Ahmad dalam al-Musnad (1/274). Asy-Syaikh Ahmad Syakir t dalam
tahqiq beliau mengatakan, “Sanad hadits ini sahih.” Asy-Syaikh al-Albani
t mengatakan tentang hadits ini, “Paling rendahnya, hadits ini
berderajat hasan.” Lihat takhrijnya dalam ash-Shahihah (4/491–493).
Sumber artikel :
asysyariah.com